Video insiden tewasnya santri RAP (16) di Berau, Kalimantan Timur, dalam atraksi dilindas mobil pikap jadi viral. Video berdurasi 2 menit 50 detik, yang memperlihatkan detik-detik pikap melindas korban, tersebar luas. Bupati Berau Muharram, termasuk yang menyaksikan sendiri peristiwa itu.
"Saya hadir di acara itu sebenarnya. Tapi saya tidak tahu sejauh itu (ada korban meninggal). Saya pikir, yang mau dilindas itu sudah terbiasa. Istilahnya sudah kerjaan sehari-hari," kata Muharram kepada wartawan saat berada di Kecamatan Gunung Tabur, Berau kemarin.
Muharram mengaku menyaksikan atraksi saat pikap melindas punggung korban dan lima peserta lainnya. Dia menyaksikan sebagai tamu undangan. "Cuma, begitu selesai acara, karena ada dua anak tidak bisa bangkit, langsung penuh orang berkerumun. Saya tidak lihat lagi apa yang terjadi," ujar Muharram.
"Masuklah saya ke dalam. Saya pikir kan kejadian biasa, hanya insiden kecil. Ternyata, satu jam kemudian, setelah saya tinggalkan tempat itu dapat laporan meninggal," tambah Muharram.
Muharram menegaskan, insiden itu, menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. "Dan itu, tidak perlu dilakukan lagi. Perbuatan itu, buat saya, sangat-sangat tidak substantif dengan tujuan pendidikan Islam sendiri," ujar Muharram.
Dia mengimbau siapapun memahami benar ajaran Islam. "Secara ilmu syariah. Itu sebetulnya berdasarkan sunnatullah tidak ada namanya kebal. Nabi Muhammad saja, ketika misalnya ditombak, beliau pun berdarah-darah. Nabi yang disayangi dan dicintai Allah, tetap berikhtiar sebagai manusia," ungkap Muharram.
"Buat saya, kalaupun ada yang kebal, yakinilah di situ sesungguhnya ada syaitan, di situ ada syaitan. Ada pengaruh syaitan. Tidak benar itu bahwa itu kebal. Saya imbau lembaga pendidikan manapun, janganlah ajari anak-anak kita dengan cara-cara seperti ini. Pasti sudah ada kesyirikan di dalamnya," terang Muharram.
Masih menurut Muharram, pondok pesantren itu sebenarnya tidak melakukan pembinan dalam melakukan atraksi itu. "Itu adalah perguruan pencak silat. Dia (korban) didatangkan dari Samarinda," sebut Muharram.
"Saya garis bawahi itu bukan kesalahan Ponpes. Tapi ada orang yang mau menyumbangkan acaranya di situ (berasal dari kelompok pencak silat)," demikian Muharram.
Diketahui, RAP meregang nyawa setelah beratraksi bersama lima temannya, dengan cara dilindas mobil pikap, Kamis (3/5) pagi. Pertunjukkan itu untuk menghibur acara wisuda dan perpisahan siswa salah satu MTs di kecamatan Sambaliung. Usai dilindas, RAP sempat tidak sadarkan diri.
Dia lantas dibawa ke RSUD Abdul Rivai, dan dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit. Diperkirakan, RAP meregang nyawa di perjalanan ke rumah sakit. Sementara sejumlah temannya luka-luka. Polisi pun menetapkan dua tersangka sebagai penanggung jawab kegiatan dan juga sopir mobil pikap.