Sepi Pengunjung, Hotel di Depok Bersedia Jadi Tempat Isolasi Pasien Covid-19

"Ini dari manajemen. Kita enggak bisa jawab. Mungkin juga kondisi sekarang ini kan sepi juga mungkin kalau dipakai itu ada pendapatan lah karyawan kita kan juga. Enggak semua dipakai (kamar)," ujar dia.

Nur Fauziah
Oleh Nur Fauziah - Reporter
Sepi Pengunjung, Hotel di Depok Bersedia Jadi Tempat Isolasi Pasien Covid-19
Ruang Isolasi Pasien Covid-19. ©2020 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

Salah satu hotel di Depok bersedia menjadi tempat isolasi bagi pasien Covid-19 berstatus orang tanpa gejala. Hotel tersebut bersedia menerima tawaran pemerintah karena okupansi hotel tersebut sangat kecil.

"Ya betul. Yang mengajukan dari perusahaan sekitar 3-4 hari lalu. Dari PHRI Jawa Barat mengajukan ke kita. Kita isi data-datanya bersedia, gitu," kata Manajemen Hotel Sifaana Depok, April ketika dikonfirmasi, Selasa (22/9).

April mengatakan hotel bakal menjadi tempat isolasi bagi pasien Covid-19 dengan gejala ringan atau tanpa gejala. Salah satu alasannya juga untuk menutupi biaya operasional karena okupansi hanya 15 persen saja.

"Ini dari manajemen. Kita enggak bisa jawab. Mungkin juga kondisi sekarang ini kan sepi juga mungkin kalau dipakai itu ada pendapatan lah karyawan kita kan juga. Enggak semua dipakai (kamar)," ujar dia.

Sejak pandemi Covid-19, kata April, Hotel Sifaana merugi. Karena menajemen harus tetap membayar karyawan, namun tidak ada pemasukan dari tamu yang biasa berkunjung.

"Iya (untuk pemasukan). Sekarang ini kan kita rugi untuk operasional, bayar karyawan. Sudah turun jauh, hancur, okupansinya cuma 15 persen sekarang. Januari dan Februari masih mending. Tapi sudah ke sananya sudah ancur. Maret kita sudah tutup Pertengahan Maret sampe Juli," ucapnya.

Kamar yang tersedia di Hotel Sifaana sekitar 50 unit. Harga rata-rata per kamar Rp300ribu. Untuk saat ini kata April pihak manajemen masih menunggu keputusan dari pemerintah apakah hotelnya diberi izin atau tidak. Ditegaskan bahwa pihak manajemen hanya bersedia menerima pasien dengam gejala ringan saja.

“Sampai saat ini belum (ada keputusan). Kayak OTG itu kita masih berani mau. Cuma APD-nya yang sulit,” tutupnya.

Rekomendasi