Bukan Hanya Gizi! BBPOM Makassar Edukasi 30 UMKM Pentingnya Keamanan Pangan untuk Program MBG
BBPOM Makassar gencar sosialisasikan **keamanan pangan UMKM** penyuplai program Makan Bergizi Gratis. Tahukah Anda, kesalahan kecil bisa picu keracunan pangan?
Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Makassar aktif menyelenggarakan sosialisasi keamanan pangan. Kegiatan ini ditujukan khusus bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Sulawesi Selatan. Mereka adalah penyuplai utama program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Sosialisasi penting ini berlangsung di Makassar pada Minggu, 19 Oktober. Inisiatif tersebut merupakan bentuk dukungan BBPOM Makassar dalam memperluas keterlibatan UMKM. Tujuannya adalah memastikan bahan pangan yang disalurkan aman dan bermutu tinggi.
Kepala BBPOM Makassar, Yosef Dwi Irwan Prakasa Setiawan, menyatakan bahwa program MBG tidak hanya meningkatkan gizi anak. Lebih dari itu, program ini juga berpotensi menggerakkan roda ekonomi kerakyatan di daerah.
Peran Penting Keamanan Pangan dalam Program Gizi Nasional
Sebanyak 30 UMKM, baik penyuplai eksisting maupun calon penyuplai dapur SPPG, menjadi peserta sosialisasi ini. Mereka mendapatkan pemahaman mendalam tentang standar keamanan pangan UMKM. Selain itu, dibahas pula program strategis pemerintah dalam pemenuhan gizi anak.
Yosef Dwi Irwan Prakasa Setiawan menekankan bahwa program MBG memerlukan dukungan suplai bahan baku pangan yang aman dan bermutu. Oleh karena itu, penting bagi para pelaku usaha untuk memahami secara menyeluruh aspek keamanan pangan. Pemahaman ini krusial demi keberhasilan program.
"Program baik ini tentunya harus didukung dengan suplai bahan baku pangan yang aman dan bermutu," ujar Yosef Dwi. "Oleh karenanya penting bagi pelaku supplier (penyuplai) dapur SPPG memahami tentang keamanan pangan." Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi edukasi tersebut.
Menjaga Keamanan Pangan dari Hulu hingga Hilir
Keamanan pangan UMKM tidak dapat dibangun hanya pada satu tahapan saja. Menurut BBPOM Makassar, aspek ini harus dijaga secara konsisten dari hulu hingga hilir. Proses ini mencakup seluruh rantai pasok pangan.
Penjagaan kualitas dimulai dari pemilihan bahan baku yang tepat. Kemudian, dilanjutkan dengan memastikan lingkungan produksi yang higienis. Peralatan yang digunakan juga harus bersih dan steril.
Selain itu, penjamah pangan atau pekerja yang menangani makanan harus memiliki standar kebersihan tinggi. Proses produksi juga perlu mengikuti prosedur yang benar. Semua tahapan ini penting hingga pangan tersebut siap dikonsumsi.
Yosef Dwi menambahkan bahwa ketidaksesuaian pada salah satu tahapan dapat berdampak serius. Hal ini berpotensi menjadi pemicu keracunan pangan. Oleh karena itu, setiap detail dalam proses produksi makanan harus diperhatikan secara cermat.
Mengenali dan Mencegah Cemaran Pangan Berbahaya
Mantan Kepala BBPOM Mataram, Yosef Dwi, menjelaskan bahwa bahan baku pangan harus bebas dari tiga jenis cemaran. Ketiga cemaran tersebut adalah fisik, kimia, dan mikrobiologi. Pemahaman ini esensial untuk menjaga keamanan pangan UMKM.
Cemaran fisik meliputi benda asing seperti rambut, serpihan kerikil, staples, atau serpihan serangga. Kehadiran benda-benda ini dapat membahayakan konsumen. Oleh karena itu, proses produksi harus sangat teliti.
Cemaran kimia bisa berasal dari zat yang sengaja ditambahkan atau yang secara alamiah ada pada pangan. Contoh zat yang sengaja ditambahkan dan berbahaya adalah Formalin, Boraks, Rhodamin B, dan Metahnyl Yellow. Sementara itu, cemaran alami meliputi sianida pada singkong, asam jengkolat pada jengkol, tetrodotoksin pada ikan buntal, dan histamin pada ikan atau udang.
Terakhir, cemaran mikrobiologi seringkali disebabkan oleh penerapan higiene dan sanitasi yang tidak memadai. Mikroba patogen seperti E. coli, Salmonella, dan Bacillus Cereus dapat ditemukan. Pencegahan cemaran ini sangat bergantung pada praktik kebersihan yang ketat di seluruh rantai produksi.
Sumber: AntaraNews