Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Teten Masduki mengatakan, Seminar Pemberdayaan Perempuan Pengusaha Melalui Bisnis Inklusif yang berlangsung Maret lalu sebagai side event G20 mengadopsi 3 rekomendasi kebijakan berwawasan ke depan.
Menurutnya, 3 rekomendasi tersebut dapat memperkuat komitmen kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan dalam membangun kembali produktivitas perempuan, khususnya di UKM yang dimiliki dan dipimpin oleh perempuan.
"Pertama, meningkatkan kerjasama antara pemerintah, swasta, dan investor untuk mendukung pengusaha perempuan," kata Teten di Hotel Royal Ambarrukmo, Yogyakarta, Rabu (18/5).
Kedua, mendorong kebijakan di bidang keuangan dan infrastruktur yang peka gender dan menyediakan akses pendanaan dan legalitas. Ketiga, meningkatkan program literasi digital keuangan bagi pengusaha perempuan untuk meningkatkan kesiapan investasi.
Selanjutnya, pemulihan yang berfokus pada perempuan sejalan dengan janji inklusi dan pertumbuhan berkelanjutan, serta menghilangkan hambatan pemberdayaan perempuan terutama dalam kemajuan ekonomi dan keuangan.
Teten menegaskan, dengan adanya pandemi yang memperlebar kesenjangan gender dalam perekonomian, khususnya UKM perempuan. Maka diperlukan tindakan cepat agar perempuan tidak tertinggal.
"Kami di Kementerian Koperasi dan UKM menyadari pentingnya peran pemberdayaan ekonomi perempuan terhadap masyarakat, keluarga dan perekonomian secara luas. Oleh karena itu, jelas bahwa alasan ekonomi untuk mendukung UKM perempuan diakui dengan jelas" tegas Teten.
Dia tak memungkiri, pandemi yang telah berlangsung selama dua tahun terakhir, telah mengakibatkan kemunduran ekonomi dan mengganggu belanja konsumen dan rantai pasokan global. Bahkan dampak pandemi jauh lebih parah terhadap UKM dibanding sektor usaha lainnya. Di mana mereka harus mengalami penurunan pendapatan bahkan kebangkrutan.
"Hal ini penting untuk diperhatikan karena UKM merupakan tulang punggung suatu negara, menyediakan banyak lapangan kerja dan berkontribusi terhadap PDB negara tersebut," ujarnya.
Selain itu, pandemi juga meningkatkan kesenjangan gender dalam partisipasi dan peluang ekonomi. Penelitian menunjukkan 76 persen UKM perempuan terdampak pandemi. Karena mereka harus bekerja dari rumah. Di Indonesia, 64 persen dari 64 juta UMKM adalah milik perempuan, dan berkontribusi hingga 60 persen terhadap PDB nasional.
"Saat dunia menavigasi pemulihan pasca pandemi dan mengurangi dampaknya terhadap bisnis, penting juga untuk fokus pada pemulihan bisnis yang dimiliki dan dipimpin oleh wanita. UKM milik dan dipimpin perempuan merupakan bagian integral dari upaya mencapai kesetaraan gender dalam partisipasi ekonomi," tandasnya.
Reporter: Tira Santia
Sumber: Liputan6.com