Trump Ungkap Setelah Iran, Negara Ini Jadi Target Berikutnya
Ini bukanlah informasi yang mengejutkan, mengingat Trump telah beberapa kali menyampaikan pernyataan serupa sebelumnya.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada hari Jumat (27/3/2026), mengeluarkan pernyataan yang menyebut "Kuba berikutnya," yang terdengar seperti ancaman terhadap negara pulau di Karibia tersebut. Dalam kesempatan itu, Trump juga menanggapi kekhawatiran bahwa tindakan militer yang dilakukan AS baru-baru ini akan mengurangi dukungan politiknya.
Pernyataan tersebut disampaikan di forum investasi FII Priority yang didukung oleh Arab Saudi di Miami. Di sana, Trump menegaskan bahwa gerakan Make America Great Again (MAGA) mendambakan "kekuatan" dan "kemenangan." Ia menyatakan, "Saya membangun militer yang hebat ini. Saya ingin menyebutnya, 'Anda tidak akan pernah harus menggunakannya' tetapi kadang-kadang Anda harus menggunakannya," seperti yang dilansir oleh CNA.
Selanjutnya, ia menambahkan, "Dan omong-omong Kuba berikutnya. Tapi anggap saja saya tidak mengatakan itu." Meskipun demikian, Trump tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai rencananya terhadap Kuba. Ia bahkan meminta media untuk "mengabaikan pernyataan itu," sebelum kembali mengulangi, "Kuba berikutnya," yang disambut tawa oleh para hadirin.
Pemerintah Kuba kini menghadapi tekanan yang semakin meningkat akibat kebijakan Trump. Pada bulan Januari, ia memberlakukan blokade minyak secara de facto dan pernah menyebutkan kemungkinan untuk "mengambil alih" negara tersebut. Dalam pidatonya, Trump juga membuat komentar yang bersifat humoris dengan menyebut Selat Hormuz sebagai "Selat Trump."
Sementara itu, Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel, menyatakan pekan lalu bahwa setiap agresor dari luar akan menghadapi perlawanan yang tidak bisa dihentikan, meskipun negara tersebut tengah mengalami dua kali pemadaman listrik nasional dalam satu minggu. Kuba sendiri telah berada di bawah embargo perdagangan Amerika Serikat sejak revolusi yang dipimpin oleh Fidel Castro pada tahun 1959.
Sikap Havana
Hubungan antara kedua negara sempat membaik dalam beberapa tahun terakhir, namun kembali memburuk sejak Trump menjabat untuk masa kedua, dengan upaya memperketat pengaruh Washington di Amerika Latin. Seorang diplomat senior Kuba sebelumnya mengungkapkan bahwa Havana bersedia melanjutkan pembicaraan dengan Washington, tetapi menegaskan bahwa perubahan terhadap sistem politiknya tidak dapat dibahas.
Di sisi lain, dua kapal layar yang membawa bantuan kemanusiaan ke Kuba, yaitu Friendship dan Tigger Moth, telah ditemukan oleh Angkatan Laut Meksiko pada hari Sabtu pagi (28/3) setelah dilaporkan hilang kontak akibat cuaca buruk.
Sembilan awak kapal dari berbagai negara dinyatakan sehat dan kini melanjutkan perjalanan menuju Havana untuk menyalurkan bantuan penting berupa pasokan medis, makanan, serta panel surya untuk masyarakat Kuba. Penemuan ini mengoreksi kesimpangsiuran informasi sebelumnya dan memastikan bahwa misi kemanusiaan tersebut tetap berjalan sesuai rencana.