Basarnas Harap Identifikasi Korban Pesawat ATR Segera Diumumkan untuk Kepastian Keluarga
Kepala Basarnas RI mendesak tim DVI untuk segera mengumumkan hasil identifikasi korban pesawat ATR yang telah ditemukan, memberikan kepastian bagi keluarga yang menanti.
Kepala Basarnas RI Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mendesak tim gabungan Disaster Victim Identification (DVI) untuk segera mengumumkan hasil identifikasi korban pesawat ATR. Desakan ini disampaikan pada Jumat, 23 Januari, di Posko DVI Biddokkes Polda Sulsel, Jalan Kumala Makassar, Sulawesi Selatan. Tujuan utama dari pengumuman cepat ini adalah untuk memberikan kepastian informasi kepada pihak keluarga korban yang telah menanti dengan cemas.
Pernyataan tersebut muncul setelah Basarnas menyerahkan sebanyak tujuh kantong jenazah kepada tim DVI untuk proses identifikasi forensik. Mohammad Syafii menekankan pentingnya transparansi dan kecepatan dalam proses ini guna meringankan beban psikologis keluarga korban.
Dengan harapan besar, tim DVI diharapkan dapat segera merilis informasi resmi terkait kepastian identitas seluruh korban. Langkah ini menjadi krusial dalam penanganan pasca-kecelakaan pesawat, memastikan setiap keluarga mendapatkan informasi yang akurat dan terpercaya.
Proses Penemuan dan Evakuasi Korban Pesawat ATR
Operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) kecelakaan pesawat ATR telah mencapai puncaknya dengan penemuan seluruh korban di hari ketujuh pencarian. Tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi semua korban dari wilayah pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, yang dikenal memiliki medan sangat ekstrem.
Mohammad Syafii secara spesifik menjelaskan bahwa tujuh kantong jenazah yang diserahkan pada hari itu berisi jenazah utuh, bukan potongan tubuh seperti beberapa temuan sebelumnya. Setiap korban yang ditemukan di lokasi, terutama di bawah kedalaman lereng gunung, dimasukkan ke dalam kantong khusus untuk memudahkan proses evakuasi yang aman.
Mengingat seluruh 10 korban yang berada dalam pesawat nahas tersebut telah ditemukan, operasi SAR resmi ditutup sesuai dengan ketentuan yang berlaku setelah tujuh hari. Namun, Basarnas tetap menyatakan komitmen untuk merespons jika di kemudian hari ada laporan masyarakat, seperti pencari madu, yang menemukan bagian tubuh korban atau serpihan pesawat di wilayah ekstrem tersebut. Laporan yang dapat dipertanggungjawabkan akan menjadi prioritas evakuasi lanjutan.
Koordinasi Tim SAR dan Tantangan Identifikasi Korban Pesawat ATR
Selama operasi berlangsung, seluruh tim SAR di lapangan menunjukkan koordinasi yang sangat baik di bawah arahan SMC (SAR Mission Coordinator). Unsur-unsur dari TNI, Polri, Basarnas, serta berbagai potensi SAR lainnya bergerak sinergis, menjalankan tugas masing-masing dengan efisien dan terkoordinasi oleh Basarnas.
Penyisiran lokasi dilakukan secara cermat dan maksimal oleh tim, menyapu setiap wilayah yang telah dipetakan, meskipun harus menghadapi tantangan medan yang berat. Medan pencarian meliputi kemiringan hingga 90 derajat, aliran sungai yang deras, bebatuan licin, dan vegetasi yang sangat rapat, membutuhkan kehati-hatian ekstra dari para petugas.
Mohammad Syafii, yang juga mantan Asisten Personal Panglima TNI, menekankan bahwa setiap indikasi, seperti bercak darah atau temuan lain, akan segera diamankan oleh tim SAR untuk proses investigasi lebih lanjut. Hal ini menunjukkan ketelitian tim dalam mengumpulkan setiap petunjuk yang ada.
Dari sisi identifikasi, Kepala Biro Lab Dokkes Polri Brigjen Sumy Hastri Purwanti menegaskan bahwa pihaknya akan berupaya semaksimal mungkin untuk mengidentifikasi tujuh jenazah yang telah diserahkan kepada tim DVI. Apabila hasil identifikasi telah memiliki gambaran jelas dan dapat dibuktikan secara ilmiah, informasi tersebut akan segera disampaikan kepada publik untuk memberikan kejelasan.
Sumber: AntaraNews