Tentara Israel Mengaku Ada Zona 'Pembunuhan Massal di Gaza', Mereka Diperintahkan Tembak Siapa Pun yang Berani Mendekat
Mereka juga diperintahkan menghancurkan ribuan bangunan dan lahan pertanian warga Palestina di Gaza.
Laporan mengejutkan datang dari kelompok tentara veteran Israel, Breaking the Silence (BtS), yang mengungkapkan tentara penjajah Israel menerima perintah untuk menghancurkan lahan pertanian, bangunan tempat tinggal, dan menembak siapa pun yang mendekat di Jalur Gaza. Perintah ini bertujuan untuk membuka jalan bagi zona penyangga, yang disebut 'perimeter', dengan lebar 800 hingga 1500 meter dan membentang 1,5 kilometer ke dalam wilayah Palestina, seperti dikutip dari Middle East Eye, Rabu (9/4).
Zona penyangga ini, menurut kesaksian para tentara, telah mengubah sebagian besar lahan di Gaza menjadi 'zona pembunuhan massal'. Batas-batas zona tersebut tidak terlihat, terus berubah, dan tidak dikomunikasikan kepada warga Palestina, membuat mereka rentan terhadap bahaya. Para tentara juga menggambarkan bagaimana area tertentu dibagi menjadi bagian-bagian yang disebut 'polygon', di mana mereka mendapat instruksi untuk membongkar dan menghancurkan secara sistematis menggunakan buldoser, ranjau, dan bahan peledak.
Tujuan dari penghancuran massal ini adalah untuk menciptakan 'garis pengamatan dan penembakan yang datar'. Bahkan bangunan tempat tinggal dan lahan pertanian yang subur diratakan, menciptakan zona yang steril dan tandus. Akibatnya, sekitar 16 persen dari Jalur Gaza, termasuk 35 persen lahan pertaniannya, telah dihancurkan, menimbulkan dampak ekonomi dan kemanusiaan yang sangat besar bagi penduduk Gaza.
"Pada awalnya, IDF (tentara penjajah Israel) menetapkan area tertentu yang dilarang untuk dilintasi. IDF memutuskan pada garis tertentu, dan secara konseptual, siapa pun yang melintasinya dianggap sebagai ancaman," ungkap seorang komandan cadangan.
"Itu terjadi di Koridor Netzarim dan juga terjadi di perbatasan. Tidak ada aturan keterlibatan yang jelas. Ada ruang untuk kebijaksanaan di lapangan. Pada akhirnya, itu tergantung pada komandan kompi dan komandan batalion."
Koridor Netzarim, hamparan tanah sepanjang 6 kilometer di selatan Kota Gaza yang membagi jalur itu menjadi bagian utara dan selatan, digunakan oleh pasukan Israel untuk memantau dan mengendalikan pergerakan warga Palestina antara Gaza utara dan selatan dan untuk melancarkan operasi militer.
Menurut seorang perwira senior, tempat itu telah ditetapkan sebagai "zona pembunuhan" oleh komandan Divisi 252, yang memungkinkan para prajurit untuk menembak "siapa pun yang masuk".
"Tidak ada prosedur pertempuran yang tepat seperti di Yudea dan Samaria (Tepi Barat). Komandan kompi membuat berbagai macam keputusan tentang hal ini, jadi pada akhirnya sangat bergantung pada siapa mereka. Namun, tidak ada sistem akuntabilitas secara umum," kata komandan cadangan Israel kepada BtS.
"Siapa pun yang melewati batas tertentu, yang telah kami tetapkan, dianggap sebagai ancaman dan dijatuhi hukuman mati. Itu memang ada. Itu adalah definisi IDF. Ada batasnya."
Tuduhan Kejahatan Perang dan Hukuman Kolektif
Amnesty International menyatakan keprihatinan serius atas tindakan Israel ini, dengan menyebutnya sebagai hukuman kolektif terhadap warga sipil Palestina. Meskipun properti sipil mungkin telah digunakan oleh kelompok bersenjata di masa lalu, penghancuran skala besar ini tidak dapat dibenarkan. BtS juga mencatat bahwa penciptaan perimeter ini mengisolasi Gaza dan memastikan Israel memiliki 'kendali militer absolut atas wilayah tersebut'.
Laporan tersebut lebih lanjut mengungkapkan bahwa aturan keterlibatan tampaknya tidak ada di dalam perimeter. Rumah-rumah warga sipil dihancurkan secara sistematis bersama dengan infrastruktur dan pertanian yang penting bagi kemandirian dan rehabilitasi Gaza di masa depan. Tindakan ini telah memicu tuduhan kejahatan perang dari berbagai organisasi HAM internasional.
Israel berdalih tindakan ini merupakan kebutuhan sementara untuk menekan Hamas agar membebaskan tawanan. Namun, kelompok HAM dan pakar Gaza berpendapat tindakan ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk menguasai Gaza. Laporan BtS menyebutkan Israel telah menguasai lebih dari 50 persen wilayah Gaza, sebuah fakta yang semakin memperkuat kecurigaan tersebut.
Penghancuran Infrastruktur dan Lahan Pertanian
Penghancuran lahan pertanian dan bangunan di Gaza berdampak signifikan terhadap kehidupan warga sipil. Kehilangan mata pencaharian, tempat tinggal, dan akses ke sumber daya dasar telah memperburuk kondisi kemanusiaan yang sudah kritis di wilayah tersebut. Ribuan warga Palestina telah kehilangan rumah dan sumber penghidupan mereka, menambah beban penderitaan yang telah lama mereka alami.
Selain itu, penghancuran infrastruktur penting juga menghambat upaya rekonstruksi dan pembangunan di Gaza. Ketiadaan akses ke air bersih, listrik, dan layanan kesehatan dasar semakin memperparah situasi kemanusiaan. Kondisi ini juga menimbulkan kekhawatiran akan peningkatan kerawanan pangan dan penyakit di antara penduduk Gaza.
Para tentara bersaksi beberapa area dibagi menjadi beberapa bagian yang disebut "poligon", di mana mereka diberi instruksi untuk membongkar dan menghancurkannya secara sistematis menggunakan buldoser, ranjau, dan bahan peledak.
"Pada dasarnya, misi utama kami adalah meledakkan sesuatu, maksud saya ratusan unit struktur (bangunan). Tidak seperti gedung-gedung tinggi di Shati (kamp pengungsi di Kota Gaza). Bangunannya kubus satu atau dua lantai. Namun, kehancurannya total," kata seorang sersan mayor Israel yang bertugas di Khan Younis.
Ia menambahkan, logika di balik penghancuran massal dan penghapusan infrastruktur adalah untuk "menciptakan garis-garis datar pengamatan dan tembakan."
"Ada peta yang dibuat Divisi Gaza dari poligon-poligon di sepanjang pagar Jalur Gaza yang ditandai dengan warna hijau, kuning, oranye, dan merah," jelas sersan mayor tersebut.
"Hijau berarti lebih dari 80 persen bangunan telah dirobohkan - bangunan tempat tinggal, rumah kaca, gudang, pabrik; apa pun itu - semuanya harus rata. Itulah perintahnya.
"Tidak ada bangunan, kecuali sekolah Unrwa dan fasilitas air kecil itu - untuk yang lainnya, arahannya adalah 'tidak ada yang tersisa.'"
Laporan tersebut juga menguraikan bagaimana Israel berusaha menghancurkan kemandirian Palestina dalam produksi pangan dengan menghancurkan "sekitar 35 persen dari seluruh pertanian di Jalur Gaza".
"Hal ini melumpuhkan kemandirian Gaza dengan meningkatkan ketergantungannya pada makanan yang masuk dari penyeberangan yang dikontrol IDF, sehingga menggagalkan setiap upaya pembangunan berkelanjutan di masa mendatang," tambah laporan tersebut.
Menurut seorang mantan sersan pertama cadangan di Brigade ke-5, area di perbatasan Gaza dihancurkan secara total, termasuk blok perumahan atau lahan pertanian.
"Yang Anda lakukan adalah menghancurkan satu kilometer ke arah barat di sepanjang jalur tersebut, dari pagar ke arah dalam. Pada dasarnya menciptakan jalur yang steril - di mana dulunya ada ladang, kebun, segala macam hal - tidak ada apa-apa, steril," katanya.
"Sebelumnya ladang atau kebun. Setelahnya - pasir, bukit pasir, kehancuran. Itu benar-benar tidak mengejutkan saya, jelas bagi saya bahwa inilah yang sedang terjadi, bahwa kami akan menghancurkan Jalur (Gaza)."
Prajurit lain mengatakan ekskavator besar digunakan di ladang, mengeruk tanah dan tumbuhan di area tersebut menggunakan kendaraan lapis baja, tank, dan D9 (buldozer lapis baja). D9 digunakan untuk menghancurkan ladang, tanaman, pohon zaitun, ladang terong.
Laporan tersebut mencatat bahwa pembentukan perimeter dan penegakan kontrol militer yang ketat menyebabkan pemusnahan lebih dari "3.500 bangunan, serta kawasan industri dan pertanian yang sangat penting bagi kehidupan di Jalur Gaza".
"Semuanya terhapus dari muka bumi. Pemusnahan, perampasan, dan pengusiran adalah tindakan yang tidak bermoral dan tidak boleh dianggap sebagai hal yang wajar atau sah," kata laporan itu.