FOTO: Sisi Gelap Kota Termahal di Muka Bumi, Orang Miskin Tinggal di Rumah Peti Mati
Di balik kemakmuran ekonominya, Hong Kong ternyata menyimpan sisi gelap. Ribuan warga berpenghasilan rendah terpaksa hidup di rumah super sempit bak peti mati.
Hong Kong, kota metropolitan yang dikenal dengan pusat keuangan global dan memegang rekor sebagai kota paling mahal untuk ditinggali, menyimpan sisi gelap di balik gemerlapnya.
Di tengah kemakmuran ekonomi, ribuan warga Hong Kong hidup tinggal dalam tempat memprihatinkan yang dikenal sebagai 'rumah peti mati' atau 'coffin homes'.
Rumah peti mati merujuk pada unit hunian yang sangat kecil, dengan luas hanya berkisar 3 meter persegi, lebih sempit daripada peti mati, memaksa penghuninya hidup dalam kondisi yang sangat sesak dan tidak layak.
Krisis Perumahan Hong Kong
Hong Kong menghadapi krisis perumahan yang serius. Lebih dari 200.000 penduduk tinggal di subdivided flats, apartemen yang dibagi-bagi menjadi unit-unit kecil.
Rata-rata, setiap penghuni hanya memiliki ruang sekitar 6 meter persegi, setengah dari ukuran tempat parkir mobil sedan. Beberapa keluarga harus berbagi satu toilet dan dapur.
Kondisi flat yang dibagi-bagi ini sering kali pengap dan bermasalah dengan kutu kasur di musim panas. Beberapa keluarga harus berbagi satu toilet dan dapur.
Kondisi ini diperparah dengan tingginya biaya hidup dan harga sewa yang melambung. Kota ini bahkan telah memegang rekor sebagai kota paling mahal untuk ditinggali selama 14 tahun berturut-turut, dengan tingkat ketimpangan yang sangat tinggi.
Munculnya "Rumah Peti Mati" diperkirakan dimulai pada akhir tahun 1950-an, ketika banyak imigran dari Tiongkok menempatinya sebagai tempat tinggal yang disediakan oleh majikan.
Sampai saat ini, permasalahan perumahan yang parah di Hong Kong, dikombinasikan dengan harga sewa yang tinggi dan keterbatasan lahan, menyebabkan fenomena ini terus berlanjut.
Ribuan warga Hong Kong, terutama imigran dan mereka yang berpenghasilan rendah, terpaksa tinggal di tempat-tempat ini karena kesulitan mendapatkan perumahan yang terjangkau.
Siasat Pemerintah dan Tantangan ke Depan
Pemerintah Hong Kong menyadari seriusnya masalah ini. Wilayah administratif khusus itu berencana menghapus rumah susun yang terbagi-bagi pada 2049, sebuah target yang ditetapkan tahun 2021 oleh pejabat tinggi China yang mengawasi kota tersebut.
Menurut laporan Reuters, Beijing melihat masalah perumahan sebagai masalah sosial serius yang turut memicu protes antipemerintah massal pada tahun 2019.
Pihak berwenang berencana meningkatkan ketersediaan perumahan umum guna memperpendek waktu tunggu dari yang saat ini mencapai 5,5 tahun, dengan mengatakan bahwa mereka telah mengidentifikasi lebih dari cukup lahan untuk membangun 308.000 unit perumahan umum dalam dekade berikutnya.
Meskipun demikian, tantangan masih besar. Membangun perumahan umum yang terjangkau dalam jumlah yang signifikan di lahan yang terbatas merupakan tugas yang kompleks. Selain itu, penegakan peraturan dan pengawasan terhadap pemilik properti yang menyewakan unit-unit kecil juga perlu ditingkatkan.
Keberadaan 'rumah peti mati' di Hong Kong merupakan cerminan nyata dari kesenjangan sosial yang menganga di tengah kemakmuran ekonomi. Meskipun pemerintah telah berupaya mengatasi masalah ini, dibutuhkan solusi komprehensif dan berkelanjutan untuk memastikan seluruh warga Hong Kong memiliki akses terhadap perumahan yang layak dan terjangkau. Permasalahan ini tidak hanya tentang penyediaan rumah, tetapi juga tentang keadilan sosial dan kesejahteraan masyarakat.