Akses Pining Gayo Lues Terbuka Kembali Pascabencana, Tantangan Masih Menghadang
Kecamatan Pining, Gayo Lues, kini sudah bisa diakses setelah banjir bandang dan longsor, namun pemulihan akses Pining Gayo Lues ini masih penuh tantangan dan belum sepenuhnya normal.
Kecamatan Pining di Kabupaten Gayo Lues, Aceh, pada Jumat (30/1/2026), dilaporkan telah dapat diakses kembali oleh masyarakat pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda akhir November 2025 lalu. Pembukaan akses ini menjadi kabar baik bagi warga yang sempat terisolasi, meskipun kondisi jalur menuju wilayah tersebut masih jauh dari pulih sepenuhnya. Perjalanan menuju Pining masih diwarnai berbagai rintangan akibat material longsor dan kerusakan infrastruktur jalan.
Jalur utama yang menghubungkan Desa Pintu Rime, Kecamatan Pining, dengan pusat kota Gayo Lues, Blangkejeren, sepanjang sekitar 40 kilometer, masih menghadapi kendala serius. Dua jembatan rangka baja dilaporkan putus total, sementara beberapa titik jalan mengalami amblas, menyulitkan mobilitas. Kondisi ini membuat akses Pining Gayo Lues belum sepenuhnya lancar dan memerlukan penyesuaian dari para pengguna jalan.
Material longsor berupa tanah bercampur kayu masih menumpuk di sisi jalan, tiang listrik tampak tumbang, dan bebatuan berbagai ukuran berserakan di sepanjang jalur. Jalan utama yang sebelumnya terbawa arus banjir kini digantikan dengan jalan darurat yang terbuat dari tanah merah, menunjukkan upaya pemulihan yang terus berjalan. Upaya ini penting untuk memastikan konektivitas dan distribusi bantuan ke wilayah terdampak.
Kondisi Infrastruktur dan Upaya Pemulihan Darurat
Jalan menuju Desa Pintu Rime, Kecamatan Pining, yang berjarak sekitar 40 kilometer dari Blangkejeren, masih menyisakan banyak tantangan. Material longsor dan jalan terjal menjadi hambatan utama, diperparah dengan putusnya dua jembatan rangka baja dan beberapa titik jalan yang amblas. Tanah bercampur kayu menumpuk di sisi jalan, tiang listrik tumbang, serta batu berukuran kecil hingga besar masih berjejeran, menggambarkan skala kerusakan yang terjadi.
Jalan utama yang sebelumnya terbawa arus banjir kini telah digantikan dengan jalan darurat dari tanah merah. Ini merupakan solusi sementara untuk memastikan akses Pining Gayo Lues tetap terbuka bagi masyarakat. Selain itu, jembatan yang menghubungkan Desa Pintu Rime dan Desa Pertik yang terputus kini telah diganti dengan jembatan darurat dari kayu.
Jembatan darurat dari kayu ini memungkinkan masyarakat dan kendaraan roda dua untuk melintas. Namun, untuk kendaraan roda empat, mereka harus menyeberangi sungai yang memisahkan kedua desa tersebut. Hingga saat ini, hanya mobil jenis kendaraan utilitas sport (SUV) yang mampu menyeberangi sungai tersebut, menunjukkan keterbatasan akses bagi kendaraan besar.
Kesaksian Warga dan Pernyataan Pihak Berwenang
Feri (24), salah satu warga Desa Pintu Rime, mengungkapkan bahwa akses di desanya kini sudah jauh lebih baik dibandingkan masa-masa awal pascabencana. Ia menceritakan bagaimana sebelumnya masyarakat harus berjalan kaki selama satu hari satu malam menempuh jarak 18 kilometer hanya untuk mengambil bantuan. "Kita mengambil bantuan itu satu hari satu malam, 18 kilometer, karena apa pun belum bisa, sekarang sudah mulai bisa,” ucap Feri saat ditemui ANTARA di lokasi jembatan putus.
Komandan Komando Distrik Militer (Dandim) 0113/Gayo Lues Letnan Kolonel Artileri Medan Fran Desiapan Eka Saputra sebelumnya menyatakan bahwa hingga akhir Januari 2026, sudah tidak ada lagi daerah yang terisolasi total di Gayo Lues. Kendati demikian, Dandim mengakui bahwa akses jalan ke sejumlah daerah, termasuk Kecamatan Pining, masih terbilang sulit. Ia menjelaskan bahwa jalan ke Pining memang sudah terbuka, tetapi kendaraan yang bisa melaluinya masih sangat terbatas.
Fran menambahkan, "Kecamatan Pining sampai sekarang kami masih mengusahakan untuk bisa terbuka akses jalannya. Memang sudah terbuka, tetapi masih terbatas untuk muatan yang bisa dimuat. Jadi, sampai sekarang untuk akses Pining itu masih baru bisa kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat yang double gardan.” Pernyataan ini menegaskan bahwa pemulihan penuh akses Pining Gayo Lues masih memerlukan waktu dan upaya lebih lanjut.
Kendala dan Tantangan Pemulihan Infrastruktur
Keterbatasan alat berat menjadi salah satu kendala utama dalam upaya pemulihan infrastruktur di Gayo Lues, terutama setelah bencana terjadi. Akses jalan yang sulit segera setelah banjir bandang dan longsor menghambat mobilisasi alat berat yang sangat dibutuhkan. Kabupaten Gayo Lues, yang terdiri atas 11 kecamatan, berada di jantung pegunungan, sehingga kondisi geografisnya menambah kompleksitas dalam penanganan bencana.
Dandim Fran menjelaskan bahwa keterputusan jalur logistik menjadi masalah serius. "Begitu jalan dari Aceh Tengah ke Gayo Lues terputus, Gayo Lues ke Aceh Tenggara terputus, itu kita terisolir untuk logistiknya, termasuk terisolir untuk mobilitas,” ucapnya. Situasi ini menunjukkan betapa rentannya konektivitas wilayah pegunungan terhadap bencana alam, dan pentingnya strategi mitigasi yang komprehensif.
Upaya berkelanjutan terus dilakukan untuk memastikan pemulihan akses Pining Gayo Lues dan wilayah terdampak lainnya. Meskipun tantangan masih besar, semangat gotong royong dan kerja keras dari berbagai pihak diharapkan dapat mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur. Prioritas utama adalah mengembalikan fungsi jalan dan jembatan agar aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat dapat kembali normal.
Sumber: AntaraNews