Mahfud MD membeberkan kronologi batalnya ia dipilih sebagai cawapres mendampingi capres petahana, Joko Widodo atau Jokowi dalam acara Indonesia Lawyer Club (ILC), Selasa (14/8) malam. Mahfud menyampaikan dirinya batal menjadi cawapres diwarnai dengan ancaman bahwa NU tidak bertanggung jawab apabila bukan kader NU yang menjadi cawapres Jokowi. Mahfud bercerita informasi ini didapat oleh Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar (Cak Imin) saat keduanya melakukan pertemuan.
Partai Demokrat menilai cerita Mahfud MD tersebut menjadi bukti bahwa Jokowi tak berdaulat atas dirinya. Bahkan lebih jauh pernyataan Mahfud bagi Demokrat merupakan bukti lemahnya kepemimpinan Jokowi.
"Dari awal kami sudah sampaikan bahwa Pak Jokowi tidak berdaulat dengan dirinya. Tidak punya hak menentukan dengan siapa dia berpasangan," kata Ketua DPP Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean, Rabu (15/8).
Faktor itulah yang menjadi salah satu pertimbangan Partai Demokrat sebelum memutuskan apakah berkoalisi dengan kubu Jokowi atau Prabowo. Cerita mantan Ketua MK itu, kata Ferdinand, menjadi pembenar dugaan pihaknya selama ini.
"Justru dengan cerita Pak Mahfud MD tentang proses pemilihan KH Ma'ruf Amin semakin menjustifikasi dan membenarkan bahwa Jokowi tak bisa memimpin negeri ini," ujarnya.
Dengan kualitas pemimpin yang tak punya kedaulatan atas dirinya, menurutnya akan sulit membawa negara ini bersaing di tengah tantangan global dewasa ini. "Pak Jokowi lemah dalam kepemimpinan dan ini membuka mata publik apa yang sebenarnya terjadi. Kita ragukan kepemimpinannya. Karena memilih wakil saja bisa kalah dari tekanan," pungkasnya.