Ledakan bom di Surabaya, Polda Sulsel koordinasi dengan polda berbatasan

Polda Sulsel bergerak cepat melakukan koordinasi dengan polda-polda berbatasan seperti Polda Sulawesi Tengah dan Polda Sulawesi Barat. Ini untuk mendeteksi dan antisipasi masuknya jaringan teroris.

Salviah Ika Padmasari
Oleh Salviah Ika Padmasari - Reporter
Ledakan bom di Surabaya, Polda Sulsel koordinasi dengan polda berbatasan
Bom Polrestabes Surabaya. ©Istimewa

Polisi dari seluruh daerah di Indonesia bersiaga setelah rentetan aksi teror bom yang mengguncang Surabaya. Termasuk di Mapolrestabes Surabaya yang terjadi pagi tadi, Senin (14/5). Polda Sulsel bergerak cepat melakukan koordinasi dengan polda-polda berbatasan seperti Polda Sulawesi Tengah dan Polda Sulawesi Barat. Ini untuk mendeteksi dan antisipasi masuknya jaringan teroris.

"Kita berkoordinasi dengan polda-polda berbatasan seperti Polda Sulteng dan Polda Sulbar hingga kapolres-kapolres, para karo ops, satgas Densus 88 di wilayah, BIN Daerah dan BNPT," kata Karo Ops Polda Sulsel Kombes Pol Stephen Napium saat ditemui wartawan usai pemusnahan miras di halaman belakang Mapolda Sulsel, Senin, (14/5).

Sulawesi Selatan sendiri punya sejarah kasus ledakan bom besar yakni Desember 2002 di restoran cepat saji Mc Donald, Makassar. Saat itu ada tiga korban tewas. Lalu pada Januari 2004, ledakan bom Sampoddo, Kabupaten Luwu, Sulsel dengan korban jiwa empat orang.

Dia menegaskan, pengamanan harus lebih diperketat lagi. Bhabinkamtibmas dan Babinsa dari TNI harus mampu menggalang komunitas-komunitas masyarakat untuk mendapatkan informasi lebih cepat dan akurat.

"Bukan hanya rumah-rumah ibadah, mako-mako kepolisian tapi juga objek vital yang selama ini melayani hajat hidup orang banyak yang jadi fokus pemantauan dan penjagaan," kata Kombes Polisi Stephen Napium.

Kasdam XIV/Hasanuddin Brigjen TNI Budi Sulistijono sudah memerintahkan anak buahnya untuk meningkatkan kewaspadaan. Dia meminta masyarakat memberi informasi jika ada hal yang mencurigakan.

"Kita perintahkan untuk selalu memantau, mendeteksi dini, memonitor segala perkembangan situasi di lapangan. Pengamanan dipertebal terutama satuan-satuan intelijen, satuan-satuan teritorial. Kalau misalnya sebelumnya pengamanan hanya satu jam sehari, kini pengamanan 24 jam," kata Brigjen TNI Budi Sulistijono.

Rekomendasi