Ramadhani Lutfi Aerli (9 tahun), meninggal dunia diduga akibat kabut asap. Dari hasil diagnosa medis, paru-paru bocah laki-laki ini dipenuhi dengan asap, dan kekurangan oksigen.Aerli mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Santa Maria, Kota Pekanbaru, Riau, setelah mengalami demam tinggi, pada Selasa (20/10) kemarin."Anak saya Senin masih sekolah. Lalu Selasa-nya dia demam tinggi dan juga kejang-kejang. Kami sempat beri obat demam. Tapi tengah malam tadi, dia sudah tak sadarkan diri, makanya kami bawa ke RS Santa Maria," ujar Eri Wirya, ayah korban kepada sejumlah wartawan, (21/10).Eri menceritakan, saat tiba di rumah sakit, kondisi anaknya sudah kritis dan tak sadarkan diri. Dokter pun langsung memberikan infus kepada Aerli, dibarengi dengan oksigen dan uap."Jam 01.00 WIB kami bawa ke RS. Terakhir dia sadar dan panggil nama Bunda (ibunya). Setelah itu dia pingsan. Dokter sudah menekan-nekan dadanya. Saya tidak tega melihatnya. Saya istighfar. Tak lama kemudian, anak saya meninggal," kata Eri sambil menghapus air matanya.
Rasa sedih berkecamuk di hati Eri. Dia pun langsung membawa pulang anak kesayangannya buat disemayamkan di Jalan Pangeran Hidayat, Gang Nikmat nomor 57, Kelurahan Kota Baru Baru, Kecamatan Pekanbaru Kota. "Siang ini akan dimakamkan siang ini, di Tempat Pemakaman Umum (TPU) di dekat terminal AKAP, Arengka," ucap Eri.Aerli merupakan korban meninggal dunia ketiga akibat kabut asap. Di merupakan siswi kelas 3 Sekolah Dasar di Jalan Sumatera ini."Saya minta pemerintah bertanggung jawab atas hal ini. Jangan sampai ada korban lainnya berjatuhan, sudah cukup rasanya," keluh Eri kembali meneteskan air matanya.