Kecelakaan Pesawat di Turki, Kepala Staf Militer Libya Tewas
Sebuah jet pribadi yang mengalami kecelakaan di Turki mengangkut lima penumpang dan tiga anggota kru.
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Libya, Mohammed Ali Ahmed al-Haddad, beserta empat anggota rombongannya tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat di Turki.
Selain mereka, tiga kru pesawat juga dilaporkan kehilangan nyawa dalam insiden tersebut.
Menurut laporan dari kantor berita Turki Anadolu, kecelakaan itu melibatkan sebuah jet pribadi bisnis tipe Falcon 50 dengan nomor ekor 9H-DFJ.
Pesawat tersebut lepas landas dari Bandara Esenboga di Ankara menuju Tripoli pada malam hari, tepatnya pada Selasa (23/12).
Pesawat tersebut berangkat pada pukul 20.10 waktu setempat dengan membawa lima penumpang, termasuk Mohammed Ali Ahmed al-Haddad.
Setelah beberapa waktu, tepatnya pada pukul 20.52 waktu setempat, komunikasi dengan pesawat tiba-tiba terputus.
Menteri Dalam Negeri Turki, Ali Yerlikaya, menyatakan bahwa sebelum kehilangan kontak sepenuhnya, pesawat sempat mengirimkan sinyal darurat untuk melakukan pendaratan di sekitar wilayah Haymana.
Burhanettin Duran, Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Turki, dalam pernyataannya kepada Associated Press, menjelaskan bahwa pesawat sempat melaporkan adanya gangguan kelistrikan dan meminta izin untuk melakukan pendaratan darurat.
Pesawat diarahkan kembali ke Bandara Esenboga, Ankara, dan persiapan untuk pendaratannya sudah dilakukan.
"Namun, saat pesawat sedang menuruni ketinggian untuk melakukan pendaratan darurat, pesawat menghilang dari radar," ungkap Duran.
Setelah itu, tim gendarmerie Turki, yang merupakan pasukan keamanan yang bertugas di daerah pedesaan, dikerahkan untuk mencari pesawat yang hilang.
Reruntuhan pesawat akhirnya ditemukan sekitar dua kilometer di selatan Desa Kesikkavak, di Distrik Haymana, wilayah selatan Ankara.
Di sisi lain, Menteri Kehakiman Turki, Yilmaz Tunc, mengungkapkan bahwa pihaknya telah memulai penyelidikan untuk mengetahui penyebab kecelakaan yang merenggut nyawa tersebut.
Apa yang sedang dilakukan pejabat militer Libya di Turki?
Pejabat tinggi Turki mengungkapkan bahwa delegasi dari Libya telah tiba di Ankara untuk mengadakan pembicaraan tingkat tinggi mengenai pertahanan, dengan tujuan untuk memperkuat kerjasama militer antara kedua negara.
Dalam kecelakaan pesawat yang tragis tersebut, terdapat empat penumpang yang kehilangan nyawa, termasuk Kepala Pasukan Darat Libya, Jenderal Al-Fitouri Ghraibil, dan Brigadir Jenderal Mahmoud Al-Qatawi yang memimpin otoritas manufaktur militer.
Selain itu, penasihat Kepala Staf, Mohammed Al-Asawi Diab, dan fotografer militer, Mohammed Omar Ahmed Mahjoub, juga menjadi korban.
Pemerintah Libya telah mengumumkan tiga hari berkabung nasional setelah kejadian nahas ini.
Selama masa berkabung, semua institusi negara diwajibkan untuk mengibarkan bendera setengah tiang, dan seluruh acara resmi serta perayaan akan ditunda.
Menurut pernyataan yang diunggah di media sosial Facebook, Libya berencana mengirimkan tim ke Ankara untuk bekerja sama dengan pihak berwenang Turki dalam menyelidiki kecelakaan pesawat tersebut.
Sejak pemberontakan yang terjadi pada tahun 2011 yang berhasil menggulingkan dan menewaskan diktator Moammar Gadhafi, Libya telah terjebak dalam kekacauan.
Negara ini terpecah menjadi dua kubu, dengan pemerintah saingan yang beroperasi di wilayah timur dan barat, masing-masing didukung oleh berbagai milisi bersenjata serta pemerintah asing.
Turki selama ini telah menjalin hubungan erat dengan pemerintahan Libya yang berbasis di Tripoli, namun belakangan ini juga berupaya untuk memperbaiki hubungan dengan pemerintahan yang berada di wilayah timur.
Kunjungan delegasi Libya pada hari Selasa tersebut terjadi sehari setelah parlemen Turki menyetujui perpanjangan mandat pasukan Turki yang bertugas di Libya selama dua tahun.
Pengiriman pasukan Turki ke Libya merupakan hasil dari perjanjian kerjasama keamanan dan militer yang ditandatangani pada tahun 2019 antara Ankara dan pemerintahan yang berbasis di Tripoli.