Membangun kota kelahiran dengan pendidikan tanpa pamrih

Danur memang ingin membaktikan ilmu dan diri bagi dunia pendidikan.

Nurul Tirsa Sari
Oleh Nurul Tirsa Sari - Reporter
Membangun kota kelahiran dengan pendidikan tanpa pamrih
Pendidikan Indonesia. ©2013 Merdeka.com

Wanita kelahiran 4 Agustus 1989 ini memiliki motivasi yang kuat untuk bisa membangun desa dan bangsa lewat di dunia pendidikan. Nur Saudah Al Arifa D. atau yang kerap disapa Danur ini merupakan sarjana lulusan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian.Sarjana Strata 1 ini memiliki cita-cita mulia untuk mengembangkan pendidikan di wilayah terpencil. Sejak awal 2011, dia mendirikan Gadjah Mada Mengajar yang terus berkembang hingga saat ini dan diteruskan oleh para mahasiswa aktif, yang juga memiliki tujuan serupa dengan Danur.Tidak berhenti sampai di sana, pada awal 2015 mahasiswi yang tengah menyelesaikan tesisnya ini mendirikan komunitas serupa di daerah kampung halamannya, Wonosobo, yang kemudian diberi nama Wonosobo Mengajar."Membangun Wonosobo mengajar karena pendidikan di sana berada di tingkat yang paling bawah, dan untuk bangun desa. Makanya dengan begitu memutuskan untuk membangun wonosobo mengajar. Selain itu, karena saya asli orang Wonosobo, saya jadi merasa punya tanggung jawab moral untuk membangun di sana, agar semua bisa maju, bukan hanya kita sendiri yang maju," kata Danur saat dihubungi via telepon oleh merdeka.com, Rabu (11/9).Sampai saat ini dalam salah satu programnya Wonosobo mengajar sudah mendampingi empat SMA untuk menuntun lulusan SMA yang tidak mampu agar dapat bisa melanjutkan pendidikannya ke universitas."Anak-anak SMA yang tidak mampu nggak boleh putus harapan, jadi kita dampingi hingga diterima dan dapat beasiswa. Saat ini kita sudah berhasil pegang 4 sekolah, yakni SMA 2 Wonosobo, SMA 1 Sapuran, SMA 1 Kretek, dan SMA 1 Mojotengah. Sejauh ini universitas yang jadi pilihan favorit masih di UGM, UNDIP, dan UNY," ujar Danur.Mahasiswi S2 di Magister Managemen Agribisnis melalui program beasiswa Calon Dosen BPPDN Dikti ini juga selalu menyempatkan dirinya di waktu luang untuk mengajar dan memberikan motivasi kepada anak-anak sekolah dan kepada rekan-rekannya. Kesibukan dalam penelitian dan tesisnya pun turut menjadikan semangat untuk dirinya sendiri. Mengingat kegiatannya sehari-hari dan pada waktu luang merupakan bekalnya untuk kelak mengajar di daerah 3T setelah lulus dari program magisternya."Selama ada waktu luang, kita manfaatin untuk itu (mengajar dan beri motivasi), buat saya belajar juga. Karena setelah lulus harus mengabdi di kampus daerah 3T, kurang lebih tiga tahun. Ini karena saya dapat beasiswa S2 untuk dosen dari dikti," ucap Danur.Merasa punya tanggung jawab atas bangsanya, anak bungsu dari delapan bersaudara ini pun berusaha ikhlas mengisi waktu luangnya dengan berbagi ilmu, meski tak ada upah yang dia dapatkan dari sana."Merasa punya kewajiban untuk mengajar, mendidik, dan membangun bangsa. Dan, Ya semua memang volunteer, selama bisa saya jalanin, pasti saya penuhi," ujarnya sambil sedikit tertawa di ujung telepon.Pengalamannya dalam mengajar pun tidak usah diragukan lagi. Dia sudah menjelajah beberapa daerah untuk mengabdikan dirinya cuma-cuma."Kalau yang di Papua itu saya ikut program MSD dari Dompet Duafa, tepatnya di Timika, akhir 2012. Selain itu juga saya mengajar di pedalaman Jogja, Blora dan cukup lama di Blora, juga di Sumatera. Di Sumatera mulanya juga dari kerjaan, saya ngerjain proyek program air bersih, karena atasan saya tau, saya suka ngajar, dimintalah untuk sharing-sharing ke anak-anak di sana, dan saya suka itu," tambah Danur.

Rekomendasi