Polisi tidak menggunakan peluru tajam dalam mengamankan kericuhan aksi unjuk rasa menolak kenaikan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Jika aksi berlangsung ricuh, polisi hanya menggunakan tembakan gas air mata untuk membubarkan massa."Sesuai protap Polri dalam pengamanan kegiatan berdemonstrasi juga tidak menggunakan peluru tajam, ini sudah sesuai dengan aturan," kata Kabag Penum Div Humas Mabes Polri Kombes Agus Rianto di Gedung Mabes Polri, Jakarta Selatan saat menanggapi kericuhan demostrasi di wilayah Ternate dan Jambi, Senin (17/6).Penembakan gas air mata adalah tahap awal. "Kalau dilihat prosedur penggunaan senjata, tidak pada lokasi-lokasi mematikan, penggunaan senjata maksimal upaya terakhir, penggunaan senjata terakhir sifatnya melumpuhkan," ujar Agus.Aksi unjuk rasa menolak kenaikan BBM terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Sebagian besar, demo berujung ricuh seperti di Ternate, Maluku Utara dan Jambi.Polisi yang mengamankan aksi tersebut langsung melepaskan tembakan gas air mata ke arah demonstran untuk membuat situasi kondusif. Di Jambi, wartawan Trans7, Anton turut menjadi korban. Anton yang diduga terkena pecahan tabung gas air mata mengalami luka di bawah mata sebelah kanan.Sedangkan di Ternate, Maluku Utara terdapat enam orang. Di antaranya ada yang terkena paha kanan, telapak kaki kiri. "Untuk wartawan mengalami luka di pinggul kiri, dan ada juga paha kanan," tandas Agus.
Mabes Polri: Demonstran ricuh hanya ditembak pakai gas air mata
"Penggunaan senjata maksimal upaya terakhir, penggunaan senjata terakhir sifatnya melumpuhkan," ujar Agus.
Advertisement
Rekomendasi