Masyarakat terus diingatkan menghargai perbedaan. Untuk itu perlu adanya penguatan toleransi dan moderasi beragama agar tidak terjadi praktik intoleransi.
Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Romo Antonius Benny Susetyo mengatakan, penguatan toleransi harus menjadi prioritas. Masyarakat perlu diberi pemahaman secara utuh demi mewujudkan perdamaian sesama umat.
"Ini membantu seseorang untuk mencintai, menghargai dan menerima perbedaan sebagai rahmat. Juga memberikan pemahaman bahwa perbedaan keyakinan tidak membuat jarak, namun justru mempersatukan untuk saling menghargai meski berbeda," ujar Benny dalam keterangannya, Jumat (7/1).
Menurutnya, persoalan intoleransi memang kerap terjadi dalam lingkungan masyarakat majemuk karena dipengaruhi kurangnya pemahaman beragama. Benny berharap di tahun 2022 ini toleransi dapat menjadi hal yang mempengaruhi cara berpikir, bertindak dan bernalar.
"Sehingga kita dapat beragama sesuai jaminan konstitusi di mana semua orang berhak menjalankan agama, dan saya berharap pelarangan (beribadah) itu tidak terjadi lagi," tuturnya.
Benny mengungkapkan pentingnya mencegah tindak intoleransi untuk mengembalikan karakter luhur bangsa hidup rukun berdampingan dalam bingkai toleransi. Pertama, dia mendorong perlu ditegakkan regulasi di mana hukum menjadi supremasi.
"Jadi kalau ada kasus intoleransi yang tidak sesuai dengan UUD 45 dan Pancasila itu harus diproses dan ditindak," tegasnya.
Kedua, lanjutnya, penyelesaian melalui musyawarah mufakat serta berdialog mendorong kesadaran kembali menjadi saudara sebangsa dan setanah air. Terakhir, Benny juga menyampaikan pentingnya dukungan dan peran dari para tokoh agama maupun tokoh masyarakat.
"Peran tokoh sangat penting, mereka harus bisa mengaktualisasikan nilai-nilai kemajemukan dan keragaman. Komitmen kepada keutuhan hidup berbangsa dan bernegara," tandasnya.