Netanyahu Cekcok dengan Panglima Militer Israel Soal Duduki Gaza, Ancam Bakal Pecat
Konflik antara mereka juga melibatkan anak dari Netanyahu.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Kepala Staf Angkatan Pertahanan Israel (IDF), Eyal Zamir, dilaporkan terlibat dalam perselisihan mengenai rencana untuk sepenuhnya menduduki Gaza. Zamir berpendapat bahwa keputusan ini adalah sebuah "jebakan" bagi IDF.
Ketegangan di antara keduanya juga dilaporkan meningkat, menurut media berbahasa Ibrani, akibat sebuah unggahan di platform X oleh Yair Netanyahu, putra perdana menteri yang tidak memiliki jabatan resmi di pemerintahan. Dalam unggahannya, Yair mengeluarkan serangan tajam yang ditujukan secara tidak langsung kepada Zamir, menuduhnya sebagai otak dari upaya kudeta militer. Hal ini dilaporkan oleh The Times of Israel.
Zamir menolak tuduhan tersebut dan dalam pertemuan yang sama, ia mengungkapkan, "Kenapa Anda menyerang saya? Kenapa Anda justru memusuhi saya di tengah situasi perang seperti ini?" Menanggapi hal itu, Netanyahu dilaporkan berkata, "Jangan ancam akan mundur lewat media. Saya tidak bisa menerima jika setiap kali rencana Anda tidak disetujui, Anda mengancam akan mundur. Anak saya sudah 33 tahun, dia pria dewasa." Sumber-sumber di Kantor Perdana Menteri menyatakan bahwa Zamir telah berulang kali berselisih dengan kabinet, dan jika ia menolak rencana pendudukan Gaza, maka ia dipersilakan untuk mengundurkan diri. Dalam sebuah diskusi pada Selasa (5/8/202), Zamir juga dilaporkan menyatakan bahwa pendudukan penuh dapat membahayakan sandera yang masih ditahan di Gaza dan akan semakin membebani militer.
Keputusan mengenai rencana pendudukan penuh Gaza telah ditetapkan
Ketegangan yang terjadi saat ini merupakan bagian terbaru dari serangkaian konflik antara kabinet dan para pemimpin IDF. Laporan menyebutkan bahwa perdebatan tersebut berlangsung dalam pertemuan selama tiga jam yang melibatkan sejumlah kecil menteri, menjelang pemungutan suara kabinet untuk menyetujui rencana pendudukan. Menurut kabar, Netanyahu telah memutuskan untuk melanjutkan rencana pendudukan, yang telah lama menjadi tuntutan dari mitra koalisinya yang berasal dari kelompok sayap kanan ekstrem, setelah upaya negosiasi dengan Hamas terhenti dalam beberapa minggu terakhir. "Anda akan menciptakan jebakan di Gaza," ungkap Zamir kepada Netanyahu, seperti yang dilaporkan oleh Kan.
Media Channel 12 Israel mengutip pernyataan Zamir yang menyatakan bahwa pendudukan tersebut akan meningkatkan risiko bagi nyawa para sandera dan melemahkan kekuatan militer. Zamir, menurut laporan kedua media tersebut, menyarankan agar alih-alih menaklukkan seluruh wilayah, IDF sebaiknya mengepung Kota Gaza dan mungkin juga pusat-pusat populasi lainnya, lalu memanfaatkan posisi tersebut untuk melancarkan serangan. Situs berita Walla melaporkan bahwa kepala staf IDF tersebut mengusulkan pendekatan yang lebih bertahap. Sebagai tanggapan, Netanyahu dilaporkan memerintahkan Zamir untuk menyiapkan rencana pendudukan Gaza dan menyajikannya kepada kabinet. Kan melaporkan bahwa ketika Zamir mengatakan dia sudah menyajikan rencana itu, perdana menteri menjawab, "Perbaiki dan presentasikan ulang." Dalam pernyataan resmi yang dirilis setelah pertemuan, kantor Netanyahu menyatakan, "IDF siap melaksanakan keputusan apa pun yang diambil oleh kabinet keamanan." Kabinet keamanan diperkirakan akan mengadakan pertemuan pada Kamis (7/8) untuk menyetujui rencana pendudukan.
Berapa jumlah sandera yang masih ada di Gaza?
Saat ini, IDF menguasai kurang lebih 75 persen dari wilayah Gaza. Namun, pemerintah telah mengajukan rencana baru yang mengharuskan militer untuk mengambil alih seluruh sisa wilayah, yang berarti seluruh Gaza akan berada di bawah kontrol penuh Israel. Dampak dari langkah ini terhadap jutaan warga sipil di Gaza dan kelompok-kelompok kemanusiaan yang beroperasi di sana masih belum jelas.
Perang di Gaza dimulai pada 7 Oktober 2023, ketika kelompok bersenjata yang dipimpin oleh Hamas melancarkan serangan terhadap Israel. Menurut otoritas Israel, serangan tersebut mengakibatkan sekitar 1.200 orang tewas dan 251 lainnya disandera. Sejak saat itu, beberapa sandera telah dibebaskan melalui kesepakatan dan operasi militer. Dalam periode gencatan senjata antara Januari dan Maret 2024, Hamas membebaskan 30 sandera, yang terdiri dari 20 warga sipil Israel, lima tentara, dan lima warga negara Thailand, serta menyerahkan delapan jenazah sandera.
Pada bulan Mei, satu sandera tambahan, seorang warga negara ganda Amerika Serikat-Israel, juga berhasil dibebaskan. Sebelumnya, dalam gencatan senjata selama sepekan di akhir November 2023, Hamas membebaskan 105 warga sipil. Empat sandera lainnya telah dibebaskan lebih awal, di minggu-minggu pertama perang. Delapan sandera berhasil diselamatkan dalam keadaan hidup oleh pasukan Israel. Di sisi lain, jenazah 49 sandera telah ditemukan, termasuk tiga yang tragisnya tertembak oleh tentara Israel saat berusaha melarikan diri, serta satu jenazah tentara yang gugur pada tahun 2014.
Dengan demikian, dari total 251 sandera yang diculik, 197 orang telah dibebaskan, diselamatkan, atau ditemukan dalam keadaan meninggal. Hingga saat ini, sekitar 50 sandera masih diyakini berada di Gaza. Diperkirakan setidaknya 20 dari mereka masih hidup, sementara 28 lainnya telah dikonfirmasi tewas. Israel juga menyatakan keprihatinan serius terhadap dua sandera lain yang statusnya masih belum jelas.