Anggota tim respons khusus membawa jenazah seseorang yang meninggal akibat penyakit virus Ebola di Pusat Medis Injili Nyankunde (CME) di Bunia, Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo, Sabtu (13/06/2026). (AFP/ Jospin Mwisha)
Advertisement
Wabah Ebola yang disebabkan oleh strain langka virus Bundibugyo kini telah menyebar ke sejumlah wilayah di timur laut Republik Demokratik Kongo (DRC), termasuk kamp pengungsi dengan kepadatan penduduk tinggi. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa wabah yang berlangsung sejak pertengahan Mei tersebut memasuki fase yang lebih berbahaya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan kasus baru terus ditemukan hampir setiap hari di zona kesehatan baru pada tiga provinsi terdampak. Penyebaran ini menunjukkan adanya penularan lokal di komunitas yang sebelumnya belum terdampak, sementara kapasitas respons dan langkah pengendalian masih belum mampu mengimbangi laju penyebaran virus.
Sejak wabah diumumkan pada 15 Mei 2026, pemerintah Republik Demokratik Kongo mencatat 689 kasus Ebola yang telah dikonfirmasi dengan 139 kematian. Pusat penyebaran berada di Provinsi Ituri, namun kasus juga telah terdeteksi di Provinsi Kivu Utara dan Kivu Selatan.
Selain kasus terkonfirmasi, terdapat 119 kasus dugaan Ebola yang masih dalam penyelidikan. WHO menilai jumlah tempat tidur isolasi yang tersedia saat ini masih jauh dari kebutuhan berdasarkan pola penyebaran wabah yang terus berkembang.
Advertisement
Wabah kali ini menjadi tantangan tersendiri karena hingga kini belum terdapat vaksin maupun pengobatan yang telah disetujui untuk spesies virus Bundibugyo.
Advertisement
Perkembangan wabah juga menjadi perhatian negara tetangga, Uganda, yang telah melaporkan 19 kasus Ebola dan dua kematian. Meski demikian, badan kesehatan Uni Afrika menyatakan situasi penyebaran di Uganda masih berada dalam kondisi terkendali.
Advertisement
Anggota keluarga memberikan penghormatan terakhir kepada kerabat yang meninggal karena penyakit virus Ebola melalui jendela di kamar mayat Pusat Medis Evangelis Nyankunde di Bunia, Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo,Sabtu (13/06/2026). AFP/ Jospin Mwisha
Sekelompok dokter yang mengenakan pakaian pelindung merawat jenazah seorang pria yang meninggal karena penyakit virus Ebola di kamar mayat Pusat Medis Evangelis Nyankunde di Bunia, Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo, Sabtu (13/06/2026). AFP/ Jospin Mwisha
Anggota tim respons khusus membawa jenazah seseorang yang meninggal akibat penyakit virus Ebola di Pusat Medis Injili Nyankunde (CME) di Bunia, Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo, Sabtu (13/06/2026). AFP/ Jospin Mwisha
Seorang pengawas kamar mayat di Pusat Medis Injili Nyankunde (CME) mengamati dari kejauhan saat peti mati berdiri di luar pintu masuk kamar mayat di Bunia, Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo, Sabtu (13/06/2026). AFP/ Jospin Mwisha
Anggota keluarga dan sekelompok bidan menangis saat peti mati berisi jenazah kerabat mereka yang meninggal karena penyakit virus Ebola tiba di pemakaman di Bunia, Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo, Sabtu (13/06/2026). AFP/ Jospin Mwisha
Anggota keluarga dan sekelompok bidan menangis saat peti mati berisi jenazah kerabat mereka yang meninggal karena penyakit virus Ebola tiba di pemakaman di Bunia, Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo, Sabtu (13/06/2026). AFP/ Jospin Mwisha
Anggota keluarga dan sekelompok bidan menangis saat peti mati berisi jenazah kerabat mereka yang meninggal karena penyakit virus Ebola tiba di pemakaman di Bunia, Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo, Sabtu (13/06/2026). AFP/ Jospin Mwisha
Pemandangan umum pemakaman Nyamurongo di lingkungan Ndibakodu, Bunia, Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo, pada 13 Juni 2026. Pemakaman ini menjadi salah satu lokasi pemakaman korban meninggal akibat wabah virus Ebola. AFP/ Jospin Mwisha
Artikel ini dihasilkan oleh AI berdasarkan data yang ada. Gunakan sebagai referensi awal dan selalu pastikan untuk memverifikasi informasi lebih lanjut sebelum mengambil keputusan.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor mencatat 750 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) sejak awal 2024. Dari ratusan kasus itu, empat orang meninggal dunia.