Cerita Empat Anggota Polri Gugur Saat Bertugas
Empat hari terakhir menjadi masa penuh duka bagi Polri.
Empat hari terakhir menjadi masa penuh duka bagi Polri. Tiga anggota Satresnarkoba Polres Katingan gugur dalam operasi pemberantasan narkotika di Kalimantan Tengah.
Jasad Aiptu Sumaryanto ditemukan pada Minggu (5/7). Penemuan Aiptu Sumaryanto sekaligus mengakhiri pencarian personel terakhir yang hilang sejak operasi penindakan narkotika di Desa Tumbang Kalemei, Kabupaten Katingan, pada 2 Juli lalu.
Tim gabungan mulai menyusuri aliran Sungai Katingan sejak pukul 06.00 WIB, Minggu. Tiga perahu karet dan delapan kapal ces kecil dikerahkan untuk menyisir sungai, hutan di bantaran, hingga kawasan Pasar Desa Samba, Kecamatan Katingan Tengah.
Sekitar pukul 08.42 WIB, tim menerima informasi dari Babinsa Rantau Asem, Kopda Imam, mengenai penemuan sesosok mayat di Sungai Desa Rantau Asem, sekitar empat kilometer dari lokasi operasi di Desa Tumbang Kalemei. Tim segera bergerak ke lokasi.
Tak lama kemudian, identitas jenazah dipastikan sebagai Aiptu Sumaryanto, anggota Satresnarkoba Polres Katingan yang sebelumnya dinyatakan hilang.
"Pukul 09.45 WIB, mayat tersebut dikirimkan dengan ambulans ke RS Bhayangkara Palangkaraya," kata Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol. Eko Hadi Santoso dalam keterangannya, Minggu (5/7).
Dengan ditemukannya Aiptu Sumaryanto, jumlah anggota Polri yang gugur dalam operasi penindakan narkotika di Kabupaten Katingan bertambah menjadi tiga orang.
Peristiwa bermula dari operasi penindakan narkotika di Desa Tumbang Kalemei yang dilakukan untuk menindaklanjuti laporan masyarakat mengenai dugaan peredaran sabu. Hasil penyelidikan mengarah kepada seorang target operasi berinisial BIO yang merupakan residivis kasus narkotika.
Sebanyak 12 personel diterjunkan pada Rabu malam, 1 Juli 2026. Setibanya di lokasi, mereka dibagi menjadi dua tim. Satu tim melakukan penindakan di rumah target, sedangkan tim lainnya bersiaga sebagai unsur pendukung.
Target operasi berhasil diamankan. Namun situasi berubah ketika sejumlah orang di dalam rumah bersama warga sekitar melakukan perlawanan menggunakan parang.
"Massa kemudian bertambah dan melakukan penyerangan menggunakan senjata tajam serta senjata api rakitan," ujar Eko.
Dalam situasi yang semakin tidak terkendali, para personel berusaha menyelamatkan diri sambil menunggu bantuan. Sejumlah anggota berenang menyeberangi sungai dan berlindung di kawasan hutan.
Serangan tersebut menewaskan Aipda Yudhie Perdana Putra akibat luka senjata tajam. Sementara Aiptu Sumaryanto dan Bripda Nopandri Ramadhana dinyatakan hilang.
Pencarian terhadap kedua anggota berlangsung selama beberapa hari. Tim gabungan yang terdiri atas personel Polda Kalimantan Tengah, Polairud, Kodim 1019/Katingan, Basarnas, serta masyarakat menyisir aliran sungai dan kawasan hutan.
Bripda Nopandri Ramadhana ditemukan lebih dahulu pada Sabtu (4/7) sekitar pukul 15.55 WIB di DAS Katingan, seberang Desa Tumbang Lahang, Kecamatan Katingan Tengah.
Kapolres Katingan AKBP Dodik Hartono mengatakan Briptu Rangga dan Bripda Ryan menemukan korban dalam kondisi kaku, terapung, dan tersangkut di ranting kayu. Jenazah kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk diautopsi.
Sehari kemudian, pencarian kembali membuahkan hasil dengan ditemukannya Aiptu Sumaryanto di Sungai Desa Rantau Asem. Brigjen Pol. Eko Hadi Santoso menyampaikan belasungkawa kepada keluarga ketiga anggota yang gugur.
"Kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga almarhum. Semoga para almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan serta kekuatan," ujarnya.
Eko menegaskan peristiwa tersebut menjadi perhatian serius Bareskrim Polri. Tim gabungan masih terus melakukan penyelidikan sekaligus memburu para pelaku yang diduga terlibat dalam penyerangan terhadap anggota Polri.
"Kami tidak akan berhenti sampai seluruh pelaku berhasil diamankan dan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku," katanya.
Polisi Meninggal di Tol
Di saat proses pencarian anggota di Kalimantan Tengah masih berlangsung, kabar duka kembali datang dari Jakarta.
Personel Satuan Patroli Jalan Raya Ditlantas Polda Metro Jaya, Aipda Endang Karyana SH, meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan saat menjalankan tugas di ruas Tol Joglo arah Pondok Pinang.
Kasat PJR Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Reiki Indra Brata Manggala mengatakan peristiwa itu terjadi pada Jumat, 3 Juli 2026, sekitar pukul 10.50 WIB. Saat itu, Aipda Endang sedang membantu pengemudi light truck yang mengalami gangguan di tengah perjalanan.
Tiba-tiba sebuah kendaraan Isuzu Wing Box yang melaju dari arah Tangerang menabrak bagian belakang light truck hingga kendaraan tersebut terdorong dan menghantam Aipda Endang.
Korban mengalami luka berat, terutama pada kaki kanan, dan segera dievakuasi ke RS Polri Kramat Jati untuk menjalani perawatan. Namun upaya medis tidak berhasil menyelamatkan nyawanya.
Pada Minggu, 5 Juli 2026, pukul 15.11 WIB, tim medis RS Polri Kramat Jati menyatakan Aipda Endang Karyana meninggal dunia.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un telah meninggal dunia personel Sat PJR Ditlantas Polda Metro Jaya. Identitas almarhum Endang Karyana, BanitInduk 4 Sat PJR Ditlantas Polda Metro Jaya," kata Kasat PJR Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Reiki Indra Brata Manggala dalam keterangannya, Minggu (5/7/2026).
Jenazahnya kemudian dimakamkan di TPU Kampung Cicageur, Desa Padasuka, Cibatu, Garut. Artinya, dalam rentang empat hari, empat anggota Polri gugur ketika menjalankan tugas di lokasi yang berbeda.