Basarnas Berhasil Evakuasi Dua Nelayan Aceh yang Hilang di Perairan Pulau Rondo
Tim Basarnas Banda Aceh sukses melakukan evakuasi dua nelayan Aceh, M Yasin dan Jimmi, yang sempat hilang di perairan Pulau Rondo, Sabang, setelah mesin perahu motor mereka mati.
Tim SAR gabungan dari Basarnas Banda Aceh berhasil mengevakuasi dua nelayan yang sebelumnya dilaporkan hilang di perairan Pulau Rondo, Kota Sabang, Provinsi Aceh. Kedua nelayan tersebut ditemukan dalam kondisi selamat setelah perahu motor mereka mengalami mati mesin di tengah laut. Kejadian ini menjadi perhatian setelah rekan korban melaporkan insiden tersebut kepada pihak berwenang.
Dua nelayan yang dievakuasi adalah M Yasin (50) dan Jimmi (40), keduanya berasal dari Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh. Mereka ditemukan terombang-ambing di sekitar perairan Pulau Rondo, lokasi yang tidak jauh dari Pulau Weh, Sabang. Proses evakuasi berlangsung dramatis dan melibatkan koordinasi cepat antara Basarnas dan nelayan setempat.
Kepala Basarnas Banda Aceh, Ibnu Harris Al Hussain, mengonfirmasi keberhasilan operasi penyelamatan ini. Ia menjelaskan bahwa tim SAR bergerak cepat setelah menerima laporan, memastikan kedua korban dapat segera ditemukan dan dibawa ke tempat aman. Insiden ini menyoroti pentingnya kesiapsiagaan dan respons cepat dalam operasi SAR di wilayah perairan.
Kronologi Hilangnya Nelayan di Pulau Rondo
Insiden ini berawal ketika M Yasin dan Jimmi pergi melaut untuk mencari ikan di perairan ujung barat Indonesia tersebut pada Sabtu (8/11) sekitar pukul 22.30 WIB. Perjalanan mereka berubah menjadi situasi darurat saat mesin perahu motor yang mereka gunakan tiba-tiba mati total. Kondisi ini membuat perahu mereka tidak dapat bergerak dan terombang-ambing di laut lepas.
Menyadari bahaya yang mengancam, kedua nelayan tersebut segera menghubungi rekan mereka di darat untuk melaporkan kejadian yang dialami. Rekan korban yang menerima informasi tersebut tidak membuang waktu dan langsung meneruskan laporan ke Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banda Aceh. Laporan ini menjadi titik awal dimulainya operasi pencarian.
Menurut Ibnu Harris Al Hussain, “Evakuasi berawal ketika kedua korban mencari ikan di perairan ujung barat Indonesia tersebut pada Sabtu (8/11) pukul 22.30 WIB. Tiba-tiba, mesin perahu motor mereka mati.” Informasi ini sangat krusial untuk menentukan area pencarian awal. Koordinasi yang baik antara korban, rekan, dan Basarnas menjadi kunci dalam penanganan awal situasi darurat ini.
Operasi Pencarian dan Penyelamatan Cepat
Merespons laporan yang diterima, Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banda Aceh segera menindaklanjuti dengan memberangkatkan tim penyelamat. Sebanyak lima personel SAR diberangkatkan menggunakan perahu RIB (Rigid Inflatable Boat) pada Minggu (9/11) pukul 00.15 WIB. Kecepatan respons ini menunjukkan kesigapan Basarnas dalam menghadapi situasi darurat di laut.
Tim SAR tiba di titik terakhir posisi korban dilaporkan sekitar satu jam setelah keberangkatan mereka. Setelah itu, tim langsung memulai pencarian intensif di sekitar perairan Pulau Rondo. Proses pencarian dilakukan dengan cermat mengingat kondisi malam hari yang mungkin menyulitkan visibilitas.
Upaya pencarian membuahkan hasil positif. Kedua nelayan tersebut akhirnya ditemukan pada pukul 03.35 WIB, beberapa jam setelah tim SAR memulai operasi. Mereka ditemukan dalam kondisi selamat, meskipun perahu motor mereka masih terombang-ambing di perairan tersebut. Keberhasilan ini adalah hasil dari kerja keras dan dedikasi tim SAR gabungan.
Kondisi Korban dan Proses Evakuasi Akhir
Setelah ditemukan, tim SAR segera mengevakuasi M Yasin dan Jimmi beserta perahu motor mereka. Proses evakuasi dilakukan dengan hati-hati untuk memastikan keselamatan kedua nelayan. Mereka kemudian dibawa menuju Pelabuhan Balohan, Kota Sabang, tempat yang aman untuk berlabuh dan mendapatkan penanganan lebih lanjut jika diperlukan.
Operasi evakuasi ini tidak hanya melibatkan personel Basarnas Banda Aceh, tetapi juga mendapat dukungan dari berbagai pihak. Ibnu Harris Al Hussain menjelaskan, “Selain tim Basarnas Banda Aceh, evakuasi tersebut turut melibatkan personel Pos SAR Sabang dan nelayan setempat.” Keterlibatan nelayan lokal sangat membantu karena mereka memiliki pengetahuan mendalam tentang kondisi perairan setempat.
Dengan selesainya proses evakuasi dan kedua nelayan berhasil diselamatkan, seluruh personel yang terlibat dalam operasi dikembalikan ke pos masing-masing. Keberhasilan operasi ini menjadi bukti nyata sinergi antara Basarnas dan masyarakat dalam menjaga keselamatan pelayaran di perairan Aceh. Kejadian ini juga mengingatkan pentingnya pemeriksaan rutin kondisi perahu sebelum melaut.
Sumber: AntaraNews