Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

OJK optimistis Bank Wakaf Mikro mampu tekan kemiskinan dan ketimpangan ekonomi RI

OJK optimistis Bank Wakaf Mikro mampu tekan kemiskinan dan ketimpangan ekonomi RI Ilustrasi kemiskinan. ©2013 Merdeka.com/Arie Basuki

Merdeka.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ikut berupaya menurunkan angka kemiskinan di Indonesia. Salah satunya melalui program Bank Wakaf Mikro (BWM). OJK optimistis BWM dapat memperluas akses keuangan bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah.

Kepala Department Perbankan Syariah OJK, Ahmad Soekro Tratmono, mengatakan kehadiran BWM di beberapa daerah pesantren salah satunya untuk meningkatkan inklusi keuangan Indonesia. Melalui program ini, kata dia, setidaknya ketimpangan dan kemiskinan di Indonesia dapat menurun.

"Tentu kita lihat kemiskinan dan ketimpangan di Indonesia masih nyata terlihat. Datanya cukup tinggi. Namun sudah turun di 2017. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) itu (orang miskin) 26,6 juta, lebih rendah dibandingkan 2015-2016 yang masih 30 juta ke atas," kata Ahmad pada saat Pelatihan dan Gathering Media Massa, di Purwokerto, Kamis, (5/3) malam.

Namun diakuinya, beberapa wilayah di Indonesia masih memiliki tingkat kemiskinan 12 sampai 18 persen atau berada di atas rata-rata nasional. "Pemberdayaan ekonomi umat (BWM) harus hadir menjadi salah satu solusi dalam pengentasan ketimpangan dan kemiskinan," kata dia.

Dengan potensi 28.194 pesantren tercatat pada data Kementerian Agama Republik Indonesia, pendidikan berbasis agama ini dikatakannya memilliki potensi yang besar untuk memberdayakan umat dan berperan dalam mengikis kesenjangan ekonomi danmengentaskan kemiskinan, khususnya masyarakat di sekitar pesantren.

"Tingkat kemiskinan, kita usahakan turun ya karena punya faktor tidak hanya dari OJK dan OJK ini mempunyai inisatif untuk mendukung program program pemerintah dalam menuntas kemiskinan gitu ya. Oleh karena itu, OJK memfasilitasi pembuatan model bisnis Bank Wakaf Mikro dengan platform Lembaga Keuangan Mikro Syariah," tandasnya.

Sebelumnya, Program Manager International NGO Forum on Indonesian Development (INFID), Siti Khoirun Nimah mengatakan, data dan fakta menunjukkan saat ini dunia sedang mengalami ketimpangan tertinggi sepanjang masa.

"Hanya segelintir orang memiliki kekayaan setara dengan separuh penduduk dunia. Kondisi yang sama tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Walaupun ketimpangan yang diukur dari rasio gini pendapatan terus menurun. Tidak demikian dengan kekayaan," kata dia.

Siti menegaskan, selama lima tahun terakhir, kekayaan 50 persen penduduk di Indonesia terus turun dari 3,8 persen dari total kekayaan nasional menjadi 2,8 persen. Sementara 1 persen penduduk terkaya memiliki 45 persen dari kekayaan nasional.

(mdk/bim)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP