Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Usai pesta Owi-Butet, atlet disabilitas masih terpinggirkan

Usai pesta Owi-Butet, atlet disabilitas masih terpinggirkan Atlet disabilitas Sumsel. ©2016 merdeka.com/irwanto

Merdeka.com - Bangsa Indonesia bangga atas keberhasilan pasangan bulutangkis ganda campuran peraih emas Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir (Owi-Butet), pada Olimpiade Rio di Brazil. Bahkan kedatangannya bersama atlet-atlet lainnya disambut meriah di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Cengkareng, Selasa (23/8) sore, dengan menggunakan mobil pemadam kebakaran yang disiram menyilang dengan posisi berhadap-hadapan sambil pesawatnya di tengah-tengah yang namanya water salute.

Usai turun dari pesawat tumpangan Qatar Airways bernomor penerbangan QR965, para atlet langsung diarak menggunakan bus Bandros (Bandung Tour on Bus). Rombongan bergerak melalui jalan tol, keluar di pintu Semanggi, lalu berputar di jembatan TVRI, lalu mengitari kawasan Gelora Bung Karno mulai dari Hotel Mulia, lampu merah Hotel Fairmont, FX Plaza, Hotel The Sultan, JCC, dan finis di kantor Kemenpora.

Bukan hanya itu saja, negara pun kucuran uang yang sangat fantastis nilainya kepada Owi dan Butet. Pertama, pemerintah menjanjikan peraih emas Olimpiade mendapat bonus Rp 5 miliar. Kedua, peraih emas akan mendapat tunjangan Rp 20 juta per bulan hingga seumur hidup.

"Medali emas mendapatkan tunjangan per bulan Rp 20 juta, perak Rp 15 juta, perunggu Rp 10 juta. Seumur hidup. Tentu ini adalah sejarah, jaminan, sekaligus memungkinkan bagi semua atlet," ujar Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi.

Di balik itu semua, pemerintah harus merasakan kesedihan dari para atlet yang lainnya. Terutama atlet penyandang disabilitas di Sumatra Selatan yang akhirnya dilarikan ke rumah sakit.

Lantaran kurang makan dan juga perhatian pemerintah menjadi penyebabnya. Selain itu minimnya dana juga disebut menjadi faktor utamanya, hingga kondisi puluhan atlet lainnya juga memprihatinkan.

"Kami lagi kesulitan dana, anggaran kecil belum cair juga. Akibatnya, atlet-atlet terbengkalai sehingga sampai masuk rumah sakit karena kurang makan," kata Ketua National Paralympic Committee (NPC) Sumsel Ryan Yohwari kepada merdeka.com.

Bahkan menurut Ryan, kurangnya asupan gizi dan makan bagi atelt hanya 70 porsi. Sedangkan total atlet dan pelatih yang mengikuti pelatda berjumlah 104 orang. Padahal, seluruh atlet harus berlatih setiap hari sehingga memerlukan asupan yang cukup.

"Biar semuanya bisa makan, terpaksa kami mengurangi porsi, bagi-bagi dengan yang lain. Akhirnya porsi makan kami berkurang, tak seimbang dengan jadwal latihan setiap hari," ujarnya.

Kata Ryan, para atlet tersebut merupakan kontingen Sumsel yang disiapkan untuk mengikuti perhelatan multi event olahraga akbar kaum disabilitas pada Pekan Paralympian Nasional (Peparnas) di Kota Kembang, Jawa Barat, Oktober 2016 mendatang.

Dalam hal ini, dirinya mengaku sudah beberapa kali melayangkan surat audiensi kepada Gubernur Sumsel Alex Noerdin, namun tak pernah digubris. Bahkan dirinya pun mengaku sudah mencoba kepada Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Sumsel, Akhmad Yusuf Wibowo. Namun tak pernah digubris.

"Sudah sepuluh kali kami ajukan audiensi, tak pernah sama sekali diterima. Padahal NPC setingkat KONI, dan Pak Alex juga ketua KONI provinsi. Kami sudah mencoba menghubungi Pak Kadispora, saya telepon dan SMS tak ada respons. Dia seharusnya mengurus kami," ungkap Ryan.

Ketika tim merdeka.com mengunjungi Wisma Atlet Jakabaring Sport City (JSC), di mana tempat para atlet menginap, Palembang. Tim mengelus dada melihat santapan para atlet disabilitas menyantap makanan yang tak cukup mewah. Dalam satu porsi itu hanya ada nasi, dua ekor ikan sepat goreng, sepotong tempe (seukuran jempol tangan), sambal udang, tumis kubis, dan sepotong buah semangka.

"Kalau ikan sepat sama tempe sudah biasa, tempenya juga kecil, kadang dikasih ikan asin. Kalau ayam pernah, tapi jarang. Makan saja kurang, gimana mau ada suplemen. Padahal suplemen juga penting biar latihan maksimal," ungkap salah seorang atlet tolak peluru Heru Ramdani (29),

Bahkan Heru dan atlet lainnya yang sama-sama penyandang disabilitas juga harus merogoh kantong yang dalam agar Sumsel tetap masuk dalam daftar peserta Peparnas 2016.

"Pakai tabungan sendiri, kemarin itu naik bus umum, ongkosnya Rp 900 ribu pulang pergi. Untung masih bisa tanding, itupun capek di jalan. Pergi pakai duit sendiri, dapat medali buat daerah, pulangnya enggak dapat apa-apa, bonus tidak ada," ujarnya.

Dirinya bersama rekan-rekan yang lain berharap, Pemerintah Provinsi Sumsel khususnya pemerintah pusat dapat memperhatikan kesejahteraan para atlet disabilitas.

"Coba diperhatikan lagi atlet disabilitas, kami pengen disamakan dengan atlet umum atau PON itu. Kami berjuang bawa bendera Sumsel juga," pungkasnya.

(mdk/tyo)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP