Menteri Perindustrian Saleh Husin memerkirakan potensi bisnis perawatan dan perbaikan pesawat di Indonesiamencapai sebesar USD 2 miliar atau Rp 26,4 triliun,asumsi kurs Rp 13.200 per USD, dalam empat tahun mendatang. Itu meningkat ketimbang saat ini sebesarUSD 920 juta atau Rp 12,1 triliun.
Untuk itu, kami tengah mendorong peningkatan kapasitas maupun kapabilitas industri perawatan dan perbaikan pesawat di Indonesia," ujar Saleh melalui siaran pers, Rabu (20/4).
Saleh mengatakan, peningkatan potensi itu seiring pertumbuhan industri penerbangan di Indonesia. Diperkirakan, Asia Pasifik akan menjadi pusat pertumbuhan industri perawatan dan perbaikan pesawat pada 2022.
"Diperkirakan Indonesia akan masuk 10 besar pasar penerbangan dunia pada tahun 2020, bahkan akan menjadi lima besar dunia pada tahun 2034," ujar Saleh.
Industri penerbangan global pada saat ini telah menyerap sebanyak 58 juta tenaga kerja dengan nilai ekonomi mencapai USD 2,4 triliun. Diperkirakan dalam 20 tahun ke depan industri penerbangan mampu menyerap 105 juta pekerja dan menyumbang USD 6 triliun terhadap PDB dunia.
Saat ini, lanjut Saleh, Indonesia memiliki 61 maskapai penerbangan niaga didukung oleh 750 pesawat, yang beroperasi terjadwal dan tidak terjadwal. Diperkirakan, pada 2017, industri penerbangan nasional memiliki 1.030 pesawat.