Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Soal China akan Campur Beberapa Vaksin Covid-19, Pemerintah Tunggu Hasil Uji Klinis

Soal China akan Campur Beberapa Vaksin Covid-19, Pemerintah Tunggu Hasil Uji Klinis pembuatan vaksin sinovac di china. ©REUTERS/Thomas Peter

Merdeka.com - Pemerintah China berencana mencampurkan beberapa vaksin Covid-19 yang berbeda untuk meningkatkan efektivitas vaksin Covid-19. Langkah ini dipertimbangkan China usai mengakui kemanjuran vaksin Covid-19 Sinovac rendah.

Berdasarkan hasil uji klinis fase tiga di Brasil, efektivitas vaksin Sinovac hanya 50,4 persen. Sementara hasil analisis interim uji klinis di Bandung menunjukkan efikasi Sinovac sebesar 65,3 persen.

"Tentang adanya rencana pemerintah China mencampur vaksinnya, kita tunggu saja," kata juru bicara vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi dalam konferensi pers, Senin (12/4).

Menurut Nadia, mencampurkan beberapa vaksin Covid-19 untuk meningkatkan efektivitasnya harus melalui uji klinis. Dengan uji klinis, inovasi untuk meningkatkan efektivitas vaksin Covid-19 akan diuji.

"Ini kan masih harus melalui berbagai uji klinis untuk memastikan bahwa ide ataupun inovasi ini memiliki efektivitas, memiliki imunogenitas serta efikasi lebih baik mungkin dibanding kondisi saat ini," jelasnya.

Nadia menyebut, pemerintah Indonesia akan mengambil sikap setelah China melakukan uji klinis pencampuran beberapa vaksin Covid-19 berbeda.

"Kita tunggu saja dulu sampai mereka menyelesaikan tahap uji klinisnya sampai dengan tahap publikasi baru kita bisa pertimbangkan apakah jenis tersebut ataupun kebijakan tersebut bisa kita gunakan dalam pelaksanaan vaksinasi kita," tandasnya.

China Gagas Vaksin Covid-19 Digabung

Direktur Pusat Pengendalian Penyakit China Gao Fu dalam jumpa pers dua hari lalu di Kota Chengdu mengakui vaksin Covid-19 buatan negaranya mempunyai efektivitas yang rendah. Pemerintah China mempertimbangkan mengkombinasikan vaksin untuk memberi perlindungan yang lebih baik.

Sejauh ini China sudah mendistribusikan ratusan juta vaksin ke berbagai negara.

"Saat ini sudah dalam pertimbangan apakah kita akan memakai vaksin dari jalur teknis yang berbeda untuk proses imunisasi," kata Gao, seperti dilansir laman Aljazeera, Minggu (11/4).

Efektivitas vaksin Sinovac buatan China dalam mencegah penularan dengan gejala hanya mencapai 50,4 persen, menurut para ahli di Brasil. Sebagai perbandingan, vaksin yang dibuat Pfizer-BioNTech mencapai 97 persen efektivitasnya.

Hingga kini Beijing belum menyetujui vaksin buatan asing untuk digunakan di China.

Gao memang tidak merinci rencana pengubahan strategi pemakaian vaksin lain, namun dia menyebut teknik mRNA yang sudah diuji coba oleh sejumlah produsen vaksin negara Barat, sementara China selama ini membuat vaksin dengan teknologi tradisional.

"Semua harus mempertimbangkan keuntungan vaksin mRNA bagi kemanusiaan," kata Gao. "Kita harus mengikuti ini dengan cermat dan tidak mengabaikannya hanya karena kita sudah punya sejumlah vaksin."

mRNA

Gao sebelumnya pernah mempertanyakan efektivitas vaksin mRNA. Media pemerintah Xinhua sempat mengutip pernyataan Gao pada Desember lalu yang menyebut dia tidak akan mengabaikan efek samping dari vaksin mRNA karena teknik itu baru pertama kali digunakan.

Sejumlah media China dan blog yang membahas kesehatan dan sains juga mempertanyakan keamanan dan efektivitas vaksin Pfizer-BioNTech yang memakai teknik mRNA.

Gao mengatakan hingga 2 April lalu sudah 34 juta warga China mendapat dua dosis vaksin buatan China dan 65 juta baru mendapat satu dosis.

Para ahli mengatakan menggunakan kombinasi vaksin atau imunisasi sekuensial, bisa meningkatkan efektivitas vaksin. Sejumlah uji coba di seluruh dunia kini tengah mencoba kombinasi vaksin.

Para peneliti di INggris kini tengah meneliti kemungkinan kombinasi vaksin Pfizer-BioNTech dengan AstraZeneca.

(mdk/gil)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP