Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo menyebut bank sentral telah menambah lagi likuiditas (quantitative easing/QE) ke perbankan dalam jumlah besar demi pemulihan ekonomi nasional di tengah Corona. Total per September 2020, QE mencapai Rp662,1 triliun
"Bank Indonesia telah melakukan injeksi likuiditas ke perbankan dalam jumlah besar sejak awal 2020. Sehingga secara total mencapai Rp662,1 triliun," tegasnya dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI terkait Laporan Semester I Kinerja Bank Indonesia, di Komplek Parlemen, Senin (28/9).
Rinciannya, QE Januari-April 2020 digelontorkan BI sebesar Rp419,9 triliun. Di antaranya pembelian SBN dari pasar sekunder Rp166,2 triliun, term Repo perbankan Rp160 triliun, FX Swap Rp40,8 triliun, dan penurunan GMW Rupiah Rp53 triliun.
Sedangkan QE Mei-2020 anggaran yang diguyur BI sebanyak Rp242,2 triliun. Terdiri atas penurunan GMW Rupiah sekitar Rp102 triliun, tidak mewajibkan tambahan Giro bagi yang tidak memenuhi RIM mencapai Rp15, 8 triliun, dan term Repo perbankan serta FX Swap Rp124,2 triliun.
Advertisement
Pelonggaran Likuiditas
Perry menyebut, koordinasi pelonggaran likuiditas akan menjadi tugas BI. Lalu stimulus fiskal oleh pemerintah. "Dan restrukturisasi kredit oleh OJK untuk pemulihan ekonomi, khususnya UMKM," tambahnya.
Sementara itu, imbal hasil SBN 10 tahun pada Agustus-September 2020 meningkat dari 6,83 persen pada Juli 2020 menjadi 6,87 persen pada Agustus 2020 dan 6,92 persen per 15 September 2020. Hal ini sejalan dengan proses penyesuaian pelaku asing di pasar keuangan domestik.
Dari besaran moneter, pertumbuhan besaran moneter M1 dan M2 pada Agustus 2020 meningkat menjadi 19,3 persen (yoy) dan 13,3 persen (yoy) terutama didorong dampak ekspansi operasi keuangan pemerintah.