Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Polresta Depok tetapkan 4 tersangka perampasan, semuanya anak putus sekolah

Polresta Depok tetapkan 4 tersangka perampasan, semuanya anak putus sekolah Pelaku perampasan di Depok. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Penyidik Polresta Depok menetapkan empat tersangka kasus perampasan yang terjadi di Jalan Dewi Sartika, Pancoran Mas, Depok, Selasa (24/4). Keeempatnya adalah Rizki (18), WK (17), RK (17) dan FD (17). Mereka diamankan dari sebuah rumah di kawasan Jatijajar, Cimanggis Depok.

"Penyidik setelah melakukan penangkapan tujuh orang dan memeriksa juga memadukan alat bukti baik saksi maupun alat bukti, akhirnya kami tetapkan empat orang sebagai tersangka," kata Kapolresta Depok Kombes Pol Didik Sugiarto, Kamis (26/4).

Mereka terlibat langsung dalam tindakan perampasan di dua lokasi pada malam yang sama. Yaitu di Jalan Dewi Sartika dan warung kopi di Beji, Depok.

"Dari empat tersangka, tiga di antaranya terlibat langsung dalam aksi yang terjadi di Pancoran Mas. Mereka merampas ponsel dan minta uang. Kemudian dilanjut memeras di kawasan Beji di warung kopi yang dilakukan lima orang," paparnya.

Saat ini keempat pelaku diamankan di Polresta Depok untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sedangkan tiga lainnya dikembalikan kepada orang tua.

"Dari empat tersangka itu, di antaranya berusia di bawah umur. Satu orang sudah dewasa," paparnya.

Mengenai peranan masing-masing, saat ini polisi masih menyelidiki lebih dalam. ‎Penyelidikan sementara, yang membacok korban di Jalan Dewi Sartika adalah WK. Adegan itu terekam CCTV.

"Ada yang membonceng, ada yang mempersiapkan diri untuk melarikan diri setelah aksi. Kemudian ada yang mengawasi situasi," pungkasnya.

Didik memastikan para pelaku bukan dari geng motor. Mereka adalah kelompok pemuda yang biasa nongkrong di Cimanggis.‎

"Hasil penyelidikan ini bukanlah geng motor. Mereka anak putus sekolah dan berkumpul dalam satu daerah. Kemudian melakukan penyimpangan norma sosial, agama dan hukum," katanya.

Anak-anak itu kerap berkumpul bersama. Kemudian mereka kerap berjanjian jalan muter. "Ketika melintas dan dilihat ada sasaran maka mereka bertindak. Jadi sasarannya random," tukasnya.

Bahkan mereka kerap berjanjian untuk tawuran. Ketika ada rekannya yang berselisih paham maka mereka kerap menyelesaikan dengan tawuran. "‎Mereka biasa lakukkan tawuran antarkelompok. Ketika ada angota selisih, diselesaikan dengan tawuran," ungkapnya.

(mdk/cob)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP