Tak Tinggal Diam, Setelah Trump Giliran Putin Terbang ke China Temui Xi Jinping
Kunjungan Presiden Putin ke China direncanakan akan berlangsung dalam waktu dekat.
Presiden Rusia, Vladimir Putin dijadwalkan untuk melakukan kunjungan kenegaraan ke China pada tanggal 19 Mei, yang akan berlangsung selama dua hari. Kunjungan ini diumumkan oleh Kremlin segera setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyelesaikan lawatannya ke Beijing.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada hari Sabtu, Kremlin menyebutkan bahwa Putin akan melakukan pembicaraan dengan Presiden China, Xi Jinping, untuk membahas upaya memperkuat "kemitraan komprehensif dan kerja sama strategis" antara Moskow dan Beijing, sebagaimana dikutip dari Japan Times pada Minggu (17/5).
Kedua pemimpin juga akan bertukar pandangan mengenai berbagai isu internasional dan regional yang penting. Di akhir pertemuan, Rusia dan China direncanakan akan menandatangani deklarasi bersama.
Selain mengadakan pertemuan dengan Xi, Putin juga dijadwalkan untuk berbicara dengan Perdana Menteri China, Li Qiang, mengenai kerja sama di bidang ekonomi dan perdagangan. Pengumuman mengenai kunjungan Putin ini muncul sehari setelah Trump menyelesaikan kunjungannya ke China, yang menjadi kunjungan pertama presiden Amerika Serikat ke Beijing dalam hampir satu dekade.
Selama lawatan tersebut, meskipun Trump dan Xi membahas berbagai isu global, termasuk perang Rusia-Ukraina dan ketegangan dengan Iran, tidak ada terobosan signifikan yang diumumkan dari pertemuan tersebut. Sebelum kunjungan Trump ke Beijing, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, sempat meminta Washington untuk mengangkat isu penghentian perang dalam pembicaraan dengan Xi. Namun, Moskow tetap menolak untuk melakukan gencatan senjata atau negosiasi menyeluruh dengan Kyiv selama tuntutan Rusia belum dipenuhi.
Di tengah konflik yang terus berlangsung, China terus menyerukan dialog damai, tetapi tidak pernah secara terbuka mengecam invasi Rusia ke Ukraina sejak perang dimulai pada Februari 2022. Beijing juga membantah telah memasok senjata atau komponen militer kepada Moskow. Sebaliknya, China menilai bahwa negara-negara Barat justru memperpanjang konflik dengan terus memasok persenjataan kepada Ukraina.
Hubungan ekonomi antara China dan Rusia semakin erat
Sejak negara-negara Barat memberlakukan sanksi terhadap sektor energi Rusia, hubungan ekonomi antara Rusia dan China semakin menguat. Saat ini, China telah menjadi salah satu pembeli utama bagi minyak dan gas yang diproduksi Rusia. Di sisi lain, mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim bahwa ia telah berhasil mencapai kesepakatan dagang yang "fantastis" dengan Beijing, yang mencakup komitmen pembelian 200 pesawat Boeing serta impor minyak dan kedelai dari AS. Namun, hingga saat ini, pemerintah China belum memberikan pengumuman resmi mengenai rincian dari kesepakatan tersebut.
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, menyatakan sambutan positif terhadap pertemuan puncak antara China dan AS. Namun, ia menegaskan bahwa hubungan antara Moskow dan Beijing tetap lebih kuat dibandingkan dengan aliansi politik atau militer tradisional yang ada. "Jika kesepakatan antara Beijing dan Washington menguntungkan mitra China kami, kami tentu menyambut baik," kata Lavrov dalam konferensi pers yang diadakan di New Delhi. Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun ada interaksi antara China dan AS, Rusia tetap berkomitmen untuk menjaga dan memperkuat hubungan strategisnya dengan China.