Tantangan Siswa Berkebutuhan Khusus jika Kembali Belajar di Kelas
Merdeka.com - Sejumlah sekolah di Indonesia memulai uji coba pembelajaran tatap muka. Namun, uji coba tersebut sulit dilakukan untuk Sekolah Luar Biasa (SLB).
Sihman, guru dari SLBN 8 Jakarta mengaku pihak sekolah masih belum mempertimbangkan melakukan uji coba pembelajaran tatap muka. Alasannya, para murid SLB sangat sulit menjalani batasan-batasan ketat pencegahan penularan Covid-19.
"Ini anak berkebutuhan khusus, Sulit yah kita untuk melakukan itu (pembelajaran tatap muka)," ujar Sihman kepada merdeka.com, Sabtu (10/4).
Meski demikian, jika pihak berwenang dalam hal ini Dinas Pendidikan atau Dinas Kesehatan mempersilakan kegiatan belajar mengajar dilakukan di kelas, pihak sekolah akan menyanggupinya dengan prosedur yang telah ditentukan.
"Karena anak-anak berkebutuhan khusus itu tentu tidak sama yah dengan anak-anak bersekolah di sekolah reguler tapi seandainya kita diminta untuk tatap muka insya allah kita tetap siap," tandasnya.
Satu syarat dari uji coba pembelajaran tatap muka yaitu para guru telah mendapat suntikan vaksin Covid-19. Namun, muncul pertanyaan bagaimana dengan para murid SLB dengan memilik kebutuhan khusus.
Juru Bicara Vaksinasi Covid-19, dr. Siti Nadia Tarmizi mengatakan hingga saat ini belum ada keputusan vaksinasi terhadap anak-anak. Namun ia menegaskan, tidak ada perlakuan berbeda penyuntikan vaksin terhadap anak-anak berkebutuhan khusus.
"Semua kelompok, tentu pada waktunya kalau vaksin pada anak sudah bisa digunakan. Kita menunggu rekomendasi WHO tentang vaksinasi pada anak dan vaksin apa saja yang bisa digunakan," ujar Nadia.
"Tidak ada pembeda (vaksinasi anak-anak berkebutuhan khusus)," kata Nadia.
(mdk/ded)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya