Persib Sebentar Lagi IPO, Bagaimana dengan Bali United yang Sudah Duluan?
Saham Bali United sempat mengalami status suspend akibat lonjakan harga yang sangat signifikan.
Penawaran Umum Perdana (IPO) klub sepak bola Bali United telah membuka wawasan masyarakat ekonomi di Indonesia, menunjukkan bahwa sepak bola dapat berfungsi sebagai bisnis yang terorganisir dan menguntungkan. Pada tanggal 17 Juni 2019, PT Bali Bintang Sejahtera Tbk, selaku induk perusahaan Bali United, resmi terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Seremoni pencatatan ini menjadi momen penting bagi perkembangan industri sepak bola di Indonesia. Hal ini dikarenakan emiten dengan kode "BOLA" menjadi yang pertama dalam sejarah, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh Asia Tenggara.
Keberadaan "BOLA" memberikan dampak positif yang signifikan. Dalam waktu dua bulan setelah pencatatan, kinerja emiten ini memicu reaksi pasar yang cukup berlebihan.
Akibatnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengambil langkah untuk menghentikan sementara perdagangan saham PT Bali Bintang Sejahtera Tbk pada hari Senin, 2 Agustus 2021. Langkah ini menunjukkan betapa besar minat dan perhatian investor terhadap saham yang terkait dengan klub sepak bola ini.
Saham
Dalam konteks peningkatan harga kumulatif yang sangat signifikan pada saham BOLA, Bursa Efek Indonesia (BEI) merasa perlu untuk melakukan penghentian sementara perdagangan saham tersebut.
"Sehubungan dengan terjadinya peningkatan harga kumulatif yang signifikan pada saham BOLA, dalam rangka cooling down, BEI memandang perlu untuk melakukan penghentian sementara perdagangan saham BOLA pada perdagangan tanggal 2 Agustus 2021," tulis pengumuman BEI saat itu.
Penghentian sementara perdagangan saham BOLA tersebut dilaksanakan di Pasar Reguler dan Pasar Tunai. Tujuan dari keputusan ini adalah untuk memberikan waktu yang cukup kepada para pelaku pasar agar dapat mempertimbangkan informasi yang ada secara matang sebelum mengambil keputusan investasi terkait saham BOLA.
Hal ini disebabkan oleh lonjakan harga saham BOLA yang melesat hingga 142 persen dalam satu minggu, mencapai level Rp 800 per lembar saham. Data ini juga didukung oleh kenaikan 161 persen dalam sebulan terakhir, dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 4,8 triliun.
Fenomena saham BOLA pada waktu itu menjadi salah satu topik yang hangat dibicarakan di kalangan investor. Saat ini, pada hari Senin (26/5/2025), ketika diakses pukul 11.45, harga penawaran saham BOLA tercatat berada di angka Rp 105 per lembar saham.
Maung Bandung dapat berprestasi seperti Bali United
Tentu saja, pengalaman yang dialami oleh Bali United menjadi titik awal untuk proyeksi bagi Persib Bandung, yang memiliki rencana untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dalam perayaan juara BRI Liga 1 2024/2025 yang berlangsung akhir pekan lalu, CEO PT Persib Bandung Bermartabat, Glenn Timothy Sugita, menegaskan bahwa langkah menuju penawaran umum perdana (IPO) didasarkan pada kondisi internal klub yang jauh lebih baik.
Ia meyakini bahwa situasi positif ini akan membuat IPO Persib Bandung menarik minat banyak pihak. Terlebih lagi, jika dibandingkan dengan jumlah bobotoh yang menurut Glenn mencapai lebih dari 25 juta orang.
"Kondisi ini membuat kami merasa bahwa langkah menuju IPO bukan lagi sekadar impian, melainkan sesuatu yang dapat segera direalisasikan," tegas Glenn di hadapan puluhan ribu bobotoh di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA).
Rencana tersebut disambut dengan antusiasme yang meriah. Bahkan, Menteri Perumahan dan Permukiman Indonesia, Maruarar Sirait, berjanji akan menanamkan investasi sebesar Rp 100 miliar. Dengan dukungan yang kuat dari berbagai pihak, harapan untuk mewujudkan IPO ini semakin dekat.