Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Uang receh makin langka?

Uang receh makin langka? Ilustrasi Uang. merdeka.com/shutterstock.com

Merdeka.com - Sekarang ini masyarakat memiliki berbagai pilihan alat pembayaran untuk transaksi, baik tunai maupun non tunai. Dengan alasan praktis, masyarakat lebih memilih menggunakan alat pembayaran non tunai, terutama untuk transaksi dengan nominal yang besar. Namun, penggunaan uang tunai masih belum tergantikan. Terlebih, untuk pembayaran transaksi yang nilainya tidak terlalu besar.

Untuk uang tunai, nominalnya pun beragam dari yang terkecil saat ini Rp 50 hingga yang terbesar dengan nominal Rp 100.000. Untuk kategori uang pecahan kecil atau yang akrab disebut uang receh, menurut Bank Indonesia, adalah uang dengan nominal di bawah Rp 10.000. 

“Kita tidak pernah pakai istilah uang receh tapi uang pecahan kecil (UPK), uang pecahan kecil ya uang pecahan Rp 10.000 ke bawah, uang pecahan besar itu Rp 20.000 ke atas,” jelas Deputi Direktur Kepala Divisi Penelitian dan Pengembangan Grup Kebijakan Pengedaran Uang Bank Indonesia Ery Setiawan kepada merdeka.com, akhir pekan lalu.

Uang receh atau uang nominal kecil masih memiliki peran dalam transaksi sehari-hari. Umumnya dipakai untuk pembayaran di warung kelontong, biaya parkir kendaraan, pembayaran angkutan umum, dan lain-lain. Tidak jarang ada sebagian masyarakat yang sengaja menukar uang pecahan besar dengan uang receh agar lebih mudah dalam melakukan pembayaran transaksi tertentu.

Namun, fenomena saat ini, di beberapa tempat tidak mudah untuk mendapatkan uang receh. Kejadian yang sering ditemui adalah uang kembalian berbelanja yang terpaksa ditukar dengan permen karena tidak ada persediaan uang receh. "Beberapa kali belanja di supermarket atau minimarket tidak ada kembalian receh Rp 150 malah diganti permen 2,” ujar salah seorang warga Bekasi, Susi kepada merdeka.com.

Susi mengaku sempat protes dengan uang kembalian yang ditukar permen. Tapi alasan petugas yang menyampaikan sulitnya mendapatkan uang receh, akhirnya menjadi pemakluman.

Sulitnya mendapatkan uang receh juga dialami warga Bekasi lainnya, Fierly, saat membayar parkir di sebuah pusat perbelanjaan. “Pernah bayar parkir harusnya Rp 4.000 jadi cuma bayar Rp 3.000 karena saya kasih uang Rp 5.000 untuk bayar parkir, tapi penjaga parkirnya tidak ada uang pecahan Rp 1.000 jadi uang kembalian pakai pecahan Rp 2.000,” kata Fierly.

Tidak hanya konsumen yang mengeluh kesulitan mendapatkan uang nomimal kecil. Beberapa penjual juga mengaku kesulitan mendapatkan uang pecahan kecil. Agus dan Lina adalah beberapa pedagang klontong di daerah Cikini yang mengaku kesulitan mendapatkan uang pecahan Rp 500 dan Rp 1.000. "Rp 1.000 susah sekarang, lebih banyak pecahan Rp 2.000," tutur Agus.

Sebenarnya, berapa banyak uang receh atau pecahan kecil yang diterbitkan Bank Indonesia?

Data yang diperoleh dari Bank Indonesia menyebutkan, sepanjang Januari–April 2012, bank sentral telah menerbitkan uang kertas pecahan kecil Rp 10.000 sebanyak Rp 711,33 miliar, pecahan Rp 5.000 sebanyak Rp 417,42 miliar, pecahan Rp 2.000 sebanyak Rp 289,86 miliar, dan pecahan Rp 1.000 sebanyak Rp 941 juta. Total uang kertas pecahan kecil yang telah di keluarkan sepanjang kuartal I tahun ini saja sudah mencapai Rp 1,42 triliun.  

Sedangkan untuk uang logam pecahan kecil, dalam kurun waktu Januari–April 2012, Bank Indonesia telah mengeluarkan pecahan Rp 1.000 sebanyak Rp 80,80 miliar, pecahan Rp 500 sebanyak Rp 77,08 miliar, pecahan Rp 200 sebanyak Rp 7,50 miliar, pecahan Rp 100 sebanyak Rp 4,58 miliar, dan pecahan Rp 50 sebanyak Rp 295 juta. Total uang logam pecahan kecil yang telah dikeluarkan Bank Indonesia pada kuartal I 2012 mencapai Rp 170,25 miliar. 

Jika fenomena yang terjadi di masyarakat disandingkan dengan data yang dipaparkan Bank Indonesia, kemanakah uang receh tersebut beredar?

    (mdk/oer)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP