Ratu Kecantikan Myanmar Tewas Akibat Gempa, Jasadnya Tertimbun Reruntuhan Bangunan 12 Lantai
Gempa bumi dahsyat di Myanmar menewaskan lebih dari 3.000 orang, termasuk Miss Tourism Myanmar 2018, Silimee.
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Myanmar pada Jumat, 28 Maret 2025, menyebabkan kerusakan besar dan menelan ribuan korban jiwa. Salah satu korban yang paling menyedihkan adalah Silimee, pemenang ajang ratu kecantikan Miss Tourism Myanmar 2018, yang ditemukan tewas tertimbun reruntuhan Kondominium Sky Villa, bangunan 12 lantai di Mandalay.
Gempa susulan berkekuatan hingga 7,5 semakin memperparah kerusakan dan jumlah korban. Tragedi ini diumumkan oleh organisasi Miss Tourism Myanmar melalui Facebook pada 2 April 2025.
Lebih dari 3.000 orang meninggal dunia di Myanmar akibat gempa tersebut, dan angka ini terus meningkat seiring berjalannya operasi pencarian dan penyelamatan. Selain korban jiwa di Myanmar, gempa juga menyebabkan sedikitnya 15 orang tewas dan puluhan lainnya hilang di Thailand. Bencana ini telah menimbulkan krisis kemanusiaan yang serius di Myanmar, dengan ribuan bangunan hancur, jalan retak, jembatan runtuh, dan warga kekurangan makanan, air bersih, dan tempat tinggal. Minimnya pasokan medis juga memperburuk situasi.
"Ini adalah gempa terbesar yang melanda Myanmar dalam lebih dari satu abad," kata seorang ahli geologi Amerika Serikat, seperti yang dikutip oleh AFP. Guncangan gempa terasa hingga ke Thailand, ratusan kilometer dari pusat gempa, mengakibatkan runtuhnya sebuah gedung pencakar langit di Bangkok. Bantuan kemanusiaan telah berdatangan dari berbagai negara, namun tantangan masih tetap ada, terutama dengan prediksi hujan di luar musim yang akan dimulai pada 11 April 2025. Junta Myanmar telah mengumumkan gencatan senjata selama tiga minggu untuk memfasilitasi operasi penyelamatan.
Tragedi di Kondominium Sky Villa
Kondominium Sky Villa, yang selesai dibangun pada tahun 2017 dan dipromosikan sebagai bangunan dengan 'fondasi tahan gempa', menjadi salah satu bangunan yang paling parah terdampak gempa. Bangunan ini, yang menampung bar atap terbesar di Mandalay dan pusat kebugaran berteknologi tinggi, runtuh akibat guncangan dahsyat. Silimee, Miss Tourism Myanmar 2018, ditemukan tewas di bawah reruntuhan bangunan ini. "Ia terjebak dalam runtuhnya kondominium Sky Villa saat gempa terjadi dan ditemukan tewas oleh tim penyelamat pada tanggal 2 April 2025," demikian pernyataan organisasi Miss Tourism Myanmar.
Penemuan jenazah Silimee menambah kepedihan atas bencana ini. Kehilangan seorang figur publik yang begitu dikenal dan dikagumi semakin menyoroti dampak besar gempa bumi terhadap masyarakat Myanmar. Kejadian ini juga mempertanyakan klaim ketahanan gempa bangunan-bangunan modern di Myanmar.
Tim penyelamat terus bekerja keras untuk mencari korban selamat dan mengevakuasi korban meninggal dari bawah reruntuhan bangunan yang hancur. Upaya ini dihambat oleh kerusakan infrastruktur dan minimnya peralatan.
Dampak Gempa di Myanmar dan Thailand
Gempa bumi ini tidak hanya berdampak besar di Myanmar, tetapi juga di negara-negara tetangga. Di Thailand, runtuhnya gedung pencakar langit setinggi 30 lantai di Bangkok menewaskan sedikitnya 10 orang dan menyebabkan puluhan lainnya hilang. Gubernur Bangkok, Chadchart Sittipunt, mengatakan kepada AFP, "Sekitar 10 orang dikonfirmasi tewas di seluruh kota, sebagian besar akibat runtuhnya gedung pencakar langit tersebut. Namun, hingga 100 pekerja masih belum ditemukan." Kerusakan infrastruktur yang parah di Myanmar dan Thailand menimbulkan tantangan besar dalam upaya penyelamatan dan pemulihan.
Jumlah korban tewas akibat gempa di Myanmar dan Thailand telah melewati 1.000 orang pada Sabtu, 29 Maret 2025. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat seiring berjalannya operasi pencarian dan penyelamatan. Kerusakan infrastruktur yang meluas, termasuk jalan raya, jembatan, dan rumah sakit, memperumit upaya bantuan.
Selain korban jiwa, gempa juga menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur. Jalan raya retak, jembatan runtuh, dan banyak bangunan hancur. Kerusakan ini menghambat upaya penyelamatan dan distribusi bantuan kemanusiaan.
Hingga Kamis, 3 April 2025, jumlah korban tewas di Myanmar telah meningkat menjadi 3.085, menurut Reuters. Angka ini menunjukkan betapa dahsyatnya dampak gempa bumi tersebut.
Bencana ini telah menimbulkan krisis kemanusiaan yang serius di Myanmar, dengan ribuan orang kehilangan tempat tinggal dan membutuhkan bantuan makanan, air bersih, dan perawatan medis. Upaya bantuan internasional terus berlanjut, namun tantangan masih tetap ada.
Upaya Penanganan Bencana
Berbagai negara telah mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Myanmar dan Thailand untuk membantu korban gempa. Bantuan tersebut meliputi tim penyelamat, peralatan medis, dan bantuan logistik. Namun, tantangan logistik dan kerusakan infrastruktur yang parah menghambat pendistribusian bantuan secara efektif.
Junta Myanmar telah mengumumkan gencatan senjata selama tiga minggu untuk memfasilitasi operasi penyelamatan dan distribusi bantuan. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat upaya pemulihan dan membantu korban bencana.
Prediksi hujan di luar musim yang akan dimulai pada 11 April 2025 menambah kekhawatiran. Hujan tersebut berpotensi menyebabkan tanah longsor dan banjir, yang dapat memperparah situasi dan menghambat upaya pemulihan.