Ketika Keluarga Suku Amazon Kehilangan Segalanya
Berdasarkan data yang dihimpun oleh INPE, pusat penelitian luar angkasa Brasil, jumlah kebakaran yang terjadi di kawasan hutan Amazon hingga bulan Agustus ini mengalami peningkatan sebesar 83 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.
Keluarga suku asli Amazon berjuang menyelamatkan rumah dan tanah mereka ketika api melahap sebagian wilayah hutan hujan Amazon, Brasil.
Selama dua minggu terakhir, Zonalia Santos dan tetangganya telah menghabiskan hari-hari mereka dengan berjuang menyelamatkan harta benda dan hasil panen mereka di Randonia, Brasil, akibat kebakaran hebat yang melanda kawasan Amazon.
Santos tinggal di sebuah pemukiman yang ditinggali sekitar 35 keluarga. Meskipun mereka berhasil menyelamatkan rumah mereka dari kobaran api, namun api terlanjur menyentuh hampir semua lahan kebun warga.
"Kami menghabiskan sepanjang hari untuk melawan sendiri kobaran api itu, tetapi api telah melahap padang rumput, semak, pohon kakao, kayu, tanaman kacang, atau pohon acai beri," ungkapnya.
Padahal, Santos dan keluarganya sangat bergantung pada hasil kebun kakao. Setiap bulannya, sekitar USD 100 dapat dihasilkannya dari bahan utama cokelat itu. Dia mengatakan, warga setempat masih beruntung karena api tidak sampai menghancurkan semua hasil tanam mereka, tetapi tetap saja beberapa keluarga kehilangan hampir segala yang mereka punya.
"Kerusakannya tidak dapat dipulihkan. Pada titik tertentu, ketika kami memadamkan api kami mulai menangis, karena sangat sedih," kata Santos, seperti yang dikutip oleh Aljazeera.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh INPE, pusat penelitian luar angkasa Brasil, jumlah kebakaran yang terjadi di kawasan hutan Amazon hingga bulan Agustus ini mengalami peningkatan sebesar 83 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.
Melalui pantauan satelit, INPE mendeteksi ada 72.843 kasus kebakaran lahan terjadi tahun ini. Dikatakan, sejumlah negara bagian seperti Amazonas, Rondonia, Acre, Para, dan Mato Grosso do Sul menjadi daerah yang turut terkena dampak kebakaran Amazon. Dikabarkan, hanya dalam kurun waktu sepekan 9.507 kebakaran baru terdeteksi di kawasan hutan hujan terluas di dunia itu.
Luasnya area yang terbakar membuat kabut asap tebal menyebar ke nyaris seluruh benua Amerika. Kondisi ini memaksa sejumlah penerbangan dibatalkan. Asap yang timbulkan pun turut berdampak pada kesehatan warga. Aljazeera menyebutkan, banyak warga yang harus dirawat di rumah sakit akibat masalah pernapasan.
"Kita tidak bisa bernapas karena asap dan kita tidak bisa tidur karena takut. Di tempat lain yang terbakar, tidak ada tempat lain untuk pergi," ungkap Santos.
Di Sao Paulo, Brasil, warga dikejutkan dengan pemandangan gelap langit mereka di siang hari. Kabut hitam menutupi Kota Sao Paulo yang berjarak 2.500 km dari kawasan hutan Amazon.
Sementara di negara bagian Amazonas, diumumkan terjadi keadaan darurat di Ibu Kota Manaus pada 9 Agustus lalu. Seminggu berselang, peringatan yang sama dikeluarkan di Acre, wilayah Brasil yang berbatasan dengan Peru.
Dalam dunia maya, ribuan orang menggunakan tagar #PrayForAmazonia untuk mengecam peristiwa kebakaran tersebut. Banyak pihak mengatakan, hebatnya kebakaran yang melanda kawasan Amazon merupakan hasil konsekuensi dari kebijakan Presiden Brasil, Jair Bolsonaro.
Pemerintahan Bolsonaro dinilai memuat kebijakan yang tidak ramah bagi lingkungan. Bolsonaro dianggap tidak tegas dalam mengontrol masalah lingkungan dan mendorong aksi penebangan hutan. Bahkan, dikatakan pemerintah Brasil lebih simpati pada kelompok penebang hutan, daripada masyarakat adat yang menetap di Amazon.
Baca juga:
Ini Dampak Kebakaran Hutan Amazon Bagi Dunia
Presiden Brasil Minta Dunia Tidak Ikut Campur soal Kebakaran Hutan Amazon
Potret Aktivitas Penduduk Asli Hutan Amazon
Pantauan Udara Kebakaran Hutan Amazon, Terparah Sepanjang Sejarah
Presiden Brasil Tuduh LSM Penyebab Kebakaran Hutan Amazon
Awal Mula Kebakaran
Pada Rabu (21/8) Bolsonaro menanggapi tuduhan yang menyudutkannya atas kebakaran Amazon. Dia membalas tuduhan itu dengan mengklaim bahwa kelompok masyarakat peduli lingkungan dengan sengaja membakar wilayah Amazon. Menurutnya, tindakan tersebut sengaja dilakukan sejumlah LSM untuk menjatuhkan pemerintahannya, sekaligus mencari perhatian dunia.
Namun keesokannya, ketika dimintai keterangan oleh wartawan Bolsonaro berdalih bahwa dia tidak mengklaim LSM sebagai pelaku pembakaran hutan, melainkan hanya menduga. Di kesempatan yang sama dia menjelaskan, pemerintah Brasil masih kekurangan sumber daya untuk mengatasi kobaran api.
"Cuaca kering, angin, dan panas menyebabkan peningkatan kebakaran di seluruh negara," jelas Menteri Lingkungan Hidup Brasil, Ricardo Salles melalui Twitter.
Sebaliknya, INPE menolak penjelasan Salles. INPE mengatakan bahwa kondisi kering tahun ini di Amazon bukan kondisi "tidak wajar" dan tidak dapat disalahkan atas kebakaran Amazon.
"Musim kemarau menciptakan kondisi yang mendukung bagi penyebaran api, tetapi menyalakan api adalah perbuatan manusia, baik disengaja maupun tidak," kata peneliti INPE, Alberto Setzer kepada kantor berita Reuters.
Sementara itu, Direktur Sains di IPAM, institut penelitian lingkungan Amazon Ane Alencar mengatakan bahwa peningkatan kebakaran sebenarnya berkaitan dengan meningkatnya aksi penebangan hutan.
"Kami melihat musim kemarau masih sangat normal. Jadi yang berbeda adalah bahwa kami melihat lebih banyak deforestasi (penebangan hutan) dan yang menyebabkan lebih banyak kebakaran karena hutan lebih rapuh," jelasnya kepada Al Jazeera, seperti yang dikabarkan pada Jumat (23/8).
Menurut surat kabar Brasil, Folha do Progresso, kebakaran dimulai sejak 10 Agustus ketika sebuah asosiasi petani di Para mengumumkan apa yang disebut "hari api". Dikabarkan, aksi tersebut dilakukan untuk memicu kebakaran dan menunjukkan pada Bolsonaro bahwa "mereka siap bekerja". Hari itu, INPE mencatat 124 kebakaran baru terjadi. Sehari berikutnya, 203 kasus lainnya mengikuti.
Jaksa Penuntut Umum di Para telah membuka penyelidikan atas insiden tersebut.
Pemerintah harus bertanggung jawab
Presiden Bolsonaro tidak menampik ketika dikatakan bahwa kepemimpinannya lebih mendukung bisnis di tanah Amazon. Beberapa kali dia mendukung pembukaan lahan di kawasan hutan hujan Amazon. Dia juga mendukung adanya eksplorasi pertambangan dan pertanian.
Ketika dituduh memiliki pandangan anti-pribumi, presiden berusia 64 tahun itu mengatakan bahwa dirinya tidak akan membatasi satu sentimeter pun dengan penduduk lokal.
"Situasi di sini mengerikan, dari kebakaran yang memasuki tanah adat dan saya menyalahkan pemerintah untuk ini," ujar Ivaneide Bandeira, anggota Asosiasi Kaninde, kelompok yang melindungi lingkungan dan suku asli Rondonia.
Kepada Aljazeera, Bandeira menjelaskan bahwa cuaca di Rondonia selalu gelap, rumah sakit penuh karena warga menderita gangguan pernapasan. Masalah pernapasan juga dialaminya, di mana setiap tengah malam dia harus berjuang untuk bernapas.
"Situasinya seribu kali lebih buruk daripada tahun-tahun sebelumnya," katanya.
Bandeira menambahkan, pelaku penebangan hutan semakin diperkuat dengan sikap pemerintah yang membuka peluang untuk dapat membakar, menebangi, dan menghancurkan Amazon.
"Pemerintah melemahkan perlindungan dan otoritas lingkungan," tambahnya.
Aljazeera melaporkan, kawasan Cagar Adat Karipuna menjadi salah satu lokasi yang terkena dampak kebakaran. Pemimpin suku Karipuna, Adriano Karipuna menyebutkan, banyak kerabatnya yang menderita sakit pernapasan, mata memerah, batuk, hingga flu, sejak kebakaran merusak hijaunya Amazon.
"Desa saya masih bergantung pada berburu dan memancing. Sekarang, semua hewan lari dan jika kita terus kehilangan pohon, sungai kita akhirnya akan mati," ujarnya kecewa.
Berdasarkan laporan INPE, setidaknya 32 cagar alam dan 36 cagar adat terkena dampak kebakaran hutan. Dalam beberapa hari terakhir, hujan sesekali memberikan sedikit napas lega kepada penduduk kota terdekat. Akan tetapi, hujan tersebut tidak cukup meredam kekhawatiran warga.
Reporter Magang: Anindya Wahyu Paramita