Waduh! 62,09 Persen PNS Jakarta Alami Obesitas, 15 Persen Miliki Masalah Mental
Program skrining kesehatan itu dilakukan pada 2024 yang diikuti oleh 9.936 ASN.
Sebanyak 62,09 persen Aparatur Sipil Negara (ASN) atau PNS (Pegawai Negeri Sipil) DKI Jakarta mengalami obesitas. Hasil ini didapat dari hasil skrining kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta.
Program skrining kesehatan itu dilakukan pada 2024 yang diikuti oleh 9.936 ASN. Pemeriksaan ini mencakup pengukuran indeks massa tubuh (IMT), tekanan darah, kebugaran jasmani, kadar gula darah sewaktu, hingga evaluasi kondisi kesehatan mental.
"Skrining ini bersifat promotif dan preventif. Tujuannya adalah mendeteksi risiko kesehatan sejak dini agar intervensi bisa dilakukan secara cepat dan tepat," kata Kepala Dinkes DKI Jakarta, Ani Ruspitawati dalam keterangannya, dikutip Rabu (23/7).
Dari 62,9 persen ASN DKI Jakarta yang mengalami obesitas, rincian Obesitas I sebesar 40,03 persen dan Obesitas II sebesar 22,06 persen. Ani bilang, kondisi ini menjadi perhatian serius karena berkaitan erat dengan risiko PTM seperti hipertensi, diabetes, stroke, dan penyakit jantung.
Selain kesehatan fisik, aspek kesehatan mental juga menjadi fokus. Berdasarkan pengukuran menggunakan alat SRQ-29 dari WHO, tercatat sekitar 15,03 persen ASN terindikasi memiliki potensi masalah kesehatan mental, mulai dari gejala emosional ringan hingga gangguan tidur.
Dari sisi kebugaran, hanya 9,6 persen ASN yang masuk kategori ‘baik’ atau ‘baik sekali’ berdasarkan uji Rockport Walk Test yang mengukur kebugaran jantung-paru. Mayoritas ASN DKI Jakarta berada pada kategori ‘cukup’ hingga ‘kurang’ yang menandakan perlunya peningkatan aktivitas fisik di lingkungan kerja.
Cara Tingkatkan Kesehatan
Oleh sebab itu, untuk meningkatkan kesehatan ASN demi menghadirkan pelayanan publik yang lebih optimal bagi masyarakat, diluncurkan program JakartaBergerak, Bekerja, Berolahraga, dan Bahagia (Berjaga) yang mengampanyekan gaya hidup sehat.
Program ini mengajak ASN DKI Jakarta dan masyarakat umum untuk berjalan kaki minimal 7.500 langkah setiap hari selama 21 hari berturut-turut.
"Kegiatan ini dirancang untuk menurunkan risiko penyakit tidak menular sekaligus mendorong deteksi dini masalah psikologis yang sering kali tidak disadari," ujar Ani.