Banjir OKU Rendam Puluhan Rumah di Baturaja, BPBD Ungkap Penyebab dan Upaya Penanganan
Puluhan rumah di Kelurahan Sukaraya, Baturaja, terendam Banjir OKU akibat curah hujan tinggi dan drainase yang buruk. Simak upaya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menangani dampak bencana ini.
Banjir melanda puluhan rumah warga di Kelurahan Sukaraya, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, pada Jumat (27/3) dini hari. Bencana ini terjadi akibat curah hujan tinggi yang berlangsung lama sejak sekitar pukul 01.00 WIB. Meskipun merendam banyak properti, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam insiden ini.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) OKU, Januar Efendi, menjelaskan bahwa penyebab utama banjir adalah drainase induk di kawasan perkotaan yang tidak berfungsi optimal. Kondisi ini membuat saluran air tidak mampu menampung debit air hujan yang sangat deras. Akibatnya, air meluap dan menggenangi area permukiman serta fasilitas umum.
Berdasarkan data pendataan, sebanyak 39 unit rumah warga di Kelurahan Sukaraya, Kecamatan Baturaja Timur, terendam air. Ketinggian air di beberapa titik bahkan mencapai 80 sentimeter. Selain rumah penduduk, banjir juga mengganggu aktivitas di tiga ruangan kampus Stikes Al-Ma'arif dan Kantor KUA Baturaja Timur.
Dampak Banjir OKU dan Kerugian yang Ditimbulkan
Puluhan rumah warga di Kelurahan Sukaraya, Kecamatan Baturaja Timur, Kabupaten Ogan Komering Ulu, harus menghadapi genangan air yang cukup tinggi. Tercatat 39 unit rumah terendam banjir dengan ketinggian air mencapai 80 sentimeter, mengganggu kenyamanan dan keamanan penghuninya. Meskipun demikian, laporan dari BPBD OKU memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.
Selain permukiman warga, fasilitas publik juga turut terdampak parah oleh Banjir OKU ini. Tiga unit ruangan kampus Stikes Al-Ma'arif dan Kantor KUA Baturaja Timur ikut terendam. Kondisi ini secara langsung menghambat kegiatan perkuliahan dan pelayanan administrasi yang seharusnya berjalan normal di kantor tersebut.
Genangan air yang tinggi dan meluas ini menunjukkan kerentanan wilayah perkotaan terhadap bencana banjir. Curah hujan ekstrem yang tidak diimbangi dengan sistem drainase yang memadai menjadi pemicu utama. Kerugian material dan gangguan aktivitas menjadi konsekuensi yang harus ditanggung masyarakat serta lembaga terkait.
Respons Cepat BPBD OKU dalam Penanganan Banjir
Menanggapi bencana Banjir OKU, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) OKU segera menerjunkan personelnya ke lokasi terdampak. Tim gabungan berupaya keras untuk mengevakuasi warga yang rumahnya terendam ke dataran tinggi yang lebih aman. Langkah cepat ini menjadi prioritas utama untuk memastikan keselamatan penduduk.
Untuk mempercepat surutnya genangan air, BPBD OKU juga mengerahkan mesin pompa berkapasitas 30 horse power (HP). Mesin ini digunakan untuk menyedot air dari area yang terendam, khususnya di sekitar fasilitas umum dan perkantoran. Upaya ini bertujuan agar aktivitas masyarakat dan perkantoran dapat segera kembali normal.
Berkat kerja keras tim di lapangan, genangan banjir dilaporkan telah surut pada siang hari setelah kejadian, dan aktivitas masyarakat kembali normal. Kecepatan respons BPBD menjadi kunci dalam meminimalisir dampak jangka panjang dari bencana ini.
Imbauan Pencegahan dan Peran Aktif Masyarakat
Kepala BPBD OKU, Januar Efendi, tidak henti-hentinya mengimbau masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Salah satu pesan utama yang disampaikan adalah pentingnya untuk tidak membuang sampah sembarangan, terutama di saluran air atau drainase. Kebiasaan buruk ini seringkali menjadi penyebab utama penyumbatan yang memicu Banjir OKU.
Penyumbatan drainase oleh sampah dapat menghambat aliran air, sehingga saat curah hujan tinggi, air akan meluap dan menggenangi permukiman. Oleh karena itu, peran aktif masyarakat sangat dibutuhkan dalam menjaga kebersihan lingkungan. Gotong royong membersihkan saluran air secara rutin dapat menjadi solusi efektif.
Januar Efendi menekankan bahwa masyarakat harus turut berperan aktif untuk menjaga lingkungan agar tetap bersih guna mengantisipasi banjir di wilayah perkotaan. Kesadaran kolektif menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan bebas dari ancaman banjir.
Sumber: AntaraNews