Antusias Sambut Rencana Pembongkaran Tiang-Tiang Monorel Mangkrak di Rasuna Said & Kuningan
Seperti diketahui, akibat adanya tiang mangkrak tersebut 'wajah' Ibu Kota jadi kusam dan kemacetan parah tak terhindari.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan proyek pembokaran tiang–tiang monorel mangkrak di kawasan Rasuna Said dan Senayan bakal dimulai awal 2026. Seperti diketahui, akibat adanya tiang mangkrak tersebut 'wajah' Ibu Kota jadi kusam dan kemacetan parah tak terhindari.
Merdeka.com mencoba menelusuri lokasi tempat puluhan tiang monorel mangkrak tersebut. Setiap tiang tingginya sekitar 8-12 meter, dengan diameter sekitar 1,2 meter dan lebar dasar mencapai 2,5 meter. Terlihat tiang-tiang tersebut sudah berlumut, berkarat, bahkan ditumbuhi tanaman liar.
Di beberapa titik, tiang hanya tinggal rangka besi, sementara di titik lain masih berdiri kokoh di median jalan. Padahal, kanan dan kiri tiang terdapat sejumlah perkantoran hingga hotel berbintang. Sebut saja ada gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Menara Kuningan, Royal Kuningan Hotel, dan Setiabudi Building One.
Kontras antara bangunan modern dan tiang-tiang mangkrak itu menciptakan pemandangan yang janggal di salah satu kawasan bisnis paling sibuk di Jakarta.
Rencana Pramono Anung ini mendapat respons positif dari sejumlah warga. Sebut saja Seto. Pria yang biasa berjualan di sekitar lokasi berharap kondisi jalan menjadi semakin lebar sehingga menekan angka kemacetan yang tiap hari terjadi saat jam sibuk.
Seto menilai langkah pemerintah ini sudah tepat. Ia mengatakan, keberadaan tiang beton yang terbengkalai itu selama ini memang mebuat lalu lintas tersendat dan pemandangan menjadi semrawut.
"Bagusnya dibongkar. Biar jalan lebar dan enggak macet. Kadang juga ada yang kecelakaan nabrak tiang itu. "Kalau benar dibongkar, saya senang banget. Rasuna Said jadi kelihatan bagus lagi," ujar Seto saat ditemui merdeka.com di lokasi, Rabu (22/10).
Dikerjakan Malam Hari
Seto berharap, pengerjaan dibongkar tiang monorel dilakukan malam hari, agar tidak mengganggu aktivitas pengendara. "Kalau bisa dikerjain malam saja, biar enggak ganggu arus kendaraan. Siang mah sudah macet banget," katanya.
Senada, Rian seorang pengemudi ojek juga mendukung rencana Pramono. Ia yang setiap hari melintasi kawasan Rasuna Said melewati tiang-tiang monorel mangkrak bakal menjadi lebih aman. Sebab, tidak sekali terjadi insiden mobil maupun motor menabrak tiang monorel.
"Sudah berapa kali mobil sama motor nabrak. Malah ada yang sampai meninggal," kata Rian.
"Kalau dibongkar, jalan pasti lebih lancar, enggak kumuh lagi," katanya lagi.
Jejak Panjang Tiang Monorel yang Mangkrak di Jakarta
Tiang monorel yang berada di Jakarta dimulai pada 2004 di masa kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso. Saat itu, pemerintah bekerja sama dengan PT Jakarta Monorail untuk membangun jaringan monorel sepanjang 14,3 kilometer dari Kuningan ke Senayan. Tiang-tiang pertama dipasang di Jalan HR Rasuna Said, membentang dari sekitar Kantor KPK hingga Kawasan Setiabudi, lalu berlanjut ke arah Semanggi dan Senayan. Tiang tersebut berjumlah 90 lebih yang mangkrak di sepanjang Jalan HR Rasuna Said (Kuningan, Jakarta Selatan) hingga Jalan Asia Afrika (Senayan, Jakarta Selatan).
Pemerintah ingin melakukan pembaruan Transportasi di Jakarta, salah satunya pembuatan Monorel, proyek ambisius itu berhenti di tengah jalan. Masalah perizinan, pendanaan, dan pergantian investor membuat pembangunan terhenti total pada 2007, meninggalkan lebih dari 200 tiang beton yang menjulang di tengah kota tanpa fungsi.
Komitmen Pemprov DKI
Sementara itu, Pramono Anung menegaskan bahwa pemerintah daerah berkomitmen menyelesaikan persoalan tiang monorel yang mangkrak sejak era sebelumnya. Ia menilai keberadaan tiang-tiang tersebut sudah terlalu lama dibiarkan dan harus segera ditangani.
"Kalau teman-teman sekalian lewat di Rasuna Said maupun di Senayan, ada kolom-kolom untuk monorail yang sampai hari ini semuanya tidak mau nyentuh. Bagi saya pribadi, ini adalah hal yang harus diselesaikan," ujar Pramono, Selasa (21/10).
Pramono menyebut pembongkaran akan dimulai pada awal tahun 2026 setelah pemerintah berkoordinasi dengan pihak terkait, termasuk PT Adhi Karya selaku pelaksana proyek.
"Tentunya kami sudah berbicara dengan Adhi Karya, tetapi nanti apa hasil pembicaraannya silakan tanyakan kepada Adhi Karya. Tapi kami sudah merencanakan, Januari segera bisa kita mulai dan tahun 2026 bisa selesai," jelasnya.
Reporter Magang: Ahmad Subayu