Tiba-tiba muncul 4 mata air saat warga Gunungkidul cabut rumput
Merdeka.com - Fenomena langka terjadi di lereng Gunung Tumpeng yang berada di Desa Semanu, Gunungkidul, Yogyakarta. Di tanah yang gersang dan penuh bebatuan dan merupakan kawasan yang sering mengalami kekeringan disaat musim kemarau, tiba-tiba muncul sumber mata air dengan debit yang besar.
Sumber mata air ini muncul di tanah tegalan milik seorang warga bernama Parno Suwito (65) pada Sabtu (11/3) yang lalu. Tak hanya satu mata air saja yang muncul di sela batuan tetapi hingga Senin (13/3) ada empat mata air yang muncul.
Anak perempuan dari pemilik lahan, Partini (30) menceritakan bahwa munculnya mata air berawal ketika bapaknya sedang mencabuti rumput liar di sekitar lahan tegalannya. Ketika dicabuti, tiba-tiba tanah bekas cabutan rumput mengeluarkan air.
"Air keluar dengan tiba-tiba. Padahal di lahan milik bapak dan sekitarnya sejak dulu tak pernah ada mata air," ungkap Partini, Senin (13/3) kemarin.
Setelah muncul sumber air, lanjut Partini, bapaknya kemudian mencari dari mana sumber air tersebut berada. Setelah melakukan pencarian, diketahui bahwa sumber air muncul dari balik bebatuan di pinggir lahan yang ada di bukit Gunung Tumpeng.
"Bapak lalu mengangkat batu yang di baliknya ada sumber air. Bebatuan itu lalu diangkat Bapak. Air kemudian muncul. Tidak cuma satu tapi tiga mata air," jelas Partini.
Partini menuturkan bahwa total mata air yang keluar dari tanah ada empat. Namun, cuma tiga mata air yang bisa langsung diambil airnya.
"Tiga bisa langsung diambil airnya. Yang satu mengalir ke tanah. Jadi susah untuk langsung diambil airnya," papar Partini.
Partini menguraikan bahwa sebelum penemuan sumber mata air itu, dirinya dan bapaknya sempat curiga karena adanya genangan air di tanah tegalannya. Padahal hujan sudah beberapa minggu tak turun di wilayah Gunungkidul.
"Kok ada genangan air di ladang. Saya dan bapak sempat curiga. Sebab udah lama tidak turun hujan. Ternyata genangan air dari sumber mata air," imbuh Partini.
Akibat terus keluarnya air dari ladang milik Parno Suwito ini, beberapa ladang milik warga tidak dapat ditanami karena terendam air. Banyaknya air membuat warga harus membangun parit di sekitar ladang untuk mengalirkan air yang terus menggenang. (mdk/ded)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya