Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Profil

Adrian Bernard Lapian

Profil Adrian Bernard Lapian | Merdeka.com

Adrian Bernard Lapian, atau yang lebih dikenal sebagai Adri Lapian, adalah seorang sejarawan nasional asal kota Tegal, Jawa Tengah yang lahir pada 1 September 1929 dari pasangan Bernard Wilhelm Lapian dan Mariana Adriana Pangkey. Namun, karenanya ayahnya bekerja sebagai wakil dari distrik Kawangkoan sebagai anggota dari Minahasaraad, atau Dewan Minahasa, Adri banyak menghabiskan masa kecilnya di wilayah Indonesia Timur ini.

Karena kesibukan ayahnya yang kemudian bekerja sebagai anggota Volksraad, atau Dewan Rakyat, di Batavia (sekarang Jakarta), Adrian besar di bawah asuhan kakek dari pihak ibunya, Aristarkus M. Pangkei, mantan guru pada sebuah sekolah guru di Kurangga, Tomohon. Sulung dari 6 bersaudara ini sangat menjunjung tinggi didikan kakeknya dan selalu menyebutnya sebagai 'pendidik pertama kesadaran asketisme intelektual', kesadaran yang juga terus dibawa Adri Lapian hingga dewasa.

Setelah lulus dari sekolah tinggi, Adri meneruskan pendidikan formalnya ke Fakultas Teknik UI, atau yang kini dikenal sebagai ITB, namun memutuskan untuk keluar pada 1953, atau setelah 3 tahun kuliah di Fakults tersebut. Pada 1956, sejarawan yang dikenal lincah dalam berbagai tema kajian budaya dan sejarah maritim ini, masuk ke Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra UI. Lima tahun kemudian, Adri Lapian berhasil mempertahankan disertasinya, Orang Laut - Bajak Laut - Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX, dan berhak atas gelar Doktorandus dari Universitas Indonesia.

Sosok Adri Lapian memang lekat dengan sejarah. Tercatat peernah mendalami Sejarah Maritim di Universitas Leiden, Belanda, sejarawan senior ini juga dikenal memiliki segudang pengalaman dan penghargaan nasional. Sekitar 1950an, Lapian bergabung dengan Pustakawan Biro Perancang Negara dan sempat menjadi wartawan untuk The Indonesian Observer selama periode 1954 - 1957. Ia juga aktif mengajar di berbagai universitas, bahkan pernah diangkat sebagai Guru Besar Luar Biasa UI pada 1992 silam. Kepakarannya di bidang kelautan membawanya berkenalan dengan dunia kemiliteran nasional, dengan dipercaya menjabat sebagai Kepala Seksi Sejarah Angkatan Laut dan Maritim untuk Mabes TNI AL. Lapian juga pernah bertindak selaku Peneliti Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mulai 1957 hingga pensiun pada 1994.

Jagad kelautan nasional Indonesia turut berduka ketika mengiringi kepergian salah seorang pakarnya, Adrian Bernard Lapian, yang menutup usia di Jakarta pada 19 Juli 2011 lalu.

Riset dan Analisis: Mamor Adi Pradhana - Mochamad Nasrul Chotib

Profil

  • Nama Lengkap

    Drs. Adrian Bernard Lapian

  • Alias

    Adrian Lapian

  • Agama

    Kristen

  • Tempat Lahir

    Tegal, Jawa Tengah

  • Tanggal Lahir

    1929-09-01

  • Zodiak

    Virgo

  • Warga Negara

    Indonesia

  • Biografi

    Adrian Bernard Lapian, atau yang lebih dikenal sebagai Adri Lapian, adalah seorang sejarawan nasional asal kota Tegal, Jawa Tengah yang lahir pada 1 September 1929 dari pasangan Bernard Wilhelm Lapian dan Mariana Adriana Pangkey. Namun, karenanya ayahnya bekerja sebagai wakil dari distrik Kawangkoan sebagai anggota dari Minahasaraad, atau Dewan Minahasa, Adri banyak menghabiskan masa kecilnya di wilayah Indonesia Timur ini.

