BMKG Ingatkan Waspada Cuaca Ekstrem Sulawesi Utara di 10 Wilayah Hingga Besok
BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem Sulawesi Utara di 10 kabupaten/kota hingga besok. Masyarakat diimbau waspada potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan melanda sepuluh wilayah kabupaten/kota di Sulawesi Utara (Sulut) hingga besok, Jumat, 29 Mei 2026. Peringatan ini disampaikan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap dampak yang mungkin timbul. Fenomena cuaca ini berpotensi menyebabkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, disertai kilat/petir, serta angin kencang di beberapa area terdampak.
Kepala Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi Manado, Dhira Utama, menjelaskan bahwa kondisi dinamika atmosfer menunjukkan adanya Madden-Julian Oscillation (MJO) yang aktif secara spasial. Selain itu, gelombang Rossby Ekuatorial dan gelombang Kelvin juga terdeteksi di wilayah Sulawesi Utara. Faktor-faktor ini secara signifikan meningkatkan aktivitas konvektif di atmosfer, didukung oleh suhu muka laut yang hangat di sekitar perairan Sulut.
Lebih lanjut, BMKG juga memantau keberadaan bibit siklon tropis Jangmi yang saat ini terpantau di Samudera Pasifik, tepatnya di sebelah timur Filipina. Kondisi ini berkontribusi pada pembentukan daerah konvergensi dan belokan angin di wilayah Sulawesi Utara yang berfungsi sebagai area berkumpulnya uap air. Akibatnya, terjadi penumpukan uap air yang mendukung pertumbuhan awan hujan, terutama pada malam hari, sehingga memicu peningkatan curah hujan secara signifikan.
Penyebab Utama Peningkatan Cuaca Ekstrem di Sulawesi Utara
Peningkatan aktivitas cuaca ekstrem di Sulawesi Utara dipengaruhi oleh beberapa faktor atmosfer yang saling terkait dan mendukung. Salah satunya adalah Madden-Julian Oscillation (MJO) yang menunjukkan aktivitas spasial yang tinggi di kawasan tersebut. MJO merupakan pergerakan awan dan curah hujan ke arah timur di sepanjang wilayah tropis, yang dapat memicu peningkatan curah hujan saat melintasi suatu area.
Selain MJO, keberadaan gelombang Rossby Ekuatorial dan gelombang Kelvin juga turut berkontribusi dalam menciptakan kondisi atmosfer yang tidak stabil. Gelombang-gelombang ini dikenal dapat meningkatkan aktivitas konvektif, yaitu pergerakan massa udara vertikal yang membawa uap air ke lapisan atmosfer lebih tinggi, membentuk awan hujan. Suhu muka laut yang hangat di perairan sekitar Sulawesi Utara semakin memperkuat proses pembentukan awan ini.
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah keberadaan bibit siklon tropis Jangmi yang terdeteksi di Samudera Pasifik timur Filipina. Meskipun masih berupa bibit, keberadaannya dapat memengaruhi pola angin regional. Kondisi ini menciptakan daerah konvergensi dan belokan angin di wilayah Sulawesi Utara, yang berfungsi sebagai area berkumpulnya uap air. Penumpukan uap air inilah yang menjadi bahan bakar utama bagi pertumbuhan awan hujan lebat, khususnya pada malam hari.
Wilayah Terdampak dan Potensi Bencana Hidrometeorologi
BMKG telah mengidentifikasi sepuluh kabupaten dan kota di Sulawesi Utara yang berpotensi terdampak cuaca ekstrem ini. Wilayah-wilayah tersebut meliputi Kota Manado, Kota Bitung, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Minahasa Utara, dan Kabupaten Minahasa Selatan. Selain itu, Kabupaten Bolaang Mongondow, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Kabupaten Kepulauan Sangihe, dan Kabupaten Kepulauan Talaud juga termasuk dalam daftar wilayah yang perlu diwaspadai.
Kombinasi dari fenomena atmosfer yang kompleks ini diprediksi akan memicu terjadinya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Hujan ini juga akan disertai dengan kilat atau petir serta angin kencang, yang dapat menimbulkan berbagai risiko. Masyarakat di wilayah-wilayah tersebut diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak yang mungkin terjadi.
Peningkatan curah hujan dan angin kencang ini berpotensi menyebabkan bencana hidrometeorologi. Bentuk bencana yang perlu diantisipasi antara lain genangan air, banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang. Kewaspadaan khusus diperlukan bagi masyarakat yang tinggal di daerah dengan topografi curam atau bergunung, serta di area tebing atau rawan longsor dan banjir.
Imbauan Kesiapsiagaan dari BMKG
Menyikapi potensi cuaca ekstrem ini, BMKG mengimbau seluruh lapisan masyarakat, pemerintah kabupaten/kota, dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan. Koordinasi yang erat dengan instansi terkait sangat diperlukan sebagai tindakan antisipasi. Langkah proaktif ini penting untuk meminimalisir risiko dan dampak negatif dari bencana hidrometeorologi.
Mengingat sifat cuaca yang dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu, masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi perkembangan cuaca. Peringatan dini cuaca dari Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi Manado dapat diakses secara lebih rinci dan detail melalui situs web resmi BMKG di https://cuaca.bmkg.go.id/. Selain itu, informasi juga dapat diperoleh melalui kanal-kanal informasi yang terverifikasi dan terpercaya.
Kesiapsiagaan dini dan pemahaman akan informasi cuaca terkini adalah kunci untuk melindungi diri dan lingkungan dari potensi bahaya. Dengan mengikuti imbauan BMKG dan berkoordinasi dengan pihak berwenang, diharapkan masyarakat dapat menghadapi kondisi cuaca ekstrem ini dengan lebih aman dan siap.
Sumber: AntaraNews