Sungai Citarum meluap berujung banjir, 2 warga tewas

Banjir juga memutus akses jalan Bandung-Majalaya. Warga setempat juga kesulitan.

Aryo Putranto Saptohutomo
Sungai Citarum meluap berujung banjir, 2 warga tewas
Ilustrasi Banjir. ©2015 Merdeka.com

Banjir akibat meluapnya Sungai Citarum di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, sejak Selasa (8/3) hingga Minggu (13/3) dini hari, menelan korban jiwa. Tercatat dua orang meninggal dalam bencana itu, dan 24 ribu jiwa terdampak.Korban meninggal adalah Risa (13). Warga Kampung Ciburuy, Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot itu meregang nyawa akibat tersengat listrik saat banjir. Sedangkan Ela (40), warga Kampung Sawahluhur, RW 10, Desa Sukasari Kecamatan Pameungpeuk, meninggal akibat terseret arus."Tiga orang yang hilang adalah suami Ibu Ela dan kedua anak perempuan dari Ibu Ela. Saat banjir, mereka mengungsi ke bangunan di tepi sungai yang kemudian roboh," tulis Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, Minggu (13/3).Sutopo mengatakan saat ini tim BPBD dan Basarnas masih melakukan pencarian. Dia mengatakan, puncak hujan deras di kawasan itu terjadi pada Sabtu (12/3) sejak pukul 16.00 WIB hingga 19.30 WIB.Sejumlah perahu kini disiagakan di sejumlah wilayah rawan banjir di kawasan Baleendah dan Dayeuhkolot, Kota Bandung, menyusul debit air Sungai Citarum terus meningkat akibat hujan deras di bagian hulu."Perahu selalu ada dan siap, pasalnya banjir sekarang sulit diprediksi, kadang langsung naik. Perahu satu-satunya alat transportasi untuk menembus banjir," kata Munawar, warga Kampung Andir, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung.Warga di kawasan rawan banjir mengaku senang bila bantuan diberikan dalam bentuk perahu, meski hanya digunakan pada saat musim banjir. Perahu membuat warga terbantu menembus banjir terkadang ketinggiannya lebih dari satu meter.Hujan deras mengguyur kawasan hulu Sungai Citarum dan anak sungainya mengakibatkan genangan banjir kembali terjadi di Cieunteung dan Andir, Kecamatan Baleendah, serta di Desa Cipagalo, Kecamatan Bojongsoang."Bahkan jalan Bojongsari sejak beberapa hari lalu tergenang banjir sehingga untuk menembus banjir harus menggunakan perahu," kata Wanda, salah seorang tukang ojek di perempatan Bojongsari.Genangan banjir luapan sungai Citarum menggenang kawasan Cieunteung, dan sebagian di daerah Andir, terutama di daerah muara Sungai Cisangkuy dengan Sungai Citarum.Sementara air akibat hujan deras juga kerap merendam sejumlah jalan raya di kawasan Bandung selatan. Salah satunya di kawasan perbatasan Kecamatan Majalaya dan Ciparay. Jalan sepanjang hampir satu kilometer kerap menjadi sungai pada saat hujan deras, akibat luapan sungai yang tidak bisa menampung debit air dari pegunungan.Akibat banjir air bah itu, jalan terendam dan tidak bisa dilintasi oleh kendaraan, khususnya sepeda motor dan kendaraan kecil. Padahal, jalan itu merupakan jalur utama menghubungkan Bandung dengan Majalaya.Daerah-daerah terendan banjir meliputi Kecamatan Cicalengka, Rancaekek, Cileunyi, Solokan Jeruk, Majalaya, Ciparay, Baleendah, Dayeuhkolot, Bojongsoang, Pameungpeuk, Banjaran, Arjasri, Cangkuang, Katapang dan Kutawaringin. Sutopo menyebutkan, berdasarkan data sementara hasil kaji cepat BPBD Kabupaten Bandung, sebanyak 5.900 Kepala Keluarga (24 ribu jiwa) terdampak banjir, dan lebih dari tiga ribu jiwa mengungsi."Tinggi banjir sekitar 80 - 300 centimeter. Daerah di sekitar bantaran sungai Citarum dan cekungan tinggi banjir mencapai tiga meter," lanjut Sutopo, seperti dilansir dari Antara.Sutopo menambahkan, hujan deras pada Sabtu (12/3) juga menyebabkan longsor di Kampung Lemburkebon RT 3/RW 7 Desa Padasuka, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung. Satu rumah rusak berat tertimbun longsor."Tidak ada korban jiwa. Penghuni rumah berhasil menyelamatkan diri meskipun rumah tertimbun material longsor seluruhnya," tambah Sutopo.Sutopo mengatakan, saat ini mereka mengungsi ke kerabat terdekat. Sementara itu, angin kencang saat hujan juga merusak beberapa rumah di Desa Rancatungku, Kampung Mengger RW 03 dan RW 04."Upaya BPBD saat ini masih melakukan evakuasi dan penyelamatan korban. Pengungsi ditempatkan di beberapa lokasi seperti Kantor Kelurahan Baleendah, Gedung Inkanas, GOR SKB, Gedung Juang, Gedung PDIP, Kantor Kecamatan Dayeuhkolotkolot, Kantor Camat Baleendah, masjid Al Sofia dan sarana-prasarana umum lainnya di tiga kecamatan," lanjut Sutopo.Kepala BNPB, Willem Rampangilei, telah memerintahkan Tim Reaksi Cepat BNPB mendampingi BPBD dan memberikan bantuan untuk penanganan darurat banjir. Bupati Bandung juga sedang menyiapkan status darurat banjir."Kebutuhan mendesak saat ini adalah permakanan untuk memenuhi kebutuhan dasar pengungsi, air bersih, pakaian, obat-obatan dan dana siap pakai untuk operasional penanganan darurat," imbuh Sutopo.Daerah di sekitar hulu Sungai Citarum yang meliputi Majalaya, Ciparay, Baleendah, Dayeuhkolot, Bojongsoang, dan lainnya yang saat ini terendam banjir adalah daerah rawan banjir."Kondisi topografinya merupakan cekungan seperti mangkuk, namun wilayah ini telah berkembang menjadi permukiman dan kawasan industri yang padat penduduknya," kata Sutopo.Sungai Citarum, lanjut Sutopo, juga mengalami pendangkalan dan penyempitan sehingga mudah meluap. Hal itu diperparah dengan rusaknya daerah aliran sungai di bagian hulu, sehingga banjir tahunan selalu berulang."Berbagai upaya pengendalian banjir telah dilakukan, baik upaya struktural dan non struktural. Namun upaya ini kalah cepat dibandingkan dengan faktor-faktor penyebab banjir, sehingga banjir belum dapat dituntaskan," tutup Sutopo.

Rekomendasi