Bupati Situbondo Harap Napak Tilas NU Jadi Ruang Rekonsiliasi dan Penguatan Persaudaraan
Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo berharap momentum Napak Tilas NU menjadi ajang penting untuk rekonsiliasi dan memperkuat persaudaraan di internal Nahdlatul Ulama.
Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo turut serta dalam kegiatan Napak Tilas sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama (NU). Acara ini diharapkan menjadi ruang rekonsiliasi serta penguatan persaudaraan di internal organisasi Islam terbesar tersebut.
Rangkaian napak tilas ini dimulai dari Kabupaten Bangkalan, Madura, hingga berakhir di makam Sunan Ampel, Surabaya, pada Minggu (4/1). Bupati Rio menjadi salah satu peserta aktif dalam perjalanan spiritual tersebut.
Kegiatan ini bertujuan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah dan spiritual, sekaligus meneladani perjuangan para ulama pendiri NU. Ini merupakan upaya merawat ingatan kolektif umat.
Seruan Bupati Situbondo untuk Rekonsiliasi Internal NU
Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, menyerukan agar seluruh tokoh NU kembali ke khittah dan menjaga NU sebagai rumah besar umat Islam ahlussunnah wal jamaah. Seruan ini disampaikan di tengah rangkaian Napak Tilas NU.
Menurut Bupati Rio, napak tilas ini adalah momen krusial untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur dan perjuangan para pendiri NU. Ini juga menjadi sarana memperkuat persatuan di antara warga Nahdliyin.
"Kami mengajak seluruh tokoh NU untuk kembali ke khittah dan menjaga NU sebagai rumah besar umat Islam ahlussunnah wal jamaah," kata Bupati Rio di Situbondo, Minggu.
Keterkaitan Historis Situbondo dan Kesiapan Menjadi Tuan Rumah Muktamar
Situbondo memiliki keterkaitan historis yang kuat dengan Nahdlatul Ulama, dengan peran ulama Situbondo sebagai bagian penting dari mata rantai sejarah NU Nusantara. Hal ini disampaikan oleh Bupati Rio dalam pernyataannya.
Bupati Rio juga menyatakan kesiapan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Situbondo untuk menjadi tuan rumah Muktamar ke-35 NU pada tahun 2026 apabila dipercaya. Situbondo berharap dapat kembali dipercaya setelah pengalaman tahun 1984.
"Tentu saya bergembira jika Muktamar NU dilaksanakan di Situbondo, dan kami sangat siap. Pengalaman sejarah tahun 1984 menunjukkan Situbondo pernah menjadi bagian dari dinamika besar NU, mudah-mudahan kali ini Situbondo kembali dipercaya," ujar Bupati Rio.
Rute Napak Tilas NU dan Makna Spiritualnya
Napak Tilas NU ini diinisiasi oleh KHR Ahmad Azaim Ibrahimy, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo, yang juga merupakan cucu pahlawan nasional KHR As'ad Syamsul Arifin. Perjalanan ini memiliki makna mendalam.
Rute napak tilas diawali dengan ziarah ke makam Syaikhona Kholil di Bangkalan, Madura, dilanjutkan ke makam Sunan Ampel di Surabaya. Kemudian, perjalanan spiritual ini berlanjut ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.
Bupati Rio menegaskan bahwa napak tilas ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan juga perjalanan batin untuk merawat ingatan kolektif umat. Tujuannya adalah memperkuat persatuan dan meneladani keikhlasan para muassis NU.
Sumber: AntaraNews