Sosiolog UI Ingatkan Negara Tak Abai Kasus Warga Kelaparan Saat Pandemi Covid-19

"Jangan sampai musibah ingin menghindar dari corona terus justru datangkan musibah baru yaitu kelaparan. Kami tak rela negeri ini, saudara kita karena ingin hindari virus tapi kemudian dia terancam kelaparan itu," kata Imam.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Sosiolog UI Ingatkan Negara Tak Abai Kasus Warga Kelaparan Saat Pandemi Covid-19
Imam Prasodjo. ©2015 merdeka.com/dwi narwoko

Sosiolog Universitas Indonesia (UI) Imam Prasodjo memperingati negara agar tidak abai dengan membiarkan siapa pun warga Indonesia kelaparan di saat pandemi Covid-19. Jika hal itu terjadi, maka selain berjibaku dengan Covid-19, negara akan menghadapi musibah baru yaitu kelaparan.

"Jangan sampai musibah ingin menghindar dari corona terus justru datangkan musibah baru yaitu kelaparan. Kami tak rela negeri ini, saudara kita karena ingin hindari virus tapi kemudian dia terancam kelaparan itu," kata Imam di Graha BNPB Jakarta, Kamis (23/4).

Imam mengamini Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB membuat sejumlah pekerja dirumahkan. Terputusnya mata pencarian masyarakat sehingga daya beli ekonomi terjun bebas.

"PSBB juga mengakibatkan berhentinya roda perekonomian warga yang mencari nafkah sehari-hari. Hal itu dirasakan secara langsung baik tak langsung," jelas dia.

Imam mendorong rasa solidaritas seluruh masyarakat tidak hanya di level bantuan negara saja. Kepada mereka yang masih merasa mampu, agar dapat membantu berputarnya roda ekonomi masyarakat kecil terdampak.

"Solidaritas kepada orang yang terimbas, solidaritas pada mereka yang terhenti nafkahnya, karena kita lakukan PSBB itulah yang seharusnya kemudian digalang," ujar Imam.

Kasus kelaparan belakangan ditemukan di Kecamatan Gelumbang, Muara Enim, Sumatera Selatan. Saat itu kakak beradik bernama Daluna (23) dan Rohima (21) ditemukan TNI dan polri dalam kondisi kelaparan.

Namun kondisi mereka tidak seperti diviralkan di media sosial. Kapolres Muara Enim AKBP Donni Eka Syahputra mengungkapkan, dari keterangan Kepala Desan (Kades) dan warga setempat, Daluna dan Rohima tinggal bersama saudara laki-lakinya yang seorang pengangguran. Orangtua mereka sudah tidak ada, dan dua kakak beradik itu diketahui punya keterbelakangan mental.

"Sekarang sudah dirawat di RS Gelumbang dan akan dirujuk ke rumah sakit Kabupaten Muara Enim," kata Donni saat dihubungi Liputan6.com, rabu 22 April 2020.

Donni membantah kabar yang beredar di media sosial yang mengatakan keduanya kelaparan sejak lama. Menurut pengakuan warga sekitar, keduanya rutin mendapat bantuan dari tetangga, dan memang selalu bertanya nasi setiap ada orang berkunjung ke rumahnya.

Milenial Tunda Kegiatan Nongkrong Demi Cegah Covid-19

Dalam kesempatan yang sama, Imam meminta kelompok milenial untuk setop sementara hobi nongkrong. Sehingga mata rantai penyebaran Covid-19 diputus.

"Nongkrong melibatkan kerumunan sangat berbahaya. interaksi menimbulkan Viral Loud di suatu ruangan atau tempat," kata Imam.

Imam menjelaskan, viral load adalah jumlah virus dalam sampel, terutama darah seseorang atau cairan tubuh. Pengertian lain adalah, akumulasi percikan liur dalam jumlah besar.

"Saat kerumunan Viral Loud jadi ada percikan-percikan karena kita bicara teriak, nyanyi-nyanyi, tertawa terbahak-bahak, percikan itu akumulasi terkumpul di suatu ruangan," jelas Imam.

"Viral Loud kumpulan percikan yang besar jika masuk tubuh ke anak muda dia akan tumbang kerumunan sangat bahaya, jadi hindarkan Viral Loud," jelas Imam.

Dia berpesan dan memohon kepada anak muda untuk sat ini sedapat mungkin menahan keinginan nongkrong. Sebab bila jika budaya nongkrong terus berlanjut, maka makin sulit memutus mata rantai virus corona.

"Mudah-mudahan ini pesan khusus anak muda yang saat ini saya tahu sering kali tidak tahan untuk bertemu temannya, tak tahan tidak kumpul. Tapi lihat apa yang akan terjadi kalau misalnya ini kita abaikan itu saja," tegas Imam.

Reporter: M Radityo

Sumber: Liputan6.com

Rekomendasi