287 Kali Getarkan Wilayah, BMKG Ungkap Frekuensi Gempa Bumi Sulut Selama Oktober
BMKG mencatat 287 kejadian gempa bumi tektonik mengguncang Sulawesi Utara sepanjang Oktober 2025. Mayoritas berkekuatan sedang, fenomena Gempa Bumi Sulut ini menarik perhatian.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan aktivitas seismik yang signifikan di Sulawesi Utara sepanjang Oktober 2025. Sebanyak 287 kejadian gempa bumi tektonik tercatat mengguncang wilayah tersebut. Fenomena ini menunjukkan tingkat kerawanan wilayah akan potensi bencana alam.
Data terbaru ini disampaikan oleh Muhammad Zulkifli, Kepala Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Geofisika Winangun. Mayoritas gempa memiliki magnitudo antara M 3 hingga M 4,9. Lima kejadian di antaranya bahkan dirasakan langsung oleh masyarakat setempat.
Tingginya frekuensi gempa bumi di Sulut tidak terlepas dari posisi geografisnya. Wilayah ini memang dikenal sebagai salah satu daerah rawan gempa. Letaknya yang berada di pertemuan tiga lempeng tektonik menjadi penyebab utama kondisi tersebut.
Analisis Magnitudo dan Kedalaman Gempa di Sulut
BMKG merinci karakteristik 287 gempa bumi yang terjadi. Sebagian besar, yakni 59 persen, memiliki magnitudo antara M 3 hingga M 4,9. Angka ini menunjukkan bahwa banyak gempa yang cukup terasa namun jarang menimbulkan kerusakan parah.
Muhammad Zulkifli menjelaskan bahwa 39 persen gempa memiliki magnitudo kurang dari M 3. Sementara itu, hanya dua persen yang berkekuatan lebih dari M 5. "Terdapat lima kejadian gempa yang dirasakan masyarakat pada periode ini," ujarnya.
Kedalaman gempa juga menjadi sorotan dalam laporan BMKG. Sebanyak 56 persen dari total gempa merupakan gempa dangkal, dengan kedalaman antara 0-60 kilometer. Gempa dangkal cenderung memiliki dampak yang lebih terasa di permukaan.
Gempa berkedalaman menengah (61-300 kilometer) menyumbang 42 persen dari total kejadian. Sisanya, dua persen, merupakan gempa berkedalaman dalam, yakni lebih dari 300 kilometer. Analisis ini penting untuk memahami potensi dampak dari setiap kejadian gempa bumi.
Sebaran Episenter dan Kerawanan Tektonik Sulawesi Utara
Peta seismisitas BMKG menunjukkan sebaran episenter gempa bumi di Sulut. Sebagian besar kejadian gempa bumi tersebar di area Teluk Tomini, Laut Maluku, dan Laut Sulawesi. Pola sebaran ini konsisten dengan kondisi geologi regional.
Muhammad Zulkifli menegaskan bahwa Sulawesi Utara merupakan daerah rawan gempa. Hal ini disebabkan oleh posisinya di atas tiga lempeng tektonik aktif. Lempeng-lempeng ini terus bergerak dan berinteraksi, memicu aktivitas seismik.
Lempeng Laut Maluku berada di perairan antara Sulawesi Utara dan Maluku Utara, memanjang hingga Talaud. Di utara Sulawesi terdapat Lempeng Laut Sulawesi. Sementara itu, di timur laut Talaud hingga utara Halmahera terdapat Lempeng Laut Filipina.
Interaksi kompleks antara ketiga lempeng ini menjadi pemicu utama seringnya terjadi gempa bumi di Sulut. Pemahaman mendalam mengenai kondisi tektonik ini krusial. Ini membantu mitigasi risiko bencana dan kesiapsiagaan masyarakat setempat.
Sumber: AntaraNews