Kondisi Terkini Konflik Thailand-Kamboja, Senjata Berat Mulai Dipakai
Pemerintah Thailand menginformasikan bahwa lebih dari 100.000 warga telah berhasil dievakuasi dari wilayah yang mengalami konflik.
Kondisi terkini perang Thailand vs Kamboja dilaporkan terjadi saling tembak menggunakan artileri berat. Ini menandai peningkatan ketegangan konflik paling serius selama lebih dari sepuluh tahun.
Mengutip CNA, Jumat (25/7), bentrokan ini berlanjut ke hari kedua, dengan militer Thailand melaporkan bahwa Pasukan Kamboja melakukan pengeboman berkelanjutan dengan menggunakan senjata berat, artileri lapangan, dan sistem roket BM-21.
Menanggapi serangan tersebut, pasukan Thailand memberikan tembakan balasan yang sesuai dengan situasi taktis yang ada di lapangan.
"Pasukan Thailand merespons dengan tembakan balasan yang proporsional, disesuaikan dengan situasi taktis di lapangan," ungkap mereka.
Di sisi lain, sebuah lembaga ranjau darat yang beroperasi di bawah pemerintah Kamboja menuduh bahwa militer Thailand telah menggunakan bom curah dalam jumlah besar, yang juga dikenal sebagai munisi tandan atau bom klaster.
Mereka mengekspresikan keprihatinan mendalam mengenai apa yang dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap norma-norma kemanusiaan.
Pernyataan dari Cambodian Mine Action and Victim Assistance Authority mengutip laporan militer Kamboja yang dikeluarkan pada pagi hari Jumat, yang menyebutkan bahwa sejumlah besar munisi tandan telah digunakan dua kali dalam waktu 90 menit di Preah Vihear, provinsi yang berbatasan dengan Thailand.
Hal ini tentu saja membahayakan keselamatan komunitas yang tinggal di sekitar wilayah tersebut.
Hingga saat ini, Kementerian Luar Negeri Thailand belum memberikan tanggapan resmi terhadap permintaan komentar mengenai tuduhan yang diajukan tersebut.
Situasi ini menunjukkan betapa kompleksnya hubungan antara kedua negara, dan bagaimana konflik yang berlangsung dapat berdampak pada kehidupan masyarakat di perbatasan.
Jumlah Korban Meningkat
Bentrokan antara Thailand dan Kamboja telah terjadi di 12 titik di sepanjang perbatasan yang menjadi sengketa, menurut seorang pejabat militer Thailand pada hari Jumat.
Hal ini menunjukkan bahwa konflik yang dimulai sehari sebelumnya semakin meluas. Kedua negara saling menuduh mengenai penyebab awal dari ketegangan yang muncul pada Kamis (24/7) di daerah perbatasan yang disengketakan.
Pertikaian tersebut dengan cepat meningkat dari baku tembak menggunakan senjata ringan menjadi serangan artileri berat di setidaknya enam lokasi yang tersebar sepanjang 209 kilometer, di wilayah yang telah diperebutkan selama lebih dari satu abad.
Jurnalis Reuters yang berada di Provinsi Surin melaporkan mendengar suara dentuman ledakan yang terjadi secara berkala pada hari Jumat, di tengah mobilisasi besar-besaran pasukan.
Pertempuran dimulai pada Kamis, hanya beberapa jam setelah Thailand memanggil pulang duta besarnya dari Phnom Penh pada malam sebelumnya dan mengusir utusan Kamboja.
Tindakan tersebut diambil sebagai respons terhadap insiden di mana seorang prajurit Thailand kehilangan anggota tubuh akibat ranjau darat yang, menurut pihak Bangkok, baru saja dipasang oleh tentara Kamboja. Namun, Kamboja membantah semua tuduhan tersebut dan menyebutnya tidak berdasar.
Menurut informasi dari Kementerian Kesehatan Thailand, jumlah korban jiwa dari pihak Thailand telah meningkat menjadi 15 orang hingga Kamis malam, di mana 14 di antaranya adalah warga sipil.
Selain itu, dilaporkan juga bahwa terdapat 46 orang yang mengalami luka-luka, termasuk 15 tentara. Meth Meas Pheakdey, juru bicara administrasi Provinsi Oddar Meanchey di Kamboja, menyatakan bahwa satu warga sipil tewas dan lima lainnya mengalami luka-luka, serta sekitar 1.500 keluarga harus dievakuasi dari daerah tersebut.
F-16 Menunjukkan Keunggulan Thailand
Pada hari Kamis, Thailand meluncurkan enam jet tempur F-16 dalam sebuah operasi yang jarang terjadi, di mana salah satu jet digunakan untuk menyerang target militer di Kamboja. Tindakan ini dianggap oleh Kamboja sebagai agresi militer yang sangat sembrono dan brutal.
Menurut International Institute for Strategic Studies yang berlokasi di London, penggunaan F-16 oleh Thailand menunjukkan dominasi militer mereka atas Kamboja, yang tidak memiliki pesawat tempur serta memiliki perlengkapan dan personel pertahanan yang jauh lebih sedikit.
Menanggapi tuduhan mengenai serangan terhadap wilayah sipil, militer Thailand menyatakan pada hari Jumat bahwa mereka berusaha untuk menghindari target yang dapat membahayakan warga sipil, sesuai dengan norma internasional yang berlaku.
Selain itu, militer Thailand juga menuduh Kamboja menggunakan artileri dan roket di dekat pemukiman, yang merupakan taktik yang dikenal sebagai "tameng manusia." Amerika Serikat, yang merupakan sekutu jangka panjang Thailand, mendesak agar permusuhan dihentikan segera, melindungi warga sipil, dan menyelesaikan konflik secara damai.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, yang juga menjabat sebagai ketua ASEAN—organisasi regional yang mencakup Thailand dan Kamboja—mengungkapkan bahwa ia telah berbicara dengan pemimpin kedua negara dan mendorong mereka untuk mencari solusi damai.
"Saya menyambut baik sinyal positif dan kesediaan yang ditunjukkan baik oleh Bangkok maupun Phnom Penh untuk mempertimbangkan jalan damai ini. Malaysia siap membantu dan memfasilitasi proses ini dalam semangat persatuan dan tanggung jawab bersama ASEAN," tulisnya dalam sebuah unggahan di media sosial pada Kamis malam.