Bocoran Dokumen: Netanyahu Sengaja Bikin Gaza Kelaparan Demi Tujuan Licik Ini
Transkrip internal pemerintahan Israel bocor ke publik setelah disiarkan di media Channel 13.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak seruan dari para menteri senior untuk mempercepat negosiasi gencatan senjata dan dengan sengaja membatasi seluruh bantuan ke Gaza demi memaksa Hamas menyerah. Demikian menurut transkrip internal pemerintah yang dipublikasikan oleh media Israel Channel 13.
Transkrip dari rapat kabinet perang Israel pada 1 Maret menunjukkan Netanyahu mengabaikan desakan berulang dari para pejabat pertahanan senior untuk beralih ke fase kedua dari kesepakatan gencatan senjata demi mengamankan pembebasan tawanan Israel, lalu melanjutkan serangan setelahnya.
Sebaliknya, Netanyahu memilih secara sepihak memutus gencatan senjata pada bulan Maret dan melarang semua bantuan masuk ke Gaza, dengan harapan dapat memaksa Hamas menyerah.
Melanjutkan perang
Hal ini dilakukan meskipun Hamas mematuhi proses perundingan, bertolak belakang dengan perkiraan kabinet perang.
Dilansir Middle East Eye, Kamis (7/8), menurut transkrip tersebut, seruan para pejabat pertahanan itu mendapat dukungan dari Mossad, Kepala Shin Bet Ronen Bar, dan Menteri Pertahanan Israel Katz, yang mendorong kelanjutan kesepakatan karena meyakini jeda sementara pertempuran dapat memungkinkan pembebasan semua tawanan Israel di Gaza.
Dalam dokumen internal yang bocor itu, kepala urusan tawanan pasukan Israel, Mayor Jenderal Nitzan Alon, mengatakan: “Satu-satunya peluang untuk membebaskan para sandera adalah membahas kondisi Fase B.”
Bar menyatakan “pilihan yang saya sukai adalah beralih ke Fase B”, seraya menambahkan bahwa Israel bisa “melanjutkan perang setelahnya.”
Menyesatkan publik
Katz mendukung kesepakatan parsial, dengan mengatakan: “Jika Hamas mengembalikan bahkan sejumlah sandera – kurang dari setengah – itu sudah sangat baik.”
Forum Keluarga Sandera menyebut temuan tersebut sebagai “sangat memberatkan” dan menuduh pemerintah “secara sadar dan sengaja menggagalkan” kesepakatan pertukaran sandera serta “menyesatkan publik.”
Blokade total yang diberlakukan Israel terhadap semua bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza telah memicu kelaparan di wilayah tersebut, dengan 197 warga Palestina meninggal akibat kelaparan sejauh ini, termasuk 96 anak-anak.
Pada akhir Juli, sistem pemantau kelaparan terkemuka dunia memperingatkan “skenario terburuk kelaparan” tengah terjadi di Gaza akibat kelaparan dan pengepungan yang diberlakukan Israel.
Sebuah jajak pendapat terbaru mengungkap mayoritas warga Israel tidak terganggu oleh laporan kelaparan dan penderitaan di Gaza.
Pasukan Israel telah membunuh lebih dari 60.000 warga Palestina di Gaza sejak melancarkan serangan ke wilayah tersebut pada Oktober 2023. Sebagian besar korban adalah warga sipil, perempuan, dan anak-anak.