Essay Photo: Bertahan dan Menata Hidup di Reruntuhan Gaza
Esai foto ini merekam upaya keluarga-keluarga Palestina di Gaza untuk mempertahankan kehidupan sehari-hari dan rasa keakraban di tengah reruntuhan rumah mereka.
Bangunan milik keluarga Halawa masih berdiri dua lantai di atas puing-puing di Kota Gaza. Di tengah kehancuran luas akibat perang, kondisi rumah tersebut menjadi pengecualian yang jarang. Satu sisi bangunan telah runtuh, batang-batang besi mencuat dari bekas atap, dan sebuah tangga kayu sempit buatan keluarga menghubungkan lantai dasar dengan ruang tinggal di atas, tampak rapuh dan berisiko roboh. Meski demikian, bagi mereka, tempat itu tetaplah rumah.
Perang bermula dari serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel dan menyebabkan lebih dari 250 orang disandera. Operasi militer Israel yang menyusul di Jalur Gaza menewaskan puluhan ribu warga Palestina, merusak infrastruktur secara luas, dan memaksa sebagian besar dari sekitar dua juta penduduk wilayah tersebut mengungsi.
Menjelang akhir tahun, gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat pada Oktober membawa jeda kekerasan. Namun, proses rekonstruksi belum dimulai dan diperkirakan akan berlangsung bertahun-tahun. Selama gencatan senjata yang berlanjut hingga 2026, keluarga-keluarga seperti Halawa berupaya menata kembali kehidupan mereka dengan sumber daya yang sangat terbatas.
Keluarga Halawa, yang terdiri dari tujuh orang, meninggalkan rumah mereka tiga bulan setelah perang pecah dan kembali saat situasi relatif tenang. Mereka, seperti banyak keluarga lainnya, menilai tinggal di bangunan rusak lebih baik dibandingkan hidup di tenda, terutama ketika hujan musim dingin mulai turun.
Di salah satu ruangan yang dindingnya retak, Amani Halawa memanaskan kopi kaleng kecil di atas api sederhana. Cahaya tipis menembus celah beton yang runtuh. Bersama suaminya, Mohammed, dan anak-anak mereka, Amani memperbaiki bagian rumah yang masih bisa digunakan dengan sisa-sisa beton. Ransel digantungkan pada batang besi terbuka, sementara lantai dapur dilapisi panci dan wajan yang tersisa.
Dinding rumah dihiasi lukisan pohon dan pesan-pesan untuk anggota keluarga yang terpisah akibat perang. Di berbagai bangunan rusak di Kota Gaza, rutinitas harian tetap berjalan. Namun, kekhawatiran terus membayangi, terutama pada malam hari, ketika penghuni takut bangunan yang rapuh bisa runtuh sewaktu-waktu. Pejabat kesehatan setempat mencatat sedikitnya 11 orang tewas akibat bangunan ambruk dalam satu pekan pada Desember.
Di rumah lain, Sahar Taroush menyapu debu dari karpet yang dibentangkan di atas puing. Putrinya, Bisan, duduk di dekat lubang besar di dinding, menonton film di layar komputer. Di bangunan berbeda, sebuah keluarga menggantung foto sang kakek saat menunggang kuda pada masa tugasnya di dinas keamanan Otoritas Palestina pada 1990-an. Tidak jauh dari sana, seorang pria berbaring di tempat tidur yang goyah di tepi balkon rusak, menatap layar ponselnya dengan latar lingkungan Al-Karama yang hancur.
Di tengah ketidakpastian yang masih panjang, keluarga-keluarga di Gaza berusaha mempertahankan rasa keakraban dan normalitas, meski rumah-rumah mereka tak lagi utuh seperti sebelumnya.