    Karena kesibukan ayahnya yang kemudian bekerja sebagai anggota Volksraad, atau Dewan Rakyat, di Batavia (sekarang Jakarta), Adrian besar di bawah asuhan kakek dari pihak ibunya, Aristarkus M. Pangkei, mantan guru pada sebuah sekolah guru di Kurangga, Tomohon. Sulung dari 6 bersaudara ini sangat menjunjung tinggi didikan kakeknya dan selalu menyebutnya sebagai 'pendidik pertama kesadaran asketisme intelektual', kesadaran yang juga terus dibawa Adri Lapian hingga dewasa.

    Setelah lulus dari sekolah tinggi, Adri meneruskan pendidikan formalnya ke Fakultas Teknik UI, atau yang kini dikenal sebagai ITB, namun memutuskan untuk keluar pada 1953, atau setelah 3 tahun kuliah di Fakults tersebut. Pada 1956, sejarawan yang dikenal lincah dalam berbagai tema kajian budaya dan sejarah maritim ini, masuk ke Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra UI. Lima tahun kemudian, Adri Lapian berhasil mempertahankan disertasinya, Orang Laut - Bajak Laut - Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX, dan berhak atas gelar Doktorandus dari Universitas Indonesia.

    Sosok Adri Lapian memang lekat dengan sejarah. Tercatat peernah mendalami Sejarah Maritim di Universitas Leiden, Belanda, sejarawan senior ini juga dikenal memiliki segudang pengalaman dan penghargaan nasional. Sekitar 1950an, Lapian bergabung dengan Pustakawan Biro Perancang Negara dan sempat menjadi wartawan untuk The Indonesian Observer selama periode 1954 - 1957. Ia juga aktif mengajar di berbagai universitas, bahkan pernah diangkat sebagai Guru Besar Luar Biasa UI pada 1992 silam. Kepakarannya di bidang kelautan membawanya berkenalan dengan dunia kemiliteran nasional, dengan dipercaya menjabat sebagai Kepala Seksi Sejarah Angkatan Laut dan Maritim untuk Mabes TNI AL. Lapian juga pernah bertindak selaku Peneliti Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mulai 1957 hingga pensiun pada 1994.

    Jagad kelautan nasional Indonesia turut berduka ketika mengiringi kepergian salah seorang pakarnya, Adrian Bernard Lapian, yang menutup usia di Jakarta pada 19 Juli 2011 lalu.

    Riset dan Analisis: Mamor Adi Pradhana - Mochamad Nasrul Chotib

  • Pendidikan

    • Louwerierschool (SD) di Tomohon, 1935-1942
    • Chugakko (SMP zaman Jepang) di Manado dan Kawangkoan, 1942-1945
    • MULO di Manado, 1946-1947
    • AMS di Tomohon, 1947-1950
    • Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Jurusan Sipil (kini ITB), 1950-1953, tidak selesai
    • Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra UI, 1956-1961
    • Naval History, University of Leiden, Belanda

  • Karir

    • Anggota Pustakawan Biro Perancang Negara
    • Wartawan, The Indonesian Observer, 1954 - 1957
    • Kepala Seksi Sejarah Angkatan Laut dan Maritim, Mabes TNI AL
    • Peneliti Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), 1957 - 1994
    • Staf Pengajar di banyak Universitas
    • Guru Besar Luar Biasa Universitas Indonesia, 1992

  • Penghargaan

    • Bintang Jasa Utama, dari Pemerintah Indonesia, 2002
    • Habibie Award bidang Ilmu Budaya, dari Habibie Center, 2010
    • Sejarawan Utama, dari Masyarakat Sejarawan Indonesia, 2011
    • Achmad Bakrie Award untuk Pemikiran Sosial, dari Freedom Institute, 2011

Geser ke atas Berita Selanjutnya