Banjir Bandang Purbalingga Terjang Lereng Gunung Slamet, Ratusan Warga Mengungsi
Banjir Bandang Purbalingga menerjang dua desa di lereng Gunung Slamet sejak Jumat (23/1), mengakibatkan akses jalan terputus dan ratusan warga terpaksa mengungsi.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, sigap menangani dampak banjir bandang yang menerjang dua desa di lereng Gunung Slamet. Bencana ini terjadi akibat hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut sejak Jumat (23/1) lalu. Dua desa yang terdampak parah adalah Desa Serang dan Desa Kutabawa, keduanya berada di Kecamatan Karangreja.
Akibat luapan sungai yang meluap karena tingginya intensitas hujan, akses jalan kabupaten menuju Dusun Gunung Malang dan Dusun Bambangan terisolasi. Jalanan tertutup material banjir berupa lumpur dan bebatuan, menyebabkan mobilitas warga terhambat. Kondisi ini memaksa seratusan warga terdampak untuk mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Purbalingga, Revon Hapinindriat, mengonfirmasi bahwa total pengungsi mencapai 110 jiwa dari 31 kepala keluarga. Mereka berasal dari Dusun Bambangan RT 019 RW 05 dan RT 017 RW 05 di Desa Kutabawa. Selain itu, jembatan Sungai Bambangan juga dilaporkan putus total akibat terjangan arus banjir bandang yang kuat.
Dampak Banjir Bandang di Purbalingga
Revon Hapinindriat menjelaskan bahwa luapan aliran sungai menjadi pemicu utama banjir bandang ini, menyusul hujan deras tak henti-henti di wilayah lereng Gunung Slamet. Intensitas hujan yang sangat tinggi menyebabkan volume air sungai meningkat drastis hingga meluap ke permukiman dan jalanan warga.
Kondisi terisolirnya akses jalan menuju Dusun Gunung Malang dan Dusun Bambangan menjadi kendala serius bagi warga dan tim penanganan. Material banjir yang menumpuk membuat jalur transportasi tidak dapat dilewati, menghambat distribusi bantuan maupun evakuasi lebih lanjut. Selain itu, hujan lebat disertai angin kencang serta kondisi listrik padam pada Jumat (23/1) malam sempat menghambat komunikasi di wilayah Gunung Malang.
Data sementara menunjukkan bahwa sebanyak 110 jiwa dari 31 kepala keluarga di Desa Kutabawa harus mengungsi demi keselamatan mereka. BPBD Purbalingga telah melakukan evakuasi seluruh warga terdampak ke tempat yang lebih aman. Jembatan Sungai Bambangan dilaporkan putus total, menambah daftar kerusakan infrastruktur akibat bencana ini.
Penanganan dan Koordinasi BPBD Purbalingga
BPBD Purbalingga telah bergerak cepat melakukan monitoring dan penanganan awal di lokasi kejadian untuk memastikan keselamatan warga. Tim gabungan segera diterjunkan untuk menilai situasi dan memberikan bantuan darurat kepada masyarakat yang terdampak. Prioritas utama adalah memastikan semua warga berada di tempat yang aman dan mendapatkan kebutuhan dasar.
Saat ini, BPBD Purbalingga tengah berkoordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait untuk mendatangkan alat berat. Alat berat ini sangat dibutuhkan untuk membuka akses jalan yang terisolasi dan membersihkan material banjir yang menutupi jalur. Upaya ini krusial untuk memulihkan konektivitas dan memperlancar mobilitas warga serta tim penanganan.
Pembukaan akses jalan serta pembersihan material banjir dilakukan secara gotong royong bersama tim gabungan. Selain itu, BPBD juga menyalurkan bantuan logistik bagi warga terdampak yang berada di pengungsian. Langkah-langkah ini merupakan bagian dari upaya komprehensif untuk membantu masyarakat pulih dari dampak bencana.
Kondisi Banjir Lumpur di Banyumas
Hujan dengan intensitas tinggi tidak hanya berdampak di Purbalingga, tetapi juga menyebabkan luapan air sungai bercampur lumpur di Kabupaten Banyumas. Peristiwa ini terjadi di aliran Sungai Kali Pangkon, objek wisata Telaga Sunyi, dan Sungai Kalipelus, yang semuanya berada di Desa Limpakuwus, Kecamatan Sumbang, lereng Gunung Slamet.
Menurut data dari BPBD Kabupaten Banyumas, banjir lumpur tersebut mulai terjadi sejak Sabtu (24/1), sekitar pukul 01.00 WIB. Ketinggian air diperkirakan mencapai kisaran 70-90 sentimeter. Meskipun demikian, lokasi aliran sungai ini relatif jauh dari kawasan hunian warga, sehingga risiko terhadap permukiman dapat diminimalisir.
BPBD Kabupaten Banyumas bersama unsur Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Sumbang dan aparat kewilayahan telah mendatangi lokasi untuk memantau kondisi terkini. Warga sekitar juga diimbau untuk sementara tidak beraktivitas di sungai, khususnya di kawasan objek wisata, demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Hingga Sabtu (24/1) pagi, kondisi luapan air di Sungai Kali Pangkon dilaporkan telah surut, dan tidak ada laporan kerusakan permukiman maupun korban jiwa.
Sumber: AntaraNews