Makna kinang, telur asin, nasi liwet dan pecut di perayaan Sekaten

Makna kinang, telur asin, nasi liwet dan pecut di perayaan Sekaten. Penjual kinang, telur asin dan nasi liwet ini juga unik. Mereka umumnya hanya berjualan saat Sekaten saja. Tujuannya untuk mendapat tambahan rezeki.

Arie Sunaryo
Oleh Arie Sunaryo - Reporter
Makna kinang, telur asin, nasi liwet dan pecut di perayaan Sekaten
Telur asin dan nasi liwet di perayaan Sekaten. ©2016 merdeka.com/arie sunaryo

Bagi masyarakat Jawa khususnya Solo, perayaan Sekaten tak sekedar bermakna mempertahankan tradisi atau melestarikan budaya keraton saja. Namun banyak filosofi yang mengandung pelajaran hidup di dalamnya. Sebagai rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Keraton Kasunanan Surakarta, Sekaten tak bisa lepas dari pernak-pernik yang mengikutinya. Selain ditandai dengan keluarnya sepasang gamelan Kiai Guntur Sari dan Kiai Guntur Madu di Bangsal Pradangga Masjid Agung, pada sepekan sebelum puncak perayaan, Sekaten juga selalu disertai dengan pedagang dadakan yang mengikutinya. Mereka berjualan kinang (sirih), endog abang (telur asin), pecut dan nasi gurih atau nasi liwet.Sudarmi (56), salah satu penjual nasi liwet di halaman masjid Agung mengaku sudah lebih dari 15 tahun berjualan. Warga Desa Menuran, Baki tersebut tak pernah berjualan pada hari biasa. Dia yakin dengan berjualan nasi liwet, rezkinya akan bertambah, saat bekerja di rumah sebagai petani."Saya sehari-hari bertani sama suami mas, tidak pernah jualan nasi liwet. Hanya kalau pas sekaten saja, biar rezekinya bertambah, hasil pertaniannya melimpah, sehat dan lancar," ujarnya, Senin (5/12).Sementara itu Parto Sutinem (65), warga Gedangan, Grogol, Solo Baru, mengaku sudah 30 tahun berjualan kinang dan telur asin. Sama seperti Darmi dia juga hanya berjualan saat perayaan Sekaten."Kula sampun saking yuswa 30 sadean endog lan kinang wonten Sekaten mas (sudah sejak umur 30 tahun saya jualan telur dan kinang di Sekaten, mas)," ucapnya.Meski sudah renta dan lama berjualan, dia mengaku tak bosan berjualan. Dia percaya dengan berjualan dan mengunyah Kinang, selain baik untuk kesehatan juga membuat awet muda dan mendapatkan berkah dari Tuhan."Kajenge bagas waras, awet enom, angsal barokah saking Gusti Allah (biar sehat, awet muda, mendapat berkah dari Allah)," katanya.Wakil Pengageng Sasana Wilapa Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KP Winarna Kusumo mengatakan tradisi nginang yang dilakukan saat perayaan Sekaten mengandung makna tersendiri."Ketika nginang, maka bibir akan berwarna merah, yang bermakna berani. Ada sebagian lagi yang mengatakan warna merah melambangkan kesucian. Nginang saat Sekaten dapat berarti harus berani mengatakan hal-hal yang benar, mengucapkan sahadat, memeluk agama Islam sebagai agama suci," jelas pria yang akrab disapa Kanjeng Win itu.Sedangkan endhog abang atau telur merah atau telur asin yang juga selalu menyertai perayaan Sekaten, jelas Kanjeng Win, melambangkan nafsu amarah. Ketika kulit dikupas akan tampak warna putih dan kuning. Maka setelah menghadiri Sekaten dengan mengucapkan sahadat, harus dapat mengesampingkan nafsu amarah, menuju ke kesucian.Nasi gurih atau makanan gurih konon merupakan jenis makanan yang disukai Nabi Muhammad SAW. Di Arab Saudi, konon agar makanan terasa gurih, maka dimasak dengan menggunakan minyak mamin. Di Sekaten tradisi memakan nasi gurih hingga kini masih terpelihara. Namun nasi gurih di Sekaten berwujud nasi liwet, makanan khas Kota Solo."Kalau pecut atau cemeti merupakan lambang agar manusia dapat mengendalikan nafsu hewani, untuk meniti jalan kebenaran. Tradisi ini meniru sejarah Pangeran Mangkubumi pada masa silam, ketika beliau dimintai pertolongan rakyat yang sawahannya diserang hama. Beliau menyanggupi dan langsung mengusir hama dengan menggunakan sarana pecut atau cemeti pusaka Kyai Pamuk, tentu saja disertai dengan permohonan doa kepada Allah SWT," pungkasnya.

Rekomendasi