Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

RSUZA Banda Aceh Kekurangan Alat RICU, Butuh Dana Rp15 Miliar

RSUZA Banda Aceh Kekurangan Alat RICU, Butuh Dana Rp15 Miliar Rumah sakit karantina pasein corona di Aceh. ©2020 AFP PHOTO/CHAIDEER MAHYUDDIN

Merdeka.com - Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh menjadi salah satu rumah sakit rujukan untuk penanganan virus corona. Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah menginstruksikan pada RSUZA untuk melengkapi alat USG dan Bronkoskopi di ruang Respirating Intensive Care Unit (RICU) tersebut.

Tujuannya agar antisipasi dan penanganan bisa dilakukan tanpa kendala. Beberapa syarat ruang penanganan corona sudah terpenuhi. Di antaranya ruangan berventilator dan ketersediaan monitor untuk melihat langsung kondisi pasien tanpa harus terlibat kontak langsung secara intensif.

Nova tegaskan, Pemerintah Aceh siap menangani pasien-pasien teridentifikasi penularan COCID-19. Sementara alat yang belum lengkap di ruangan penanganan suspect corona adalah USG dan bronkoskopi. Kedua alat ini diharuskan adalah alat baru yang khusus dipakai di ruangan RICU.

"Harganya ditaksir Rp15 miliar. Harusnya tidak ada alasan (tidak ada anggaran). Jika terjadi apa-apa kita pasti akan menyesalinya," kata Nova di Banda Aceh, Kamis (12/3).

Kata Nova, secara prinsip pemerintah Aceh siap menghadapi penanganan COVID-19. Pihak RSUZA sudah membuat SOP khusus sesuai petunjuk Menkes dan Presiden.

Menurut Nova, USG (Ultrasonography) diperlukan untuk memantau frekuensi dan memproduksi gambar tubuh bagian dalam pasien. Sementara bronkoskopi adalah alat untuk memvisualisasikan bagian dalam saluran pernapasan, laring dan paru-paru.

Alat ini dipakai dokter untuk mendiagnosis kelainan saluran pernapasan dengan cara memasukkan ke dalam saluran pernapasan melalui hidung atau mulut.

Nova mengaku akan berpikir untuk mencari solusi agar anggaran pengadaan dua alat ini tidak menyalahi aturan. "Barangkali ada jalan pintas di pengaturan keuangan yang bisa kita ambil, mungkin pintunya bisa force majure (keadaan memaksa)," kata Nova.

Nova juga meminta mereka yang menangani pasien suspect Covid-19 agar diberikan intensif yang maksimal. "Kalau enggak ada aturan yang ditabrak, berikan kepada mereka. Supaya psikologi mereka terbantu," kata Nova.

Selain itu, Nova juga meminta agar petugas karantina memeriksa kesehatan masyarakat yang melintasi pintu masuk Aceh khususnya di bandara.

Sementara itu Direktur RSUZA, Banda Aceh, dr Azharuddin menyebutkan, RSUZA punya enam kamar untuk perawatan bagi pasien suspect corona. Dokter, perawat hingga petugas kebersihan ruangan yang berkontak langsung dengan pasien suspect akan dikarantina selama dua pekan sebelum dibolehkan pulang ke tempat asal. Pihak rumah sakit menyediakan satu bangsal.

"Siapa yang berkontak dengan pasien tidak boleh pulang. Dievaluasi selama dua minggu di sini," kata Azharuddin.

Azharuddin menyebutkan, sekarang ada dua pasien dengan status diduga suspect corona di Aceh sedang diisolasi di RSUZA, Banda Aceh. Sebelumnya sudah diperiksa 10 orang dan hanya dua diduga suspect. Sampel dari dua orang diduga suspect sudah dikirim ke Litbangkes Kementerian Kesehatan di Jakarta.

Delapan orang yang juga sempat diperiksa dinyatakan negatif dan sudah dipulangkan. Setelah dilakukan pemeriksaan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan, hanya dua orang yang diduga suspect.

"Sampel sudah dikirim ke Jakarta (Litbangkes), sekarang sedang menunggu hasil dari sana," kata Azharuddin.

(mdk/cob)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP