OPEC tak pangkas produksi, harga minyak dunia di bawah USD 40/barel

Harga minyak dunia terus turun, dan pelaku pasar kini menunggu rencana kenaikan suku bunga The Fed.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
OPEC tak pangkas produksi, harga minyak dunia di bawah USD 40/barel
Ilustrasi Tambang Minyak. ©2014 Merdeka.com

Harga minyak dunia masih bertahan rendah di bawah USD 40 per barel di perdagangan Asia hari ini. Kartel minyak OPEC memutuskan untuk tidak akan mengurangi produksi dan pedagang akhirnya mengalihkan perhatian pada pertemuan bank sentral AS pekan depan.

Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari turun 33 sen menjadi USD 39,64 per barel, dan minyak mentah Brent untuk Januari diperdagangkan 22 sen lebih rendah pada UASD 42,78 per barel pada sekitar pukul 06.55 GMT.

Pada pertemuan di Wina, Jumat lalu, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memutuskan menentang pengurangan produksi untuk menaikkan harga.

OPEC, yang anggotanya secara bersama-sama memproduksi lebih dari sepertiga minyak dunia, saat ini memproduksi di atas target resmi dari 30 juta barel per hari, meskipun pasokan minyak mentah global yang membanjir telah terus-menerus memukul harga selama lebih dari setahun.

"Harga minyak mentah tidak diragukan lagi tertekan oleh kurangnya kesepakatan di OPEC, menandakan bahwa kelebihan pasokan akan bertahan lebih lama," kata Bernard Aw, analis pasar di IG Markets.

"WTI diperdagangkan di bawah tingkat penting USD 40 per barel dan tampaknya akan tetap di sana." ucap Sanjeev Gupta, yang mengepalai praktik minyak dan gas Asia-Pasifik di perusahaan jasa profesional EY seperti dilansir Antara.

Dia mengatakan perhatian pasar kini berbalik ke pertemuan pembuat kebijakan Federal Reserve mendatang dan data ekonomi terbaru dari China sebagai konsumen utama energi dunia.

Para pedagang sedang memantau apakah The Fed akan menaikkan suku bunganya bulan ini, sebuah langkah yang akan meningkatkan nilai tukar dolar. Mata uang AS yang kuat akan membuat minyak yang dihargakan dalam dolar lebih mahal bagi pemegang mata uang lemah, sehingga mengurangi permintaan dan harga.

"Sementara semua mata sekarang tertuju pada pertemuan Federal Reserve minggu depan untuk pertemuan kebijakan terakhir tahun ini guna memutuskan apakah akan menaikkan suku bunga acuannya, data ekonomi dari China akan mengatur nada dari harga di minggu-minggu mendatang," kata Gupta.

Dia mengatakan dolar juga mendapat dorongan dari laporan ketenagakerjaan AS yang kuat pada Jumat lalu. Laporan ini memperkuat kasus untuk kenaikan suku bunga The Fed, kata para analis.

Rekomendasi