Pemerintahan Presiden Jokowi berkomitmen memperkuat pertahanan dan keamanan di wilayah perbatasan karena Indonesia sebagai negara maritim. Direktur Eksekutif Emrus Corner Emrus Sihombing mengatakan sosok pendamping Joko Widodo di Pilpres 2019 mesti satu visi dengan komitmen tersebut.
Menurut dia, figur yang paham soal pertahanan dan keamanan serta kuat dari sisi politik dan ekonomi ada dalam diri Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Moeldoko. Namun hal itu tergantung kesepakatan dari partai koalisi Jokowi.
"Untuk jadi cawapres Jokowi, Moeldoko tidak bisa leluasa. Sebab, dia (Moeldoko) harus bisa komunikasi intens dengan partai pendukung Jokowi di 2019. Itu tantangannya," kata Emrus, Sabtu (28/7).
Dosen Universitas Pelita Harapan ini menegaskan jiwa nasionalis mantan Panglima TNI tersebut tak perlu diragukan.
Sementara itu, Guru Besar Ilmu Pertahanan Universitas Pertahanan Laksamana TNI (Purn) Prof Dr Marsetio mengatakan Indonesia membutuhkan sosok yang kuat untuk keamanan maritim.
"Untuk itu Indonesia perlu terus memperkuat pertahanan dan keamanannya di wilayah kelautan serta perbatasan," ujar Marsetio.
Seperti diketahui, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan pemerintahan Jokowi berkomitmen di bidang pertahanan. Beberapa di antaranya adalah peningkatan anggaran untuk melengkapi Alutsista sehingga Kekuatan Pokok Minimum dapat tercapai, membangun kesejahteraan dan profesional prajurit TNI, perkuatan pos perbatasan di Kalimantan, Papua, dan Nusa Tenggara Timur. Bahkan untuk perbatasan Kalimantan sudah dilengkapi dengan chips agar dapat dipantau bila ada pergeseran.
Untuk mendukung komitmen itu, beberapa Alutsista TNI yang terbaru adalah Tank Leopard, Rudal Arhanud, Pesawat F-16, Pesawat CN 235 MPA, Kapal Fregat RI RE Martadinata serta kapal latih KRI Bima Suci.